ALASAN MENINGGALKAN SHALAT TEPAT WAKTU BERJAMAAH YANG PALING SERING SAYA DENGAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Mohon maaf tidak pakai mukaddimah 🙂

 

1. “Duluan yip / mi, belum mandi”
2. “Duluan yip / mi, masih keringatan”


Itulah alasan yang paling sering saya dengar apabila orang menolak halus ajakan saya untuk tunaikan shalat tepat waktu berjamaah. Dari jaman ababil. Hingga kini. Itu-itu saja. Aneka rupa dan warna orangnya tetap konsisten itu alasannya. Kalau diakumulasi mungkin jumlahnya tidak begitu banyak, tapi puluhan. Ada juga beberapa yang langsung to the point bilang “malas”, “kerjaan nanggung” tapi itu hanya sedikit.

Sedangkan alibi yang paling sering saya pergoki terhadap diri saya sendiri apabila meninggalkan shalat tepat waktu berjamaah adalah: belum mandi & merasa kurang bersih. Yang mana intinya sama. TIDAK MEMPERSIAPKAN KESUCIAN sebelum datang hal yang menuntut kita untuk ada dalam kondisi ‘cukup bersih / suci’. Padahal, “harus sudah mandi” & “tidak keringatan” bukan rukun shalat / wudhu (apabila kita tidak dalam keadaan junub). Ya, walaupun anda tidak mandi seminggu. Selama anda tidak dalam kondisi junub atau terkena najis berat. Cukup wudhu dan anda siap tunaikan shalat.

Tapi itulah. Konsekuensi orang yang merasa Allah benar-benar ADA & SANGAT DEKAT memang begitu. Menghadap manusia biasa saja kalau bau apek, muka kusam, kulit kering, kurang nyaman. Apalagi menghadap Allah. Padahal Allah tidak melihat kepada lahir kita. Tapi tetap saja, rasanya mending sekalian tidak usah menghadap kalau pas adzan kulit keringatan karena aktifitas / kulit agak lengket gara2 sudah seharian nggak mandi / bau badan atau baju sudah berubah. Cuma masalahnya kalau tidak memenuhi panggilan shalat berjamaah ke masjid / musholla hanya karena malas saja, belum mandi saja, kurang wangi saja, dan aneka alasan yang tidak termasuk dalam udzur yang dibenarkan syar’i, itu RUGINYA NGGAK KEPALANG TANGGUNG untuk laki-laki.[1]

Jadi kalau kita termasuk golongan ‘mending nggak usah tepat waktu berjamaah daripada tepat waktu berjamaah tapi rasanya badan kurang begitu bersih / wangi’, berarti kita telah menempatkan diri kita sendiri dalam kondisi yang lebih rumit. Mengapa? karena secara tidak langsung kita telah ‘menambah rukun shalat berjamaah’. Dengan tambahan “harus sudah mandi (biasa)” dalam keadaan tidak junub, “harus tidak berkeringat”. Kalau begitu aturan main yang kita buat, berarti pilihan kita cuma satu kalau nggak mau rugi:
1. Persiapkan kesucian / kebersihan dan wangi-wangian agak jauh sedikit sebelum datangnya jam2 wajib (shalat 5 waktu). Termasuk hal2 yang sering kita anggap sepele padahal berpengaruh besar terhadap kedisiplinan seperti kebersihan pakaian, alas kaki, peci / kopiah. Disiapkan. Taruh tertib ke tempatnya setelah selesai pakai, jadi nggak repot kita hilir-mudik persiapkan kalau sudah adzan lagi.

