PROGRAM IBADAH PRAKTIS SEHARI-HARI DENGAN BOBOT YANG ISTIMEWA


[under construction]
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Disclaimer:
Isi laman ini merupakan karya tulis mengarang bebas. Penulisan referensinya juga tidak baku. Saya sudah memberi tau.

Baik,

Sedikit kerja banyak hasilnya. Siapa yang nggak mau? waktu yang dipakai buat kerja sedikit sisanya bisa buat macem-macem. Sedikit ibadah, tapi banyak pahala. Sedikit usaha, banyak amal. Sedikit pengorbanan, tinggi derajat. Maunya.

Jika seseorang masuk surga. Maka bukan karena amal melainkan karena rahmat-Nya[1]. Tapi amal saleh mutlak diperlukan sebagai BEKAL apabila jadi masuk surga[1]. Amalan yang PALING dicintai Allah adalah amalan yang BERKESINAMBUNGAN meskipun sedikit[2]. Jadi beramal sholeh bukan pilihan bagi orang-orang yang beriman pada hari akhir, melainkan hal MUTLAK yang HARUS dirutinkan. Sedang amal sholeh tidak semuanya diterima. Ada syarat yang harus dipenuhi. Ada 2 (dua) syarat. IKHLAS dan SESUAI TUNTUNAN[3]. Ahlus Sunnah melakukan i’tiba’ & meninggalkan ibtida'[4]. Mengerjakan yang dikerjakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka satu syarat terpenuhi.

‘Wahn'[15] & ahwa’, efektif melalaikan. Kenali kinerjanya. Hindari perangkapnya.

Ini (hanya) beberapa daftar ibadah harian berbobot ISTIMEWA yang insya Allah sesuai tuntunan. Ada dasar dalilnya. Jelas ganjarannya. Namun lazim dilalaikan. (2017-apr).

IBADAH HARIAN
– Shalat wajib tepat waktu berjamaah [5]
– Membaca al-Qur’an [6]
– Dzikir [7]
– Shalawat [21]
– Shalat Tahajud [8]
– Shalat Israq & Dhuha [9]
– Shalat Rawatib [10]
– Shalat Tathawwu’ / Shalat Sunnah Mutlaq [19]
– Wudhu [11]
– Memberi Makan [12]
– Informasi penting tentang shalat sunnah [20]

PUASA[18] SUNNAH
– Ayyamul bidh [13]
– Senin-kamis [14]

Sebagaimana dalil ini [2] dan ini [3] Allah tidak mempermasalahkan kuantitas amalan, yang Ia tekankan pada dalil tersebut adalah kesinambungan, keikhlasan, kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan itu sudah melingkupi amalan yang PALING dicintai Allah[2]. Jika mampu ikhlas, sesuai tuntunan, kontinu, dan bisa banyak tanpa meninggalkan kewajiban sebagai suami / istri / anak, alhamdulillah beruntung sekali anda[17]. Sesuai kemampuan[2] tidak sama dengan harus sedikit.

Untuk puasa sunnah, puasa daud lebih disukai di sisi Allah[8]. Puasa ayyamul bidh, puasa sunnah yang hanya dilakukan tiga hari, yakni pada 13, 14, 15 bulan hijriah namun ganjarannya seolah berpuasa selama satu tahun[13]. Untuk wanita, bersuami, suami ada di rumah, ingin puasa sunnah / puasa di luar bulan Ramadhan, HARUS mendapat ijin terlebih dahulu dari suami[16].


KECIL HATI KARENA MERASA TAK BANYAK BERAMAL SALEH? IKUTI GAME INI

Pengenalan Variabel:
1. Kehidupan = Nama sebuah wahana wisata permainan nyata
2. Kupon = Amal
3. Bermain = Beribadah. Nilai dari satu kali beribadah akan dilipatgandakan tergantung keikhlasan dan kesempurnaan caranya. Minimal dilipatgandakan 10 kali lipat, maksimal 700 kali lipat. Tidak bermain maka kupon otomatis berkurang.
4. Kartu Pamungkas = Sabar. Satu kartu pamungkas dapat ditukar Kupon dengan jumlah yang tak bisa dihitung sangking banyaknya. Semakin besar bobot Kartu Pamungkas, semakin tak terhingga Kupon yang bisa ditukarkan. Sabar = Pahala tanpa batas[18]->QS. Az-Zumar: 10.
5. Uji = Fitur dari permainan Kehidupan. Mengkondisikan seseorang berada dalam sebuah set agar orang tersebut bisa mengakses Kartu Pamungkas. Namun jalannya menyakitkan.
6. Jebakan = Bisa syirik besar, syirik kecil, penyakit hati, caci maki, mengambil hak orang lain, salah tuduh, ghibah, & aneka dosa besar serta kecil lainnya. Satu kali terkena jebakan, otomatis kupon akan berkurang / berpindah / lenyap dalam jumlah tertentu, dalam kurun waktu tertentu.
7. Hadiah = Balasan berupa nikmat yang bisa ditukarkan dengan kupon.
8. Surga = Arena pengambilan hadiah. Terdiri dari beberapa lantai. Semakin tinggi lantai, semakin besar nikmat Hadiah yang didapat. Semakin banyak kupon yang dimiliki, semakin tinggi lantai Surga yang bisa diakses. Namun kupon bisa ditukar apabila waktu permainan telah habis. Dan satu kali masuk Surga, sudah tidak bisa kembali bermain lagi untuk dapat Hadiah lebih.
9. Allah = Penguasa, Pencipta permainan Kehidupan.

Skenario:
Allah menciptakan qwerty. qwerty masuk game Kehidupan. Entah mengapa qwerty jarang Bermain. Cara Bermain qwerty juga kurang sempurna. qwerty sadar Kuponnya pasti kurang. Sementara qwerty ada keinginan masuk Surga dan mendapat Hadiah. Allah Mengetahui. Allah Uji dengan set yang lebih sukar dari seharusnya, namun masih dalam batas kemampuan qwerty. Hal itu dilakukan Allah semata agar Kartu Pamungkas yang didapat qwerty berbobot sangat berat hingga dapat ditukar dengan Kupon berjumlah mendekati cukup, sesuai kebutuhan qwerty.

