Penyakit Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

 

Selamat datang kembali di blog mengarang bebas. Disclaimer, ini bukan karya tulis ilmiah. Sistem indeksnya juga tidak benar, hanya untuk ‘merapikan’. Jadi jangan ditiru kalau mau tulis karya tulis ilmiah ya.

Jadi..

Akan lebih mudah jika anda membaca dengan menggunakan 2 tab pada browser anda. 1 untuk membaca penjelasan, 1 lagi untuk membaca referensi (referensi berisi kutipan dalil naqli yang menjadi rujukan orang yang saya rujuk). Daripada makin pusing, buat yang pakai laptop/PC silahkan copy-paste url adress laman ini pada tab baru browser anda, scroll ke bagian bawah sampai ketemu “indeks”.

Anda akan mendapati hampir 100% tulisan ini ‘fotocopy’ dari kitab MINHAJUL MUSLIM yang dikarang oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi (2015). Jika anda bingung, datang dan tanya kepada ustadz atau guru mengaji anda. Selamat membaca.

Zhalim

Menurut Abu Bakar Jabir Al Jazairi, ada tiga macam kezhaliman:

  1. Kezhaliman hamba terhadap Rabbnya [1]
  2. Kezhaliman hamba terhadap hamba Allah lainnya dan segala ciptaan-Nya [2]
  3. Kezhaliman hamba terhadap dirinya sendiri [3]

 

Dengki [4]

Kedengkian (hasad) ada 2 macam:

  1. Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain agar menjadi miliknya sendiri.
  2. Mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang lain meskipun dia sendiri tidak berhasil memilikinya.

Nikmat yang dimaksud bisa berupa harta benda, ilmu, nama baik, atau kekuasaan. Jenis dengki yang kedua lebih parah dari dengki yang pertama.

 

Tidak tergolong dengki adalah ghibthah (keinginan memiliki), yaitu orang berharap memperoleh nikmat ilmu, harta benda, atau keadaan layak yang sama seperti nikmat orang lain, tanpa mengharapkan lenyapnya nikmat tersebut dari orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah [5].

 

Larangan untuk akhlak tercela yang satu ini terdapat dalam [6]. Sedangkan kerugian yang didapat akibat dengki ini adalah sebagaimana yang tergambar dalam [7], memakan pahala layaknya api melahap kayu bakar dan rumput kering.

 

Lawan dari dengki ini ada 2:

  1. Menyukai kebaikan bagi orang lain
  2. Mementingkan orang lain

 

Curang

Hakikat perilaku curang menurut Abu Bakar antara lain:

  1. Seseorang menghias-hiasi keburukan, kejahatan, atau kerusakan bagi kawannya, agar kawannya terjerumus.
  2. Menampakkan diri seakan-akan seperti orang saleh dan baik, sambil menutupi batinnya yang kotor dan rusak.
  3. Menampakkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang dirasakan dan dirahasiakannya, dalam rangka mencurangi dan menipu.
  4. Sengaja merusak harta benda, istri, anak, dan pembantu dari kawannya dengan cara menjelek-jelekkan dan mengadu domba.
  5. Berjanji menjaga nyawa dan harta benda, atau menyimpan rahasia kawannya, tetapi kemudian dia mengkhianatinya.

 

Untuk menjauhi akhlak buruk yang satu ini, bisa ditempuh dengan jalan mentadabburi dalil2 berikut [8], orang yang curang tidak termasuk dari golongan Rasulullah [9], curang mengarah kepada kemunafikan sejati.[10]

 

Riya

Tidak disebutkan definisi “Riya” di kitab Minhajul Muslim yang saya jadikan rujukan pada tulisan ini, oleh sebab itu saya ambil saja kesimpulan dari beberapa tulisan yang saya temukan terkait “Riya”. Riya yakni memperlihatkan kebaikan, amalan ibadah atau memperbagus amalan di hadapan manusia agar dilihat, dipuji, dihormati atau mendapat kedudukan di hati manusia.[11]

 

Menurut saya, penyakit hati yang satu ini benar2 ‘pelubang kebocoran’ amal yang sangat besar, sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam firman-Nya [12].

