Terlepas dari Halal Haramnya Musik

TENTANG MUSIK

31_6

QS. Luqman, 6 : “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

Ayat ini berbicara tentang musik. Kalau masih bingung, mana kata “musik”nya? silahkan buka tafsir ibnu katsir, QS. Luqman, ayat 6. Insya Allah metodologi penafsirannya sudah tidak diragukan lagi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

TENTANG ALAT MUSIK

Shahih Bukhari, vol 7, No. 5590 : “Sungguh benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik”.

 

BOLEHNYA REBANA DALAM ACARA PERNIKAHAN DIMAINKAN ANAK PEREMPUAN

Shahih Bukhari, vol 5, No. 4001 : Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghadiri acara pernikahan, beliau datang dan berkumpul bersama para sahabatnya, kemudian datang 2 orang anak kecil perempuan yang memainkan rebana. Mereka menyebutkan kebaikan-kebaikan para sahabat yang telah wafat di medan jihad (dalam perang badar).

Ketika salah satunya menyanjung Nabi (mengatakan Rasulullah mengetahui hari esok). Rasulullah berkata: “Tinggalkanlah ucapan tersebut, ucapkan saja yang tadi kau katakan.” Dalam hadits ini Rasulullah tidak melarang mereka memainkan rebana.

 

BOLEHNYA REBANA PADA HARI RAYA DIMAINKAN ANAK PEREMPUAN

Shahih Bukhari, vol 2, No. 987 : Hadits ini diberitakan oleh ‘Aisyah radhiallahu anha. Aisyah berkata bahwa ada dua orang anak perempuan yang bermain rebana sambil bernyanyi, ketika Abu Bakar radhiallahu anhu melihatnya, beliau menyuruh mereka berhenti.

Rasulullah berkata kepada AbuBakar: “Biarkanlah mereka melakukannya, karena sesungguhnya ini adalah hari raya.”

 

KECENDRUNGAN UNTUK TIDAK BER-

Tirmidzi, No.3690 : Ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah “Aku telah bernadzar kepada Allah, jika Anda (Rasulullah) kembali dalam keadaan selamat, aku berjanji akan memainkan rebana.”Rasulullah menjawab : “Jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah, jika belum maka jangan engkau lakukan.”

 

Referensi dalil dikutip dari tafsir ibnu katsir online & video wawancara Dr. Zakir Naik tentang musik.


 

Jika musik begitu baik sebagai media dakwah, lalu mengapa Rasul tidak berdakwah menggunakan musik?39_23

QS. Az Zumar, 23 :Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”

 

Kelebihan musik non religi sifatnya menghibur, sensasi kenyamanannya bisa langsung dirasakan saat itu juga, namun kata dan maknanya kadang membuat kita membunuh waktu dengan hal2 yang kurang berbobot positif untuk timbangan amal. Kelebihan musik religi juga menghibur, sensasi kenyamanannya bisa dirasakan saat itu juga. Jika diselipkan nilai2 al Qur’an atau nilai2 kebaikan bisa jadi media dakwah yang baik, pun alat musik (nyaris semua jenis alat musik) itu tidak boleh dari sudut pandang empat mazhab, menurut kesepakatan mayoritas ulama2 yang cenderung ke arah fiqih maupun menurut isyarat Rasul dalam riwayat bukhari vol 7. no. 5590 di atas. Namun nilai minusnya, untuk khusyuk dalam konteks bathin, tidak perlu kerja keras setan mengotori thuma’ninah kita dalam shalat karena kita sendiri yang mengafirmasikan nada2 tersebut berulang2 ketimbang mengafirmasikan makna / tafsir ayat yang umum kita baca saat shalat. Kelebihan al Quran adalah bobotnya untuk perkara akhirat, dan manfaatnya untuk problematika kehidupan dunia kalau memang benar2 dikaji. Untuk unsur hiburannya juga (ketenangan hati) baik bagi orang2 yang beriman (takut kepada Allah) sebagaimana sudah disampaikan QS. Az Zumar di atas. Hanya saja setan tidak menghiasi keinginan kita untuk membaca dan mengkaji al-Quran sebagaimana dengan musik, sehingga kurangnya sensasi ‘greget’ kita kalau terlintas keinginan untuk membaca & mengkaji al Quran.

Mungkin itulah sebabnya manusia yang tidak mengisi waktu dan hatinya dengan hal yang paling baik menurut Allah, otomatis waktunya akan terisi dengan apapun yang ada. Diisi dengan hal yang paling baik dari sisi Allah saja potensi menyimpangnya masih luar biasa, bagaimana jika diisi dengan yang selain itu?