Setelah perulangan yang terus-menerus, qwerty baru sadar, tidak Bermain membuat qwerty diUji dengan set yang jauh lebih berat. Yang mana diUji itu rasanya sangat-sangat-sangat tidak enak sekali. Terpaksalah qwerty belajar Bermain. qwerty belajar menyempurnakan cara Bermain. Kupon qwerty semakin banyak dan menggunung tinggi.

Tiba masa qwerty melihat bergunung-gunung kuponnya lenyap begitu saja. Ternyata tanpa disadari qwerty masuk Jebakan tak kasat mata. Tak terima, qwerty belajar mengenali jenis-jenis Jebakan. Waktu berlalu dan qwerty mampu menyiasati Jebakan. qwerty mampu menikmati cara Bermain & mampu menghindari Jebakan.

Telah pandai Bermain dan menghindari Jebakan, qwerty rasa semua telah berada dalam kontrol. Namun tiba-tiba qwerty kaget. Masih saja qwerty diUji. Ternyata Allah melihat kapasitas qwerty lebih. Mubadzir sekali kalau dengan kapasitas lebih, qwerty mendapatkan hasil akhir yang kurang maksimal. Allah tambahlah bobot set Ujian hingga mendekati ambang batas kapasitas qwerty. Semata agar qwerty tiada penyesalan dan kelak mendapatkan Hadiah yang benar-benar tak pernah terlintas dalam pikiran. Kini tanpa disadari, qwerty mengatungi banyak Kartu Pamungkas, dan sejumlah Kupon.

qwerty harus persisten (istiqamah) untuk tetap Bermain dan menghindari Jebakan hingga batas waktu Kehidupan yang telah ditentukan.

Kini qwerty telah membaca sedikit gambaran model aturan main Kehidupannya. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Selamat melanjutkan cerita masing-masing. Saya sudah bilang di awal, ini karya tulis mengarang bebas.


Wallahu A’lam. Alhamdulillah. Terima kasih. Mohon maaf atas kecacatan yang ada dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat. Amin. Jazakumullahu Khairan Katsiira.

Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


[under construction], insya Allah.

[1]–
Tentang Manusia Masuk Surga Karena Rahmat Allah
HR. Muslim, No. 2817
“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah”

Tentang Surga yang DIWARISKAN sebagai Balasan Amal Saleh yang Telah Dikerjakan
QS. Az-Zukhruf[43]: 72
“Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan.”

Tentang Nikmat di Dalam Surga sebagai Balasan Amal Saleh yang Telah Dikerjakan
QS. Al-Waaqi’ah[56]: 22-24
“(22)dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, (23)laksana mutiara yang tersimpan baik. (24)Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.”

Dalil Aqli Terkait Korelasi Ketiga Dalil di Atas
https://muslim.or.id/27788-masuk-surga-semata-karena-rahmat-allah-lalu-untuk-apa-beramal.html

Tuntunan Beramal Saleh bagi Orang yang Cerdik & Pengingat agar Tidak Melakukan Hal yang Dungu
HR. Imam Ahmad, 4/24, dan Al-Hakim, Al-Mustadrak, 1/57
Beliau bersabda, “Orang cerdik pandai adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan melakukan amal untuk apa yang akan terjadi setelah kematian. Sedangkan orang dungu adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya sambil mengidam-idamkan banyak hal kepada Allah.”
–[1]

[2]–
Tentang Amalan yang Paling Dicintai Allah Ta’Ala | muslim.or.id/3009-amalan-lebih-baik-kontinu-walaupun-sedikit.html
HR. Muslim, No. 783 | Kitab shalat para musafir dan qasharnya | Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’Ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

HR. Muslim, No. 782
”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”
–[2]

[3]–
Tentang Syarat Diterimanya Amal Sholeh
QS. Al-Kahfi[18]: 110 | Tafsir Ibnu Katsir
“…Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya…”
Yakni ingin memperoleh pahala dan balasan kebaikan-Nya.

“…Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh…”
Yaitu segala amal perbuatan yang disetujui oleh syari’at Allah.

“…Dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya…”
Yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh-Nya, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syari’at yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
–[3]

[4]–
https://almanhaj.or.id/3730-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html
–[4]

[5]–
Tentang Amal yang Paling Utama
HR. Muslim, Kitab Al-Iman, 36 | Minhajul Muslim | BAB 8: Shalat | Materi Shalat
Sabdanya tatkala beliau ditanya tentang amal apa yang paling utama, maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya”

Tentang Berlipat Gandanya Pahala Orang Shalat Berjamaah | muslim.or.id/3456-pria-yang-meninggalkan-shalat-jamaah-sungguh-merugi.html
HR. Bukhari dan Muslim. [Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 1-Bab Kewajiban Shalat Jama’ah. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 43-Bab Keutamaan Shalat Jama’ah dan Penjelasan Mengenai Hukuman Keras Apabila Seseorang Meninggalkannya]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.”

HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat jama’ah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala 50 shalat.”

Tentang Pengampunan Dosa Bagi Orang yang Shalat Berjamaah
HR. Muslim, Ath-Thaharah, 7 & HR. Imam Ahmad, 5/260 | Minhajul Muslim | BAB 8: Shalat | Materi Shalat
“Setiap orang Muslim yang masuk waktu shalat wajib, lantas ia berwudhu dengan sebaik-baiknya, khusyuk dengan sebaik-baiknya, dan ruku’ dengan sebaik-baiknya, pastilah shalat itu menjadi penghapus dosanya yang telah lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar. Ini berlaku sepanjang masa.”