 

Adapun ciri2 riya menurut Abu Bakar dalam Minhajul Muslimnya:

  1. Seseorang meningkatkan ibadahnya ketika dipuji dan disanjung berkenaan dengan ibadah itu, dan mengurangi ibadahnya atau meninggalkannya ketika dia dicela atau dikritik berkenaan dengan ibadah itu.
  2. Rajin beribadah ketika bersama orang lain, dan malas beribadah ketika sendirian.
  3. Mengeluarkan sedekah yang andaikan tidak ada orang yang melihat, tentulah tidak akan bersedekah.
  4. Mengatakan kebenaran dan kebaikan, atau beribadah dan berbuat makruf, tetapi dengan itu semua dia tidak semata-mata menghendaki keridhaan Allah, melainkan sekaligus menghendaki kerelaan orang-orang. Atau, dia tidak menghendaki Allah sama sekali, melainkan menghendaki kerelaan orang-orang saja.

 

Ujub & Ghurur

Menurut Abu Bakar, ujub merupakan rasa kagum pada diri sendiri. Ghurur yakni tertipu akibat terlalu percaya diri. Salah satu sejarah yang dapat kita jadikan bahan renungan soal ujub dan ghurur ini adalah peperangan Hunain, ketika manusia menjadi congkak karena jumlah yang banyak, namun pada akhirnya justru jumlah yang banyak justru tidak memberi manfaat yang berarti [13].

 

Ujub merupakan salah satu dari tiga hal yang membinasakan [14]:

  1. Kekikiran yang dipatuhi
  2. Hawa nafsu yang dituruti
  3. Kekaguman setiap orang yang pandai terhadap pendapatnya sendiri

 

Orang yang cerdik ialah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan melakukan amal untuk apa yang terjadi setelah kematian. Orang dungu adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya sambil mengidam-idamkan banyak hal kepada Allah [15].

Contoh-contoh ujub dan Ghurur yang dijabarkan dalam Minhajul Mulim:

  1. Iblis, terkagum-kagum terhadap dirinya sendiri, dan tertipu oleh asal-usulnya, sampai-sampai berkata, “Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah.” Allah lalu mengusir iblis dari rahmat-Nya dan dari kedekatan dengan-Nya.
  2. Kekaguman kaum Ad pada kekuatan mereka dan ketertipuan mereka oleh kekuasaan mereka. “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” kata mereka. Allah lalu membuat mereka merasakan adzab yang hina di kehidupan dunia dan akhirat.
  3. Kelalaian Nabiyullah Sulaiman S.A.W ketika berkata, “Aku benar-benar akan berkeliling pada malam ini ke seratus istri agar masing-masing melahirkan satu anak yang berjihad di jalan Allah.” Dia lalai karena tidak berkata “insya Allah” (jika Allah berkehendak). Allah lalu menghalanginya dari anak tersebut.
  4. Kekaguman para sahabat Rasulullah S.A.W pada perang Hunain atas banyaknya jumlah mereka. Mereka berkata, “Pada hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah yang sedikit.” Merekapun ditimpa kekalahan yang pahit, sampai-sampai bumi terasa sempit bagi mereka, lantas mereka mundur.

 

Berbagai fenomena Ghurur

  1. Berkenaan dengan ilmu: bisa jadi orang merasa kagum kepada ilmunya dan tertipu oleh pengetahuannya yang banyak, sehingga membuatnya enggan menambah ilmu dan manfaat dari orang lain, atau membuatnya meremehkan orang lain yang berilmu dan merendahkan orang lain.
  2. Berkenaan dengan harta benda: bisa jadi orang kagum pada banyaknya harta bendanya, dan tertipu oleh banyaknya kekayaannya, sehingga dia berbuad mubadzir, boros serta angkuh terhadap orang lain, juga menolak kebenaran, sehingga dia binasa.
  3. Berkenaan dengan kekuatan: bisa jadi orang kagum pada kekuatannya sendiri dan tertipu oleh wibawa kekuasaannya, sehingga dia menindas dan menzhalimi orang lain. Itu semua akan menjadi kebinasaan dan bencana baginya.
  4. Berkenaan dengan kemuliaan: bisa jadi orang kagum pada kemuliaannya serta tertipu oleh silsilah keturunannya dan asal-usulnya, sehingga dia enggan meraih cita-cita yang tinggi dan lemah dalam mencari kesempurnaan, sehingga amal perbuatannya lambat sementara silsilah keturunannya tidak mempercepatnya. Dia menjadi remeh, kecil, rendah, dan hina.
  5. Berkenaan dengan ibadah: bisa jadi orang kagum pada amal ibadahnya dan tertipu oleh banyaknya ibadahnya, sehingga membuatnya lancang terhadap Allah dan mengungkit-ungkit ibadahnya kepada Sang Pemberi nikmat. Amal ibadahnya menjadi gugur, dia binasa akibat ujub, dan sengsara akibat tertipu.