 

Menyikapi orang2 yang pro dengan musik sebagai media dakwah

  1. Kita harus sadar juga, bahwa kebudayaan lebih efektif digeser dengan kebudayaan. Biarlah saudara-saudara kita seiman menularkan nilai-nilai al Qur’an dengan jalannya. Yang jelas, Allah melalui QS. Luqman ayat 6 sudah kasih ‘kode’ buat kita, dan QS. Al-‘Ashr sudah membeberkan 4 poin sebagai parameter apakah suatu hal itu baik atau merugikan. Selebihnya, tergantung pemahaman masing-masing individu terhadap yang dimaksud dengan “beriman“, “mengerjakan kebajikan“, “menasehati untuk kebenaran“, “menasehati untuk kesabaran“. Dan hadits-hadits pilihan Dr. Zakir Naik di atas cukup gamblang mengisyaratkan ‘lampu kuning’ perihal musik dan alat musik. Jika tetap menerobos, resiko selanjutnya kembali kepada pengendara. Tawadhu’ merupakan langkah yang serba tidak salah. Merasakan diri kita (baik yang pro terhadap musik maupun yang i’tiba’ terhadap isyarat Rasul) sejatinya dalam banyak hal memang tidak lebih baik dari pada orang / makhluk / zat lain. Tidak ada yang perlu dibela dari akhlak kita. Yang ada hanya butuh selalu dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya.
  2. Kalau memang mampu, geserlah kebudayaan yang menurut kita selama ini cukup baik menjadi kebudayaan yang terbaik menurut Allah. Tidak bisa skala besar ya mulai dari diri sendiri, tidak bisa sekaligus ya mulai dari yang terkecil, tidak yakin nanti masih mau berubah ya disegerakan mulai saat ini.

Ini perkara khilafiah. Sengaja saya angkat ke dalam tulisan ini bukan bermaksud memecah-belah. Karena perkara seperti ini tidak mungkin di angkat ke atas mimbar. Sementara orang banyak yang belum mengerti cara bersikap. Hanya ingin menggambarkan di mana posisi musisi dan orang awam sebenarnya. Apakah pada lampu hijau. Apakah pada lampu kuning. Apakah pada lampu merah. Dan memudahkan bagaimana cara mengambil sikap. Terutama bagi yang sadar, namun karena kurang ilmu jadi tidak tau bagaimana.

SIKAP YANG BENAR, MENURUT ISYARAT ALLAH & RASUL

Jika ingin mengambil sikap yang paling benar dari kaca mata pedoman-Nya, maka rujukannya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Untuk sikap satu ini, saya menepikan dalil akli yang cenderung kepada hawa nafsu. Saya hanya mengambil prespektif yang runut derajat keutamaan dalilnya serta serba tidak salah kalau kita mau i’tiba’ dari isyarat haditsnya, sebagaimana dalil2 istimewa yang telah dipilihkan Dr. Zakir Naik. Menurut saya (subjektif), sikap ini paling tepat dilakukan dari individu untuk individu itu sendiri. Bayangkan kalau lagi di tempat umum, anda minta matikan musiknya bukan karena hal2 urgent di mata manusia?. Kalau mau ditarik kesimpulan dari dalil2 pamungkas di atas ya intinya musik itu kalau bisa diminimalisir. Memang rugi kalau diporsir orang yang beriman kepada hari akhir. Jika tidak mengerti di mana ruginya, coba anda belajar berhitung kepada mursyid anda, 1 menit digunakan untuk konsumsi musik religi, dengan 1 menit digunakan untuk bertahlil / bertasbih / tahmid / takbir / shalawat dan atau sambil mengingat Allah / Rasul. Hitung pahala paling minimal yang mungkin anda dapat saja.

SIKAP YANG BAIK

Sikap yang paling win-win solution, (subjektif) saya cenderung kepada pendapat imam al Ghazali. Ini hanya ringkasan dari ringkasan yang sudah diubah bahasanya. Lengkapnya silahkan buka kitab Ihya’ ‘Ulumuddin. Difilter dulu menggunakan lima filter ini:

  1. Hukum menyenandungkan lagu / syair. Jika sebuah lagu itu tidak menjurus kepada hal-hal yang mengandung maksiat dan tidak melalaikan dari hal-hal yang diridhoi Allah maka boleh.
  2. Siapa yang menyenandungkannya.
  3. Di mana tempatnya.
  4. Kapan waktunya.
  5. Apakah dibarengi dengan alat musik yang digunakan oleh ahli maksiat.

Jika kelima hal itu tidak keluar dari zona yang diridhoi Allah, maka boleh. Dan ini (subjektif) sikap yang paling tepat untuk direalisasikan individu kepada hal-hal dan kondisi yang bersifat umum. Jadi kalau di mana saja seseorang putar lagu lalu anda mendengar, cek dulu, apakah lolos kualifikasi di atas?, jika tidak, cegah dengan tangan disertai penjelasan, jika sungkan, cegah dengan membuatnya membaca tulisan seperti ini, jika masih sungkan, doakan saja “semoga Allah menempatkannya pada jalur menuju hidayah yang tak bisa ditolak.”

 

Teorinya sih mudah. 😀 Sekian tulisan mengarang bebas ini.

 

Mohon maaf, tulisan ini tidak melampirkan sebuah fatwa untuk musik secara umum. Wallahu A’lam. Terima kasih. Wabillahi Taufiq Wal Hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


QS. Al-‘Ashr, 1-3: “(1)Demi masa. (2)Sungguh, manusia berada dalam kerugian, (3)Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”


Sumber gambar ayat: http://www.dudung.net/quran

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s