TENTANG WANITA + SHALAT
Mengapa wanita saudi tidak berduyun-duyun shalat (wajib) di masjidil haram | almanhaj.or.id/4154-mengapa-wanita-saudi-tidak-berduyun-duyun-shalat-di-masjidil-haram.html
HR. Ahmad No. 27090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar rahimahulllah
Dari Ummu Humaid radhiyallahu ‘anhuma – istri Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu – bahwa ia telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu daripada shalatmu di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah.

HR. Muslim No. 1396
“Satu kali shalat di dalamnya (Masjid Nabawi) lebih utama dari seribu shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Ka’bah.”

Sebaik-baik shalat wanita di rumah | remajaislam.com/337-sebaik-baik-shalat-wanita-di-rumah.html
HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.”

HR. Abu Dawud No. 570. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya.“

Shalat wanita di rumah adalah pengamalan dari perintah Allah agar wanita diam di rumah. Allah ta’ala berfirman,
QS. al-Ahzab[33]: 33
“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu.”

HR. Tirmidzi No. 1173, shahih
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.”

Jangan larang wanita shalat ke masjid, SKB (syarat dan ketentuan berlaku)
HR. Muslim No. 442
Dari Salim bin Abdullah bin ‘Umar bahwasanya Abdullah bin ‘Umar mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menghalang-halangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia”.

(SKB) Jika ingin ke masjid, wanita tidak memakai wangi-wangian
HR. Muslim No. 444
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah ia menghadiri shalat isya’ bersama kami.”

HR. an-Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh al-Albani dalam shohihul Jami’ No. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih
Dari Abu Musa al-Asy’ary bahwasanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.”

Wanita boleh masuk surga dari pintu mana saja asal,
HR. Ahmad 1:191 dan Ibnu Hibban 9:471, Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih
“Jika seorang wanita (1) selalu menjaga shalat lima waktu, juga (2) berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta (3) betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan (4) benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”.”.
–[5]

[6]–
KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN

QS. Thaha[20]: 123-127 | almanhaj.or.id/3025-tilawah-al-quran-dan-adab-adabnya.html
“(123) … Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. (124) Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (125) Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat?” (126) Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.” (127) Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

rumaysho.com/746-keutamaan-luar-biasa-shohibul-quran198.html
Mendapat syafa’at di hari kiamat
HR. Muslim No. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di at-Taisir bi Syarhi al-Jami’ ash-Shogir, al-Munawi, 1/388, asy-Syamilah
Dari Abu Umamah al Bahiliy, (beliau berkata), Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bacalah al-Qur’an karena al-Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafaat) bagi yang membacanya. Bacalah az-Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat al-Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan lainnya), keduanya akan menjadi pembelabagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat al-Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.”

Perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an
HR. Bukhari No. 5059
Dari Abu Musa al-Asy’ariy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Permisalan orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah utrujah, rasa dan baunya enak. Orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an dan mengamalkannya adalah bagaikan buah kurma, rasanya enak namun tidak beraroma. Orang munafik yang membaca al-Qur’an adalah bagaikan royhanah, baunya menyenangkan namun rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan hanzholah, rasa dan baunya pahit dan tidak enak.”

Qurro’uha, kebanyakan orang munafik
HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh syaikh Syu’aib al-Arnauth. Makna qurro’uha di sini adalah salah satu makna yang disebutkan oleh al-Manawi dalam Faidhul Qodir Syarh al-Jami’ ash-Shogir, 2/102, asy-Syamilah
“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan al-Qur’an dengan niat yang jelek)”

Keutamaan mengulangi hafalan al-Qur’an
HR. Bukhari No. 5031 & Muslim No. 789
Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang yang menghafal al-Qur’an adalah bagaikan unta yang diikat. Jika diikat, unta itu tidak akan lari. Dan apabila dibiarkan tanpa di ikat, maka dia akan pergi.”
Dalam riwayat Muslim yang lain terdapat tambahan,

HR. Muslim No. 789
“Apabila orang yang menghafal al-Qur’an membacanya di waktu malam dan siang hari, dia akan mengingatnya. Namun jika dia tidak melakukan demikian, maka dia akan lupa.”

muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html
Membaca al-Qur’an adalah perdagangan yang tidak pernah merugi
QS. Fatir[35]: 29-30
“(29) Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (30) Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Bagaimana ceritanya membaca al-Qur’an itu perdagangan yang tidak merugi?
(1) Satu hurufnya diganjar dengan satu kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan
HR. Tirmidzi. Dishahihkan dalam kitab Shahih al-Jami’ No. 6469
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang membaca satu huruf al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan alif-laam-miim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf.”

Atsar riwayat ad-Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat al-Ahadits ash-Shahihah No. 660
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Pelajarilah al-Qur’an ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk Alif-Laam-Miim, akan tetapi untuk Alif, Laam, Miim setiap hurufnya sepuluh kebaikan.”

Paham atau tidak, semua mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana yang dijanjikan (insya Allah). Karena tidak ada dalil yang mengkhususkan pahala tersebut hanya bagi yang berhasil paham setelah belajar.

(2) Kebaikan akan menghapuskan kesalahan
QS. Hud[11]: 114
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”

(3) Seratus ayat pada suatu malam = pahala shalat sepanjang malam
HR. Ahmad. Dishahihkan dalam kitab Shahih al-Jami’ No. 6468
Tamim ad-Dary radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang membaca seratus ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.”

(4) Ayat al-Qur’an lebih bernilai jika jika dibaca dalam shalat
HR. Muslim. Sayangnya pada muslim.or.id tidak dilampirkan nomornya.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya tiga onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para sahabat) menjawab, “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.”.

Lagi-lagi para pembaca al-Qur’an hanya akan mendapatkan kebaikan dan kebaikan, kali ini sesuai dengan kefasih-annya
HR. Muslim. Tidak disebutkan lagi nomornya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seorang yang lancar membaca al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al-Qur’an dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.”