 

Obatnya

Dzikrullah. Membuka mata lebar-lebar supaya sadar bahwa segala ilmu, harta benda, kekuatan, kewibawaan, kemuliaan yang dititipkan Allah di tangan kita hari ini bisa saja Dia tarik esok hari jika Dia berkehendak. Selain itu, sebanyak apapun ibadah kita, tidak akan mampu menandingi kenikmatan yang Dia berikan kepada kita. Sesuai sabda Rasul, “Amal masing-masing kalian tidak akan menyelamatkan dirinya.” Para sahabat bertanya, “Engkaupun tidak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Akupun tidak. Hanya saja, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” [16]

Lemah & Malas

Doa rasul, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kerentaan, dan kekikiran.” [17], sedang pesan Rasul agar kita semangat dalam hal yang bermanfaat, menjauhi kata “andaikan” jika tertimpa musibah [18].

 

Ciri-ciri kelemahan dan kemalasan:

  1. Orang yang mendengar seruan muadzin untuk shalat tetapi terlalu sibuk, tidur, berbincang-bincang, atau melakukan pekerjaan yang tidak penting, sehingga tidak menyambutnya. Sampai ketika waktu shalat hampir berlalu, barulah dia bangun untuk shalat sendirian di akhir waktu shalat.
  2. Orang yang menghabiskan satu jam atau berjam-jam untuk duduk-duduk di warung kopi atau tempat hiburan, atau berjalan-jalan di jalanan dan pasar, padahal dia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi malah tidak dia selesaikan.
  3. Orang yang tidak mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, seperti belajar, bercocok-tanam, merenovasi serta membangun rumah, dan berbagai pekerjaan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Dia meninggalkan semua itu dengan klaim bahwa dia sudah tua, dia bukan ahlinya, atau bahwa pekerjaan itu menghabiskan banyak waktu. Lantas setelah sekian hari atau tahun berlalu, dia tidak melakukan satupun pekerjaan yang bermanfaat bagi dunia ataupun akhiratnya.
  4. Orang yang ditawari suatu atau beberapa pintu kebajikan dan kebaikan, seperti peluang untuk menunaikan ibadah haji, dan dia mampu menunaikannya, tetapi dia malah tidak menunaikannya. Atau, ada orang yang butuh pertolongan, dan dia mampu menolongnya. Atau, seperti kesempatan menjumpai bulan Ramadhan, tetapi dia tidak memanfaatkan malam-malamnya dengan shalat. Atau, seperti masih adanya kedua orang tua, dan dia mampu untuk berbakti kepada mereka, menjalin silaturahim dengan mereka, dan memberi mereka, tetapi dia malah tidak berbakti kepada mereka dan tidak memberi mereka lantaran lemah dan malas, atau lantaran kikir dan pelit, atau lantaran durhaka. Na’udzu billahi min dzalik.
  5. Orang yang tinggal di rumah penuh kehinaan, tetapi lantaran lemah dan malas, dia tidak mencari rumah lain yang dapat menjaga agamanya dan melindungi kehormatannya.

Wallahu A’lam. Alhamdulillahirabbil’Alamin. Terima kasih. Mohon maaf atas segala kesalahan maupun perkataan yang kurang berkenan.

Wabillai taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


Indeks:

 

ZHALIM

QS. Al-Baqarah: 279

“Kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

 

QS. Al-Furqan: 19

“Dan barangsiapa di antara kalian yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya adzab yang besar.”

 

HR. At-Tirmidzi: 2490

Allah berfirman dalam hadits qudsi yang riwayat rasulullah, “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kedhzaliman bagi Diri-Ku sendiri dan ia Kuharamkan pula di tengah kalian, maka jangan saling mendzhalimi.”

 

[1]–

QS. Al Baqarah: 254

“Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.”

 

QS. Luqman: 13

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezhaliman yang besar.”