Untuk alasan “malas”, “kerjaan nanggung padahal bisa di skip”, saya sarankan anda:
1. Berdoa. “Ya Allah saya malas. Kenapa saya malas Ya Allah? Kemalasan ini membuat saya ‘rugi besar'[1] Ya Allah. Tolong.”. Sebenarnya, dengan keluasan ilmu-Nya, sebelum anda berdoa Tuhan itu sudah tau isi doa anda. Bisa jadi Tuhan juga sudah persiapkan wasilah-wasilah jauh sebelum anda berdoa untuk mencapai apa yang anda inginkan maupun mendapatkan hidayah yang ruh anda butuhkan seperti aneka ilmu yang diletakkan-Nya kepada para ustadz & ulama, yang mana salah satu cara untuk mengakses wasilah tersebut kita harus duduk di majlis ilmu.
2. Duduk di majlis ilmu. Boleh jadi tema yang dibicarakan bukan tentang “malas”. Tapi duduk di majlis ilmu itu sejauh ini memang efektif menambah kesadaran, keimanan & ketaatan bagi orang beriman yang mana itu mampu membunuh dengan cukup sadis segenap rasa malas beribadah yang ada. Kalau anda tidak kalah magernya dengan saya untuk duduk ke majlis ilmu dan anda ada di kota samarinda, dan anda masih beralasan tidak bisa mendengarkan kajian ilmu yang jiwa raga anda butuhkan, mohon maaf alasan jenis yang seperti itu adalah alasan yang kurang begitu cerdas. Karena sekarang anda sudah bisa ‘tonton majlis ilmu’ melalui saluran tv dan atau radio dakwah islamic center samarinda. live. Rasanya jadwal terakhirnya seperti ini.

HARI (masehi)

WAKTU

BA’DA SUBUH

BA’DA DZUHUR

BA’DA MAGHRIB

SENIN

Biasa ada

Biasa ada

SELASA

Biasa ada

Biasa ada

RABU

Biasa ada

Biasa ada

KAMIS

Biasa ada

JUMAT

Biasa ada

Biasa ada

Biasa ada

SABTU

Kadang tidak ada

Pernah ada (offair)

Biasa ada

MINGGU

Biasa ada

Kadang tidak ada

Biasa ada

FYI (for your information) saja, untuk tanggalan hijriah, ganti harinya maghrib bukan jam 00:00 seperti tanggalan masehi. Jadi hari kamis malam jum’at yang selama ini anda bayangkan masih hari kamis sebenarnya sudah hari jum’at secara hijriah. Jadwal di atas pergantian harinya masih secara masehi. Untuk kamis malam jum’at (secara masehi) / malam jum’at (secara hijriah) biasanya di islamic center yasinan, tidak ada tausiah. Untuk anda yang menganggap yasinan itu bid’ah, membaca surah yasin bukan bid’ah. Namun untuk hari jum’at sunnahnya lebih kuat untuk membaca surah al-Kahfi daripada surah yasin.[2]

FYI part II, Tausiah tidak hanya di islamic center saja. Ada di mana-mana. Dan tidak di dunia nyata saja. Di dunia maya pun banyak. Di tv untuk skala nasional ada rodja tv. Di youtube macam-macam. Untuk yang cenderung ke arah fiqih dan tauhid beberapa ustadz skala nasional yang sedang booming yakni seputar kata kunci “khalid basalamah”, “abu yahya badrussalam”. Untuk yang lebih seimbang tauhid, fiqih dan tarekat melibatkan kata kunci “buya yahya”. Untuk tauhid & wawasan lintas agama yang lebih terang lagi akurat sebaiknya melibatkan kata kunci “zakir naik”. Tapi kalau untuk skala samarinda sendiri, tidak usah jauh-jauh. Di islamic center sendiri sudah banyak terhimpun para ‘alim yang tawadhu lagi berkualitas. Mau yang bahasanya membumi, melangit, yang serius-akurat tapi santai, yang kocak tapi nggak menyimpang, ada semua. Yang bahasannya tauhid & ma’rifat ada, fiqih ada, tarekat ada. Unsur penyimpangannya juga minim sekali. Tidak di islamic pun masih banyak jaman sekarang ini alhamdulillah. Malah mungkin ada saja ulamanya para ulama seperti atho bin abi rabah versi orang indonesia yang mungkin tidak kita kenal karena belum menulis sebuah kitab atau belum terekspose media. Semua ada. Tinggal kitanya aja lagi. Mau jemput hidayah atau tidak. Sadar butuh hidayah atau tidak.

Wallahu A’lam. Al-Hamdu Lillahi Rabbil ‘Alamin. Moga manfaat. Terima kasih. Mohon maaf atas segala kecacatan dalam tulisan ini.

Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


[1] https://muslim.or.id/3456-pria-yang-meninggalkan-shalat-jamaah-sungguh-merugi.html
[2] https://rumaysho.com/202-jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s