Mengikuti petunjuk setelah paham. Paham kalau tidak salah tafsir. Dua di antara sekian tafsir masyhur: ath-Thabari (Ibnu Jarir) & Ibnu Katsir, insya Allah selain tidak salah tafsir, juga totalitas dalam penafsiran.

Salah satu barometer buat yang merasa cinta Allah, cinta Rasul
Atsar shahih diriwayatkan dalam kitab Syu’ab al-Iman, karya al-Baihaqi (tidak ada nomor dicantumkan)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai al-Qur’an maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

muslim.or.id/9030-keutamaan-keutamaan-al-quran.html
Obat penyakit hati, hidayah, rahmat (bagi orang-orang yang beriman)
QS. Yunus[10]: 57
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

QS. al-Israa'[17]: 82
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (al-Qur’an) hanya akan menambah kerugian.”

HR. Muslim No. 2699 dalam kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a’ wa at-Taubah wa al-Istighfar
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan meliputi mereka, para malaikatpun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun akan menyebut nama-nama mereka di antara para malaikat yang ada di sisi-Nya.

Ilmu (al-Qur’an), alat Allah untuk mengangkat dan menghinakan sebagian kaum
HR. Muslim No. 817 dalam kitab Shalat al-Musafirin
Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah di antara Mekah dan Madinah). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai Gubernur Mekah. Maka ‘Umarpun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?” Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?” Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk mempimpin mereka?” Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.”.

Rujukan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
QS. an-Nisaa'[4]: 59
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
–[6]

[7]–
TENTANG DZIKIR

DZIKIR, AMALAN YANG UTAMA
QS. al-‘Ankabut[29]: 45
“Bacalah Kitab (al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

HR. Tirmidzi | kabarmakkah.com/2016/05/inilah-amalan-yang-paling-utama.html
“Maukah aku ingatkan kalian dengan suatu amalan yang paling baik, amalan yang paling suci pada apa yang kalian miliki, paling tinggi derajatnya, lebih baik dan utama bagi kamu sekalian daripada menginfaqkan emas, lebih baik bagi kamu sekalian daripada kalian berhadapan dengan musuh, kalian pukul lehernya dan merekapun memukul leher kalian?” Para Sahabat menjawab, “Tentu kami mau, Ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Mengingat Allah.”

TENTANG “LAA ILAHA ILLALLAH” | rumaysho.com/643-keutamaan-qkalimat-laa-ilaha-illallahq.html
Merupakan dzikir yang paling utama
Hadits marfu’, dinilai hasan oleh syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62
“Dzikir yang paling utama adalah bacaan ‘laa ilaha illallah’.”

Merupakan dzikir dengan ganjaran yang paling besar
HR. Bukhari, No. 3293 & HR. Muslim, No. 7018
“Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syay-in qodir’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu) dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.”

Merupakan ‘kunci’ dari delapan pintu surga
(1) asyhadu allaa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah, (2) wa anna muhammadann ‘abduhu wa rasuuluh, (3) wa anna ‘iisa ‘abdullahi wabnu amatihi, (4) wa kalimatuhu al qaahaa ilaa maryama wa ruuhu minhu, (5) wa annal jannata haqqu, (6) wa annannaara haqqu.
“Barangsiapa mengucapkan ‘(1) saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, (2) Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, (3) dan (bersaksi) bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, (4) dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, (5) dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya, (6) dan (bersaksi pula) bahwa neraka adalah benar adanya’, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.”

Merupakan ‘harga’ surga
HR. Muslim, No. 873
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, “Engkau terbebas dari neraka.”

HR. Abu Daud. Dikatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam Misykatul Mashobih, No. 1621
“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”

Merupakan kebaikan yang paling utama
Dinilai hasan oleh syaikh al-Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55
Abu Dzar berkata, “Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan, karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (laa ilaha illallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”

TENTANG “SUBHANALLAHI WA BIHAMDIH”
Dzikir yang ringan di lisan, berat di timbangan | muslim.or.id/534-ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html
HR. Bukhari, No.7573 (pada rumaysho.com No. 7563) & HR. Muslim, No. 2694
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.”

Subhanallah – Maha Suci Allah, bermakna pengakuan bahwa Allah suci dari segala aib dan kekurangan serta sempurna dari segala sisi.

Wa Bihamdih – dan segala puji bagi-Nya, bermakna bahwa karunia dan kebaikan yang telah Allah limpahkan kepada kita adalah sempurna.

Subhanallahil ‘Adzim – Maha Suci Allah Yang Maha Agung. Maknanya ialah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah ta’ala, dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah itu Maha Agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya
(Original, lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li ibni Utsaimin, 3/446)

Merupakan dzikir yang paling disukai Allah | ummi-online.com/inilah-dzikir-yang-paling-disukai-allah.html
HR. Muslim, No. 4911
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajukan pertanyaan kepadaku, “Hai Abu Dzar, maukah engkau aku beritahukan tentang ucapan yang disenangi Allah?” Aku menjawab, “Ya, aku mau, ya Rasulullah. Beritahukanlah kepadaku tentang ucapan yang disenangi Allah.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah adalah ‘subhanallahi wabihamdih’.”

HR. Muslim, No. 4910
Dari Abu Dzar bahwasanya Rasuullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya seseorang, “Apakah ucapan dzikir yang paling afdhal, ya Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Yaitu ucapan dzikir yang dipilihkan Allah bagi para malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya, ‘subhanallahi wa bihamdih’.”

Seratus kali, maka dosanya akan diampuni, walau sebanyak buih di lautan | ummi-online.com/inilah-dzikir-yang-paling-disukai-allah.html
HR. Bukhari, No. 5926
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barangsiapa mengucap subhanallahi wa bihamdih sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.”

HR. Muslim, No.4857
Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca subhanallahi wa bihamdihi seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih di lautan.”

HR. Tirmidzi, No. 3466
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucap subhanallahi wa bihamdih seratus kali, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya, meskipun seperti buih lautan.”