–[1]

 

[2]–

HR. Al Baihaqi/As-Sunan Al-Kubra/3: 369/6: 83

“Barangsiapa pada dirinya terdapat sesuatu milik saudaranya yang diambil secara zhalim, baik berupa kehormatannya maupun apa saja, hendaklah dia memintanya agar dihalalkan hari ini juga, sebelum kelak tiada lagi dinar ataupun dirham. Lantas jika dia memiliki suatu amal saleh maka diambil darinya sebesar sesuatu yang diambilnya secara zhalim itu; dan jika dia tidak memiliki pahala maka diambillah sebagian dosa pemilik sesuatu yang diambil secara zhalim itu lantas dipikulkan kepadanya.”

 

HR. Muslim/218/Al-Iman

“Barang siapa mengambil hak seorang Muslim melalui sumpahnya, niscaya Allah memastikan neraka baginya dan mengharamkan surge baginya.” Seseorang bertanya, “Bagaimana kalau hanya sedikit saja, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya berupa sebilah ranting pohon Arok.”

 

HR. Al-Bukhari/9/2

“Seorang Mukmin senantiasa dalam kelapangan dari agamanya selama dia belum mengambil suatu darah yang haram.”

 

HR. Muslim/10/Al-Birr wa Ash-Shilah

“Setiap Muslim haram bagi Muslim lainnya, yaitu darahnya, harta bendanya, dan kehormatannya.”

–[2]

 

[3]–

QS. Al-Baqarah: 57

“Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

–[3]

 

DENGKI

[4]–

QS. An-Nisaa’: 54

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”

 

QS. Az-Zakhruf: 32

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.”

–[4]

 

[5]–

HR. Al-Bukhari/1: 28/2: 134

“Tidak boleh ada rasa hasad kecuali terhadap dua orang, seorang yang diberi harta benda oleh Allah, lantas dia menghabiskan dalam kebenaran; dan seorang yang diberi al-hikmah, lantas dia memutuskan dengannya dan mengajarkannya.”

 

Maksud dari al-hikmah di sini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

–[5]

 

QS. An-Nisaa’: 54

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”

 

QS. Al-Baqarah: 109

“Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.”

 

QS. Al-Falaq: 5

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

 

[6]–

HR. Al-Bukhari/8/23, 25; HR. Muslim/7/Al-Birr wa Ash-Shilah; HR. Abu Dawud/4910

“Jangan saling membenci; jangan saling mendengki; jangan saling bermusuhan; dan jangan saling memutuskan hubungan. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga (hari).”

–[6]

 

[7]–

HR. Abu Dawud/51/Al-Adab

“Jangan sampai kalian mendengki, karena kedengkian itu memakan pahala layaknya api melahap kayu bakar dan rumput kering.”

–[7]

 

[8]–

QS. Al-Ahzab: 58

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

 

QS. Al-Fath: 10

“Maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat dia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.”

 

QS. Fathir: 43

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.”

–[8]

 

[9]–

HR. Abu Dawud, 4883

“Barangsiapa merusak istri atau budak orang lain, maka dia bukan bagian dari kami.”

 

HR. Muslim, Kitab Al-Iman 164

Pada saat Rasulullah melewati sekantong besar makanan, beliau memasukkan tangannya ke dalam kantong itu, lantas jari-jemarinya merasakan sesuatu yang basah. Beliaupun bertanya, “Apa ini, wahai penjual makanan?” dia menjawab, “Itu terkena hujan, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kenapa tidak engkau letakkan di bagian atas makanan agar terlihat oleh orang? Barangsiapa curang, dia bukanlah bagian dariku.”

–[9]

 

[10]–

HR. Al-Bukhari, 1/15, 3/173, dan Muslim, Kitab Al-Iman, 106

“Empat perangai yang jika orang memiliki semuanya berarti dia munafik sejati; jika orang memiliki satu perangai saja di antaranya berarti dia memiliki satu perangai kemunafikan hingga dia tinggalkan. Yakni, jika diberi amanah, dia berkhianat; jika berbicara, dia berbohong; jika berjanji, dia ingkar; dan jika bermusuhan, dia berbuat melampaui batas.”

