NAK

Bapak: “Nak”

Anak: “Hm”

Bapak: “Ini kayak apa caranya Nak”

Anak: “Apa Pak?”

Bapak: “Cara make komputer ini kayak apa caranya Nak?”

Anak: “Wah, Laptop baru nih!”

Bapak: “Nggak baru juga sih, ya tapi Alhamdulillah”

Anak: (sambil menekan tombol power) “Dinyalakan dulu pak. Charger-nya mana Pak?”

Bapak: “Waduh ndak ngerti Bapak Nak, mungkin ada di tasnya.” (Melihat ke arah tas)

Anak: (Mengambil tas, mengeluarkan charger adapter dan melakukan pengisian daya laptop)

Bapak: (Mengamati Sang Anak)

Anak: “Bapak dikasih kantor kah ini?”

Bapak: “Endak Nak, Bapak beli.”

Anak: “Bapak ndak bisa pakai laptop terus buat apa dibeli Pak?”

Bapak: “Ya, Bapak kan juga pengen kayak orang-orang Nak, bisa sercing-sercing brosing-brosing, internetan, dengan mudahnya dapat informasi, ketak-ketik, dapat amal jariah dengan mudahnya. Pas kebetulan teman Bapak juga lagi butuh uang.”

Anak: “Oh.”

Bapak: “Kamu privat bapak bisa Nak?”

Anak: “Wohoho berani berapa Pak?”

Bapak: “Kamu maunya berapa sih?” (Dengan gaya mengambil dompet)

Anak: “Nggak usah banyak-banyak pak. Saya cuma mau satu aja.”

Bapak: “Apa itu Nak?”

Anak: “Satu kolam renang di tengah kota, satu hektar lahan kosong di tengah kota, satu ton emas batangan lengkap dengan sertifikatnya, satu vila.”

Bapak: “HAHHH!!!?”

Anak: (kaget), “Kenapa Pak?”

Bapak: “Cuman itu aja?”

Anak: “Ya becanda aja sih Pak”

Bapak: “Tapi kalau dikasih ya nggak nolak juga ya kan.”

Anak: “Ya iyalah. Tapi males.”

Bapak: “Loh kenapa?”

Anak: “Males ngantri 500 tahun.”

Bapak: “Oh iya. Haha. Tapi kalau mau dapet lebih dari itu dengan sedikit usaha gampang aja Nak.”

Anak: “Oh ya? Gimana caranya Pak?”

Bapak: “Shalat sunnah fajar. Lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

Anak: “Iya Pak, pura-pura nanya aja tadi. Sudah tau.”

Bapak: “Sontoloyo.”

Anak: “Haha..”

Bapak: “Kamu nanti mau SMA di mana Nak?”

Anak: “Kan masih 2 tahun lagi Pak”

Bapak: “Kamu pengen jadi apa nanti kalau sudah besar Nak?”

Anak: “Pekerja biasa Pak, mungkin kalau sudah ahli jadi pengajar, atau pengusaha”

Bapak: “Nggak pengen jadi musisi?”

Anak: “Mau sih Pak, tapi enggaklah. Coba ketik di web browser dengan kata kunci ‘awal mula musik dan zina’. Memangnya kenapa Pak, tiba-tiba langsung menjurus ke situ?”

Bapak: “Enggak, Bapak cuman memastikan aja. Takutnya kayak orang, ada bapak tau orang itu, telat dapat arah. Ngooomel-ngomel. Usut punya usut, ternyata sudah tua baru ketemu dalil tentang musik. Itupun nggak sengaja sekrol-sekrol fb-nya eh tau-taunya ketemu. Marah-marah, gara-gara dari muda sampai tua kok nggak ada yang kasih tau kalau ternyata ada ayat Qur’an dan hadits yang bersinggungan dengan musik, dia kecewa, kenapa kok orang-orang pada diam, nggak ada yang ingatkan, nggak ada yang sharing, sekarang sudah menggantungkan penghasilan di dunia musik jadi stres, nggak punya skill lain. Menjalani hidup itu ya gelisah dianya. Baru tau kebenaran sekarang. Mau adaptasi bingung.”

Anak: “Oh.”

Bapak: “Nggak pengen jadi pegawai Bank? Gajinya gede lo Nak.”

Anak: “Pengen sih pak. Cuman ya, satu dirham dari riba lebih berat dosanya dari 36 zina.”

Bapak: “Satu dirham itu berapa rupiah Nak?”

Anak: “Nggak tau Pak. Coba kita browsing dulu.”

Bapak: “Ini bapak ketik apa ini Nak?”

Anak: “Dirham to rupiah. Nanti om gugel bakal ngarahin pencarian dengan kata kunci yang lebih tepat.”

Bapak: TAK! TAK! TAK!

Anak: “Loh Pak Pak Pak..!”

Bapak: “Kenapa Nak?”

Anak: “Ini bukan mesin tik Pak!”