HR. Ibnu Majah, No. 3798
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, subhanallahi wa bihamdih seratus kali, maka diampunilah dosa-dosanya walau (banyaknya) seperti buih di lautan.”

Jumhur ulama menegaskan dosa dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil.

Tiada orang lain yang melebihi pahalanya
HR. Muslim, No. 4858
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa kala pagi dan sore membaca subhanallahi wa bihamdihi sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tiada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.”

EMPAT UCAPAN YANG PALING DISUKAI ALLAH | rumaysho.com/1277-keutamaan-empat-kalimat-mulia.html
1. subhanallah (tasbih)
2. alhamdulillah (tahmid)
3. laa ilaha illallah (tahlil)
4. Allahu akbar (takbir)

HR. Muslim, No. 2137
Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat ucapan yang paling disukai Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.”

HR. Muslim, No.2695
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya membaca ‘subhanallah (Maha Suci Allah) walhamdulillah (segala puji bagi Allah) wa laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) wallahu akbar (dan Allah Maha Besar)’ adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” | al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Segala sesuatu yang dikatakan antara langit dan bumi, atau dikatakan lebih baik dari sesuatu yang terkena sinar matahari atau tenggelamnya, ini adalah ungkapan yang menggambarkan dunia dan seisinya.” – Faidul Qodir, Al Munawi, Masqi’ Ya’sub 5/360

HR. Ahmad, 6/344. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat ash-Shilsilah ash-Shohihah, No. 1316
Dari Ummi Hani’ binti Abu Thalib dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk.” Beliau bersabda, “Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma’il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali.” Ibnu Khalaf berkata: saya mengira beliau bersabda, “Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu.”

HR. Ahmad, 2/158. Sanadnya hasan.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.”

HR. Tirmidzi, No. 3462. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan, kemudian ia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhanallahi wal hamdu lillahi laa ilaaha illaahu wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar)”.”.

HR. Ahmad, 2/302. Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanadnya shahih
Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha Suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah Maha Besar). Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya.”

3 JENIS DZIKIR | rumaysho.com/1699-mengenal-jenis-dzikir.html
Kitab al-Wabilush Shoyyib, Madarijus Salikin, Jala-ul Afham

Jenis 1. Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya. Terbagi menjadi dua macam:
Macam Pertama: Sekedar menyanjung Allah. Contoh:
– subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar
– subhanallah wa bihamdih
– laa ilaha illallah wahdahu laa yarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir
Macam Kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contoh:
– Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya
– Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya
– Allah Maha Menyayangi hamba-Nya

Jenis 2. Dzikir dengan mengingat perintah, larangan, dan hukum Allah. Terbagi menjadi dua macam:
Macam Pertama: Mengingat perintah dan larangan Allah, apa yang Allah cintai dan apa yang Allah murkai
Macam kedua: Mengingat perintah Allah lantas segera menjalankannya dan mengingat larangan-Nya lantas segera menjauh darinya.

Jenis 3. Dzikir dengan mengingat berbagai nikmat dan kebaikan yang Allah beri.
–[7]

[8]–
Puasa yang Paling Dicintai Allah & Shalat yang Paling Dicintai Allah
HR. Al-Bukhari, 4/195; HR. Abu Dawud, 2448; HR. Imam Ahmad, 2/160; HR. An-Nasa’i, 3214
“Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud, dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Dahulu, dia tidur setengah malam lalu shalat sepertiga malam lalu tidur lagi seperenam malam, dan dia juga puasa sehari lalu tidak puasa sehari.”
–[8]

[9]–
TENTANG SHALAT ISYRAQ | muslim.or.id/1872-keutamaan-shalat-isyroq.html

Shalat subuh berjamaah di masjid + i’tikaf setelahnya untuk berdzikir hingga matahari terbit + shalat dua rakaat = dapat PAHALA HAJI & UMRAH, SEMPURNA! SEMPURNA! SEMPURNA!
HR. at-Tirmidzi, No. 586. Dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah”, No. 3403
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di masjid[9.1] – untuktentang berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.”

[9.1]: HR. ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul Kabir”, No. 7741. Dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri.

Penamaan “Isyraq”, yakni dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu (Sahabat). Lihat kitab “Bughyatul Mutathawwi”, hal. 79.

Yang waktunya di awal waktu shalat dhuha. Lihat kitab “Tuhfatul Ahwadzi”, 3/157 dan “Bughyatul Mutathawwi”, hal. 79.

‘…sampai matahari terbit…’ maksudnya sampai matahari terbit (masuk waktu syuruq), lalu agak naik setinggi satu tombak (masuk waktu isyraq). Lihat kitab “Tuhfatul Ahwadzi”, 3/158.

Yakni sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit. Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul Mumti”, 2/61.

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam & ketika lurus di tengah-tengah langit. Lihat HR. Muslim, No.831.

Dikuatkan dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat subuh, beliau duduk (berdzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi.”. Lihat HR. Muslim, No. 670 & at-Tirmidzi, No. 585.

Dalam prosesi dzikir dari ba’da subuh hingga masuk waktu isyraq, tidak boleh berbicara atau melakukan hal yang tidak termasuk ke dalam dzikir. Kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar masjid untuk berwudhu dan segera kembali ke masjid. Menurut keterangan salah seorang syaikh di Kota Madinah dari tim muslim.or.id

Maksud “berdzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca dzikir di waktu pagi, mengakses ilmu Allah melalui majlis ilmu dengan majelis ilmu, maupun dzikir-dzikir lain yang disyari’atkan.

Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah. Lihat kitab “Tuhfatul Ahwadzi”, 3/158.
–[9]

[10]–
Sepuluh Rakaat Shalat Rawatib
Muttafaq Alaih (Hadits yang disepakati keshahihannya) | Minhajul Muslim | BAB 8 | Materi Kesebelas | C. Shalat Rawatib
Berdasarkan penuturan Ibnu Umar Radhiallahu Anhu, “Aku Menghapal dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat sesudah maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sebelum subuh.

