JIKA KULIAH AMBIL MENTAHNYA SAJA

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Selamat datang kembali di blog mengarang bebas.

Basa-basinya begini, “Bla”.

Jadi, asumsikan anda memutuskan untuk tidak kuliah karena wasting time.
Biaya akademis dari awal masuk hingga mengantongi ijazah + biaya hidup selama +- 4,5 tahun asumsikan
= 100 juta

Kita potong dulu buat biaya pelatihan keterampilan profesional + living cost + sertifikasi dasar yang diperlukan sebesar 20 juta.
100 – 20 = 80 juta.

Latihan asumsikan 4 bulan paling lama.

Kita kurangi 4,5 tahun dengan 4 bulan
= 4th ((12 x 0,5) – 4)
= 4th (6 – 4)
= 4th 2bln

Setelah anda lulus lembaga pelatihan keterampilan anda kerja selama 4 tahun 2 bulan dengan gaji katakanlah sekitar 2,5 juta. Anggaplah anda apes, tidak naik gaji, tidak dapat tunjangan, tidak dapat uang lembur, tidak dapat uang THR, tidak dapat bonus ini itu namun gaya hidup anda tidak hedon, berani bilang “tidak” untuk ajakan makan di luar dan foya-foya. Asumsikan biaya hidup dan tetek bengek lainnya (di luar kebiasaan hedon) 2 juta. Yang bisa diselamatkan jadinya berapa? 500 ribu perak. Pinter.

500.000 x ((4 x 12 bulan) + 2 bulan)
= 500.000 x (48 + 2)
= 500.000 x 50
= 25.000.000

Anda punya 80 (modal kuliah) + 25 juta yang diselamatkan.
= 105.000.000

Anda punya modal 105.000.000 untuk resign dan buka usaha.

Kita tinjau dari aspek paling ‘primitif’ dan mudah dipahami kalau mau buka usaha:
1. Place
2. Product
3. Price
4. Promotion

Nomor 1 harus prioritas. Mengapa? nanti juga anda tau sendiri.

Juga lahan parkir sebaiknya dibikin cukup luas. Kalau memang diperlukan kalahkan saja ruang dagang untuk parkir. Mengapa? nanti juga anda tau sendiri.

Sisanya 2, 3, 4 saya serahkan kepada daya imajinasi dan kreasi anda.

Itu saja. Selesai hajat saya. Target saya menulis ini sebenarnya tidak lain hanya ingin orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama. Bukan kuliahnya, kuliah itu penting untuk sebagian orang dengan kebutuhan tertentu dan kalau bisa kuliah. Namun jika anda memutuskan tidak kuliah, pastikan anda tau arah, punya sesuatu yang lebih worth untuk diperjuangkan daripada jenjang pendidikan akademis, memiliki target yang jelas, juga mampu mengelola keuangan dengan bijak, serta terakhir, jadi bos buat orang-orang yang mencari arah dengan jalur kuliah.

Sebagai penutup, saya ada bahan renungan untuk bersama.

Golongan berharta ingin berilmu. Golongan berilmu ingin berharta. Golongan berharta dan berilmu ingin rupawan dan bernasab baik. Golongan berilmu, berharta, rupawan, bernasab baik, ingin jadi golongan yang biasa-biasa saja, punya banyak waktu & kehidupan yang normal, berbahagia serta mendapat hidayah.

Sekuat apapun kita coba meraih nikmat yang lain, kita hanyalah diri kita sendiri. Kita hanya mendapatkan tidak lebih apa yang sudah dibatasi. (Di dunia) kita hanya akan memiliki apa yang akan digariskan. Sebaiknya hemat energi untuk menangkap sinyal-Nya. Coba dirasa dan dilogika sebenarnya Dia mau-Nya kita jadi apa. Jalankan tugas apa. Terima. Jalani. Nikmati setiap fasenya. Jangan lupa untuk tetap low, sadar diri & bersyukur 🙂


Oh iya lupa. Aset yang terapresiasi (tidak terdepresiasi/mengalami penyusutan untuk jangka panjang) 2 besar di antaranya:
1. Emas
2. Tanah

Saham tidak saya masukkan. Karena sebaik-baik sahampun probabilitasnya untuk masuk ke ranah ribawi sangat besar. Mentok2 syubhat. Barang siapa meninggalkan yang syubhat maka terhindar dari yang haram. Insya Allah.


Wallahu A’lam
Wassalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s