Bapak: “Terus gimana ini caranya Nak?”

Anak: “Ya sudah nanti kita belajar ngetik 10 jari pakai aplikasi typing master. Sekarang kita ngetik 11 jari aja dulu. Jarinya telunjuknya di tempelkan dulu ke hurufnya, nah habis itu ditekan Pak, dengan kekuatan secukupnya.”

Bapak: tik

Anak: “Nah.. Gitu Pak, pinter.”

Bapak: “Kamu bagus jadi Guru Nak. Enak ngajarnya. Ndak bikin pusing. Bahasanya nggak telalu tinggi, mudah dicerna.”

Anak: “Ya sudah, jadi berapa rupiah pak 1 AED-nya?”

Bapak: “3,639.49 IDR. Ini apppaaa lagi Nak. Kok bodoh ini tulisannya. Yang mestinya koma jadi titik yang mestinya titik jadi koma. IDR itu apaaa lagi, nggak ada ‘Rp.’-nya pula. Ck ck ck.. Parah.”

Anak: “Standar penulisan internasional memang begitu Pak. Tebalik koma sama titiknya. IDR itu gantinya ‘Rp.’ Pak.”

Bapak: “Ooo gitu. Maklum ya Nak ya. Haha.”

Anak: “Mau cari apa lagi Pak?”

Bapak: “Mau cari hukumnya patung, gambar makhluk bernyawa selain tumbuhan, kredit rumah syari’ah yang harganya di-mark-up di depan.”

Anak: “Ya tulis aja pak di situ. Sambil dilihat pak sumbernya. Referensi-referensi dari dalilnya. Ustadz yang nulisnya siapa.”

Bapak: “Haduh Nak, Bapak belum ngerti yang kayak gitu-gitu. Kamulah nanti kasih tau yah, sambil Bapak belajar pelan-pelan.”

Anak: “Ya. Insya Allah.”

Bapak: “Terus kayak apa caranya kita tau ini hoax atau bukan.”

Anak: “Wallahu A’lam ya Pak. Banyak-banyak sangka baik aja. Kalau mau yakin ya diuji pak kebenarannya. Kalau sifatnya teknis ya diuji, kalau perlu pakar ya datang ke pakar atau baca tulisan pakar. Soalnya nggak jarang saya telusuri, kadang ada yang kurang tepat, setelah dicari tau beda-beda. Kadang beda bukan berarti salah melainkan lebih tepat jika dipahami sebagai kebebasan hak pilih. Macem-macem pak. Intinya cuma 1, cari tau kebenarannya. Masalahnya ya cuman itu Pak. Makan waktu.”

Bapak: “Wah, bahaya juga ya kalau salah-salah.”

Anak: “Ya begitulah Pak.”

Bapak: “Bapak bersyukur, kamu waktu kecil nggak susah diajak belajar ilmu agama. Ngak banyak njawab kalau dinasehati orang tua. Disuruh nggak ngeluh. Dipanggil satu kali aja datang. Kamu tau nak, banyak di luaran sana orang itu menyesal dan kecewa karena kurang ilmu agama.”

Anak: “Maksudnya gimana ini Pak, bukannya orang-orang lebih senang kalau nggak banyak aturan, dibiarkan bebas, terlihat normal, yang penting berbahagia?”

Bapak: “Iya, mereka menikmati kebebasan. Dan sekali mereka dikasih Tuhan kesadaran tentang dunia, mereka kecewa dengan kenyataan bahwa mereka menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal-hal yang nggak bernilai di sisi Tuhan, hal-hal yang lebih banyak bawa mudharatnya daripada manfaat. Tidak punya kompetensi untuk pekerjaan yang minim atau tidak tersentuh dengan perkara-perkara yang dilarang. Mereka harus mulai dari nol. Hati mereka harus kerja keras untuk menaklukan gengsi dan gaya hidup yang menghabiskan terlalu banyak rupiah. Mereka kerja keras berbenah diri di masa tua. Sedang kamu Nak, kerja keras benah-benah dirinya di masa kecil dengan cara belajar. Nebas rumput biasa, pasang patok bisa, nyangkul bisa, ngurusin empang biasa, pegang ikan biasa, mainan lumpur biasa, liat ayam nggak jijik, hidup berdampingan sama kambing dan sapi juga biasa, bertani bisa, komputer ngerti, seenggaknya seumpama nanti ternyata ada garis kehidupan susah, kamu nggak kaget lagi sudah. Besar nanti tinggal ingat-ingat aja, mana yang boleh, mana yang baiknya dijauhi, mana yang ditinggalkan.”

Anak: “Alhamdulillah.”

Bapak: “Nggak mau nikah muda Nak?”

 

-oO   Tamat   Oo-

Barangsiapa yang tidak terima merasakan pahitnya belajar, maka jangan kaget kalau harus menerima pahitnya kebodohan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s