Dua Belas Rakaat Shalat Rawatib Setiap Hari = 1 (Satu) Istana di Surga
HR. Muslim, 728 | https://almanhaj.or.id/3777-perhatian-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-terhadap-shalat-dua-rakaat-sebelum-subuh.html
Dari Ummu Habîbah Radhiyallahu anhuma , istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang Muslim melakukan shalat sunnat karena Allah, (sebanyak) dua belas raka`at dalam setiap hari, kecuali Allah Azza wa Jalla akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga”. (Kemudian) Ummu Habîbah Radhiyallahu anhuma berkata: “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut”

Utamanya Empat Rakaat Sebelum Dzuhur
HR. Al-Bukhari, 247
Berdasarkan penuturan Aisyah Rahiallahu Anha, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah ketinggalan empat rakaat sebelum Dzuhur.”

Empat Rakaat Qobliyah & Empat Rakaat Ba’diyah Dzuhur, Allah Mengharamkan Neraka Untuknya
HR. At-Tirmidzi, 428; HR. Ibnu Majah no. 1160. Syaikh Al Albani menshohihkan hadits ini dalam Shohih wa Dhoif Sunan Ibnu Majah | https://rumaysho.com/20-shalat-sunnah-rawatib-di-waktu-zhuhur.html
Dari Ummu Habibah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan neraka baginya.”

Shalat Sunnah Qabliyah Lima Waktu
HR. Ad-Daraquthni, 1/266
“Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat shalat.”

Mengerjakan Empat Rakaat Qabliyah Ashar Didoakan Mendapat Rahmat Allah
HR. Abu Dawud, Kitab At-Tathawwu’, 8; HR. At-Tirmidzi, 430. Hadits hasan
“Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum ashar.”

Dua Rakaat Shalat Sunnah Fajar Lebih Baik dari Dunia & Seisinya
HR. Muslim, 725 | https://rumaysho.com/3301-keutamaan-shalat-sunnah-sebelum-shubuh.html
dari ‘Aisyah di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
dalam lafazh lain,
‘Aisyah berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh, “Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya”
–[10]

[11]–
TENTANG WUDHU

almanhaj.or.id/754-wudhu.html
Tata cara. Anjuran selengkapnya untuk sebelum, saat dan setelah wudhu silahkan buka link di atas.
Muttafaq ‘alaihi: shahih Muslim I/204 No. 226, shahih Bukhari Fat-hul Baari I/266 No. 164, Sunan Abi Dawud ‘Aunul Ma’buud I/180 No.106, Sunan an-Nasa’i I/64
Dari Humran bekas budak “utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu,
“Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitu pula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitu pula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata dalam hati dalam kedua rakaat tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.””

Ibnu Syihab mengatakan bahwa para ulama kita berkata, “Wudhu ini adalah wudhu paling sempurna yang dilakukan seseorang untuk shalat”

darussalaf.or.id/fiqih/hikmah-dan-keutamaan-wudhu/?fdx_switcher=true
Pembersih Dosa
HR. Muslim No. 244
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan akhir wudhu. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu atau bersama atau bersama tetesan akhir air wudhu, hingga ia selesai dari wudhunya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.”

Anggota Wudhu akan Bercahaya pada Hari Kiamat
HR. al-Bukhari No. 136 & Muslim No. 246
Dalam riwayat lain
Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Tahukah kalian bila seorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan akan mengenali kudanya?” Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu mereka.”

Mengangkat Derajat Di Sisi Allah subhanahu wata’ala
HR. Muslim No. 251
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya?” Para sahabat berkata, “Tentu , wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Menyempurnakan wudhu walau dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan ar-Ribath.”

Syarat Sah Shalat
HR. al-Bukhari No. 135 & Muslim No. 225
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu.”
al-Ausath 1/107
Ijma’ (kesepakatan) para ‘Ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu tersebut.

Berwudhu Ketika Hendak Pergi ke Masjid
HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dishahihkan asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ No.454
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang dari kalian berwudhu, lalu ia menyepurnakan wudhunya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.”

Berwudhu Sebelum Tidur
HR. al-Bukhari No. 6311 & Muslim No. 2710
Dari al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.”

Menjauhkan Campur Tangan Setan dalam Hubungan Suami-Istri
HR. Muslim No. 308, at-Tirmidzi, Ahmad, dishahihkan asy-Saikh al-Albani dalam ats-Tsamarul Mustathob Hal. 5
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seseorang telah berhubungan dengan istrinya, kemudian ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu.”

HR. al-Bukhari No. 141 | Tentang doa untuk berhubungan suami-istri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Bismillahillahumma jannabnassyaithoona wajannabissyaithoona maarozaqtanaa.”
Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan (gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rejekikan kepada kami.”

–[11]

[12]–
–[12]

[13]–
Ayyamul Bidh. Puasa Tiga Hari dengan Ganjaran Seperti Puasa Satu Tahun Penuh
HR. An-Nasa’i, dinilai shahih oleh Ibnu Hibban
Berdasarkan penuturan Abu Dzar R.A., “Kami diperintah oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berpuasa di tiga hari Ayyamul Bidh tiap bulannya, yaitu 13, 14, dan 15.” Dia berkata, “Seperti puasa setahun.”
–[13]

[14]–
Puasa Senin-Kamis
HR. Imam Ahmad, 2/329, sanadnya shahih
“Sesungguhnya amal perbuatan diserahkan (dilaporkan) setiap hari Senin dan Kamis, kemudian Allah mengampuni dosa setiap Muslim atau setiap Mukmin kecuali bagi dua orang yang saling memutuskan hubungan” Dia berkata, “Tunda bagi mereka berdua.”
–[14]

[15]–
https://rumaysho.com/3388-cinta-dunia-dan-takut-mati.html
–[15]

[16]–
Tentang Ijin Suami sebagai Syarat Sah Puasa Sunnah Seorang Istri | https://rumaysho.com/1251-wanita-menjalankan-puasa-sunnah-harus-dengan-izin-suami.html
HR. Bukhari No. 5195 & Muslim No. 1026
“Tidaklah halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya ada (tidak bepergian) kecuali dengan ijin suaminya.”