–[10]

 

RIYA

[11]–

https://buletin.muslim.or.id/ibadah-2/riya-penghapus-amal

http://tanbihun.com/tasawwuf/definisi-riya-dan-penjelasannya/

https://abuabdurrohmanmanado.org/2016/02/16/bahaya-riya-dalam-ibadah-definisipengertian-riya-adalah-riya-menurut-islam-riya-artinya-riya-dalam-islam-riya-dan-bahayanya-perkataan-ulama-mengenai-riya-penyebab-riya/

–[11]

 

QS. Al-Ma’un: 4-7

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

 

[12]–

HR. Imam Ahmad, 2/301

“Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya Aku disekutukan dengan selain-Ku, maka semua amal itu untuk sekutuku tersebut, sedangkan Aku berlepas diri dari amal itu. Akulah Yang Mahakaya di antara yang kaya, sehingga tidak butuh sekutu.”

Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim disebutkan, “Aku adalah Yang Mahakaya, sehingga sangat tidak butuh sekutu di antara para sekutu itu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya Aku disekutukan bersama selain-Ku, niscaya Aku biarkan amal itu serta penyekutuannya.”

–[12]

 

HR. Muslim, Kitab Az-Zuhd, 47

“Barangsiapa berbuat riya, niscaya Allah berbuat riya dengannya; barangsiapa berbuat sum’ah, niscaya Allah berbuat sum’ah dengannya.”

 

HR. Imam Ahmad, 5/228, 229. Disebutkan pula oleh Al-Iraqi dalam Al-Maghni dari Haml Al-Asfar, 3/286

“Sesungguhnya hal yang paling kucemaskan terhadap kalian adalah syirik yang paling kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik yang paling kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya. Allah S.W.T pada Hari Kiamat berfirman, ketika para hamba diganjar dengan amal-amal mereka, “Temuilah mereka yang dahulu engkau riya kepada mereka, lalu lihatlah apakah kalian mendapati pahala di sisi mereka.”

 

UJUB & GHURUR

QS. Al-Hadid: 14

“Dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.”

 

QS. Al-Infithar: 6

“Hai manusia apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Pemurah?”

 

[13]–

QS. At-Taubah: 25

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepada kalian sedikitpun.”

–[13]

 

[14]–

HR. Al-Haitsami, Majma’ Az-Zawa ‘id, 1/91. Hadits dhaif.

“Tiga hal yang membinasakan, yaitu kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti, dan kekaguman setiap orang pandai pada pendapatnya sendiri.”

 

HR. Az-Zubaidi, Ithaf As-Sadat Al-Muttaqin, 8/407, dan Ath-Thabari dalam tafsirnya, 6/57

“Ketika engkau melihat kekikiran dipatuhi, hawa nafsu dituruti, dan setiap orang pandai merasa kagum pada pendapatnya sendiri, maka engkau harus menjaga diri sendiri.”

–[14]

 

[15]–

HR. Imam Ahmad, 4/24, dan Al-Hakim, Al-Mustadrak, 1/57

“Orang cerdik pandai adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan melakukan amal untuk apa yang terjadi setelah kematian. Sedangkan orang yang dungu adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya sambil mengidam-idamkan banyak hal kepada Allah.”

–[15]

 

[16]–

HR. Al-Bukhari, 8/122

“Amal masing-masing kalian tidak akan menyelamatkan dirinya.” Para sahabat bertanya, “Engkau pun tidak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Hanya saja, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”

–[16]

 

[17]–

HR. Al-Bukhari, 4/28, 8/98, Muslim, 2079, dan An-Nasa’I, 8/257, 258

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kerentaan, dan kekikiran.”

–[17]

 

[18]–

HR. Muslim, Kitab Al-Qadar, 34

“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan Allah, dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa suatu musibah, jangan katakana, ‘Andaikan aku melakukan begini, pastilah begitu,’ tetapi ucapkanlah, ‘Qaddarallahu wa ma sya ‘a fa’al’ (Allah telah menakdirkan, dan apa saja yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan). Sebab, kata ‘andaikan’ membuka pintu perbuatan setan.”

–[18]

 

QS. Al-Hadid: 21

“Berlomba-lombalah kalian kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb kalian dan surge yang luasnya seluas langit dan bumi.”

 

QS. Al-Muthaffifin: 26

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

 

QS. Ali Imran: 115

“Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya.”

 

QS. Al- Muzammil: 20

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk diri kalian niscaya kalian memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s