HR. Abu Dawud No. 2458. An Nawawi dalam Majmu’ (6/392) mengatakan, “Sanad riwayat ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.”
“Tidak boleh seorang wanita berpuasa selain Ramadhan sedangkan suaminya sedang ada (tidak bepergian) kecuali dengan ijin suaminya.”
–[16]

[17]–
Berapapun Kecilnya Amal Nicaya Allah Berikan Balasan
QS. Luqman[31]: 16
“(Lukman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti””

Penjelasan ‘Maha Halus’ di Qur’an Tafsir Al-Fatih: “Maha Halus” ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimanapun kecilnya.
–[17]

[18]–
Puasa adalah Perisai dari Api Neraka
HR. Imam Ahmad/2/414; HR. An-Nasa’i/4/167
“Puasa adalah perisai dari api neraka, seperti perisai masing-masing kalian pada saat beperang.”

Satu Hari Puasa Menjauhkannya Dari Api Neraka Sejauh Tujuh Puluh Musim Semi
HR. At-Tirmidzi/1622; HR. An-Nasa’i/4/172; HR. Ibnu Majah/1718; HR. Imam Ahmad/2/300:375
“Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala maka Allah akan menjauhkannya dari api neraka karena satu hari itu sejauh perjalanan tujuh puluh musim semi.”

Doa Orang Berpuasa (saat berbuka) Tidak Tertolak
HR. Ibnu Majah/1753; HR. Al-Hakim1/1/422, dinilai shahih
“Sesungguhnya orang yang berpuasa, memiliki doa yang tidak tertolak ketika berbuka.”

Orang Berpuasa Disediakan Pintu Khusus (Ar-Rayan) pada Hari Kiamat
HR. Al-Bukhari, 3/32; HR. Muslim, Kitab Ash-Shiyam, 166; HR. An-Nasa’i, Kitab Ash-Shiyam, 142
“Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang bernama Ar-Rayan. Pada Hari Kiamat orang-orang yang ahli puasa akan masuk melaluinya, dan tidak akan dimasuki oleh orang-orang selain mereka. (Pada saat itu) Ada yang berseru, “Manakah para ahli puasa?” seketika itu mereka bangkit dan tidak ada yang memasuki pintu itu kecuali mereka. Ketika mereka telah memasukinya maka pintu ditutup, dan tidak ada lagi yang masuk melaluinya.”

DEJARAT TAKWA
QS. Al-Baqarah[2]: 183
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Niscaya Sehat
HR. Az-Zubaidi, Ittithaf As-Sadat Al-Muttaqin, 7/401; HR. Al-Munziri, At-Targhib wa At-Tarhib, 2/83
“Puasalah, niscaya kalian sehat.”

Amal Ibadah Manusia Dilipatgandakan, Kecuali Puasa. Penjelasan lihat QS. Az-Zumar[39]: 10 Di Bawah
HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Pahala Puasa Berbeda dengan Amal Soleh yang Lain Karena Sabar. Sabar, Pahalanya adalah Tak Berbatas. Dalil Aqli: https://muslim.or.id/17313-kajian-ramadhan-4-pahala-puasa-untuk-allah.html
QS. Az-Zumar[39]: 10
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
–[18]

[19]–
SHALAT TATHAWWU’ / SHALAT SUNNAH MUTLAQ | Minhajul Muslim | BAB 8 | Materi Kesebelas | D. Shalat Tathawwu’ atau Shalat Sunnah Mutlaq

HR. At-Tirmidzi, 2911. Hadits Shahih
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Allah tidak memberi ijin kepada hamba-Nya mengerjakan sesuatu yang lebih utama daripada dua rakaat shalat, karena sesungguhnya kebaikan benar-benar ditaburkan di atas kepalanya selama dia melaksanakan shalat.

HR. Imam Ahmad, 3/500
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda kepada orang yang meminta dikumpulkan bersamanya di Surga, “Bantulah aku mengabulkan permintaanmu dengan engkau memperbanyak sujud.

Shalat Sunnah Tathawwu’, Penambal Shalat Fardhu yang Cacat, Penambal Amal-Amal Lainnya yang Juga Cacat
HR. Al-Hakim, 1/262
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya hal pertama yang akan dihisab dari amal perbuatan seseorang pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah bertanya kepada para malaikat (Dan Allah lebih tahu dari para malaikat) “Perhatikanlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya ataukah dia menguranginya?”, Seandainya sempurna shalatnya maka ditulis sempurna, dan apabila kurang sempurna maka Dia berfirman “Perhatikanlah apakah hamba-Ku mengerjakan shalat tathawwu’?” Seandainya mengerjakan shalat tathawwu’ maka Dia berfirman, “Sempurnakanlah bagi shalat fardhu hamba-Ku dari shalat tathawwu’nya ini.” Kemudian amal-amalnya yang lain juga diperlakukan seperti itu.”

Waktu Pengerjaannya Boleh Siang-Malam Kecuali Lima Waktu yang Tidak Diperbolehkan Shalat Sunnah:
1. Setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari.
2. Dari terbitnya matahari sampai matahari naik sepenggalan.
3. Ketika seseorang berada di tepat pertengahan siang hari (tidak ada bayangan) sampai dengan matahari tergelincir.
4. Setelah tergelincirnya waktu ashar sampai langit berubah jingga.
5. Dari langit berwarna jingga sampai terbenamnya matahari.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada Amr bin ‘Abasah yang bertanya kepada beliau tentang shalat,

HR. Muslim, Kitab Shalat Al-Musafirin, 52
“Tunaikanlah shalat subuh kemudian berhenti sampai matahari terbit dan meninggi, karena ia terbit di antara dua tanduk setan dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud. Setelah itu kerjakanlah shalat, karena shalat pada saat itu dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat sampai dengan bayangan anak panah hampir hilang (mendekati pertengahan siang), setelah itu berhentilah mengerjakan shalat, karena pada saat itu dikobarkan api jahannam. Shalatlah pada waktu setelah tergelincirnya matahari karena waktu tersebut dihadiri dan disaksikan oleh para malaikat sampai datang waktu shalat ashar. Kemudian berhentilah shalat sampai dengan tenggelamnya matahari, karena matahari pada saat itu terbenam di antara dua tanduk setan, dan orang-orang kafir pada saat itu sedang bersujud.”
–[19]

[20]–
TENTANG SHALAT SUNNAH
Shalat sunnah lebih baik di rumah, baik wanita maupun pria (selama tidak melalaikan dari yang wajib) | konsultasisyariah.com/17530-tempat-shalat-sunah-yang-paling-afdhal.html
HR. Bukhari No. 731, Muslim No. 781, dan lainnya
“Wahai umat manusia, shalatlah kalian di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat wajib.”

HR. Abu Ya’la dan dishahihkan al-Albani dalam shahih al-Jami’, 7269
“Shalat sunnah yang dikerjakan seseorang di tempat yang tidak dilihat orang lain, senilai 25 kali derajat shalat sunnah yang dia kerjakan di tengah banyak orang.”
Terlepas dari konteks di atas, beberapa shalat sunnah memang tidak memungkinkan untuk dimigrasi ke rumah, dan ‘terpaksa’ di kerjakan di luar rumah seperti: shalat sunnah tahiyatul masjid di masjid, shalat id afdhal di masjid & area lapang, shalat gerhana afdhal di masjid, dst

Memang sebaiknya rumah diramaikan dengan shalat sunnah | rumaysho.com/1473-isilah-rumah-kita-dengan-shalat-sunnah.html
HR. Bukhari No. 1187, dari Ibnu ‘Umar
“Jadikanlah shalat kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan.”
Syarkh al-Bukhari, Ibnu Baththol, 5/191, asy-Syamilah
“Shalat seseorang di rumahnya adalah cahaya, maka hiasilah rumah kalian dengannya.”

HR. Bukhari No.731 & Ahmad 5/186, dengan lafazh Ahmad
“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib”
–[20]

[21]–
TENTANG SHALAWAT

almanhaj.or.id/3275-bagaimana-cara-shalawat-yang-sesuai-sunnah-dan-bolehkah-shalawat-diiringi-dengan-rebana.html
HR. Muslim No. 408
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.”

(1) Allah bershalawat baginya sepuluh kali, (2) digugurkan sepuluh dosanya, (3) ditinggikan sepuluh derajat/tingkatan di surga kelak | muslim.or.id/4078-keutamaan-membaca-shalawat.html
HR. an-Nasa’i No. 1297, Ahmad 3/102 & 261, Ibnu Hibban No. 904, al-Hakim No. 2018. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul Adabil Mufrad” No. 643
“Barangsiapa mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”

Shalawat Allah kepada hamba-Nya bukan berarti hanya sekedar ingat, mengucap & kata-kata yang tak berdampak, melainkan ada akibat penting & dibutuhkan seorang hamba yang bershalawat tersebut. Rahmat, taufiq, hidayah. Sebagaimana digambarkan Allah dalam,
QS. al-Ahzab[33]: 43
“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”

rumaysho.com/203-perbanyaklah-shalawat-di-hari-jum’at.html
Bershalawat, berhak mendapat syafa’at
Fadhlu ash Sholah ‘alan Nabiy No. 50, Isma’il bin Ismail bin Ishaq al-Jahdiy. Dikatakan shahih oleh syaikh al-Albani.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.”

(1) Anjuran banyak bershalawat pada hari jum’at, (2) Yang banyak bershalawat, yang paling dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat
HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi – yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”

Shalawat yang ada tuntunannya
(1) Fadhlu ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam No. 60. Syaikh al-Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih.
Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad an nabiyyil ummiyyi‘ (Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi).”

Tentang makna ‘al-Ummiyy’, jika merujuk pada shahih tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Baqarah[2]: 78-79, maka secara hafiah maknanya akan manjadi tidak bisa membaca dan menulis (buta huruf). Allah dalam QS. al-‘Ankabut[29]: 48 menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja dibuat tidak perlu memiliki kemampuan baca dan tulis, agar orang-orang yang ragu menjadi yakin bahwa al-Qur’an bukanlah karang-karangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Singkatnya kesan yang perlu dimunculkan untuk sifat al-Ummiyy-nya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bershalawat yakni: ekskluifitas Rasul (memang dialah yang diistemewakan untuk mengakses ilmu Allah tanpa perlu harus baca-tulis terlebih dahulu sebagaimana seharusnya orang biasa belajar ilmu Allah / mengarang kitab terkait islam), dan eksklusifitas al-Qur’an yang memang benar2 merupakan mukjizat (langsung) dari Allah. Bahkan bukan karangan manusia yang paling dimuliakan Allah ta’ala.

(2) Fadhlu ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam No. 56. Syaikh al-Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih
Dari ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah, ‘Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali ibrahim, innaka hamidun majid’ (Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”

(3) HR. Bukhari No. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.” (Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya sebagaimana Engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.)

HR. Bukhari No. 10
“Shalawat Allah adalah pujian-Nya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalawat (1) dari Allah adalah Rahmat, (2) dari malaikat adalah istighfar (permohonan ampun) dan (3) dari manusia adalah do’a.

Shalawat di luar dari tiga yang disyari’atkan di atas BELUM TENTU TIDAK SESUAI TUNTUNAN. Dalil akli dan naqli pada ringkasan shalawat ini sangat terbatas dan kaku. Dan memang hanya dibatasi untuk yang jelas-jelas saja. Serta tidak mengharuskan pembaca memiliki pemahaman yang terlalu kompleks untuk mengetahui kejelasan asal-usul dalilnya.
–[21]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s