NAK 2 (LISENSI)

Bapak: “Nggak, nggak bisa.”

Ibu: “Ya tapi jangan terlalu begitu juga lah Pak. Kasian anak kita.”

Bapak: “Gini Buk, Bapak cuman nggak mau kalau sampai anak kita pas besar nanti mikirnya gini, “Kasian orang tuaku, sudah habis banyak, Aku harus kaya. Supaya usaha Bapak Ibu nggak sia-sia. Supaya Bapak Ibu bahagia.” Terus mindset anak kita jadi dollar hunter. Begitu adzan shalatnya nanti-nanti ngurusin kerjaan. Mestinya doakan kita malah habis waktu buat ngejar yang rata-rata dibawa cuma sampai umur 60 tahunan. Begitu maunya Ibuk?”

Ibu: “Ya nggak juga gitu Pak.”

Bapak: “Nah, itulah maksud Bapak Bu. Padahal bahagia kita itu kalau Nak jadi anak soleh. Kalau Nak jadi anak soleh, nanti di akhirat enak pertanggung jawaban kita Buk. Coba kalau Nak jadi anak salah, nanti Tuhan tanya, ini anaknya siapa ini kelakuannya salah-salah? Mana orang tuanya ini? Diajarin apa aja ini anaknya kok bisa jadi begini? Terus kita mau jawab apa Bu?”

Ibu: (Seketika Ibu mendekat ke Bapak) Cups!, “Iya pak.”

Bapak: (Memandang Ibu dengan pandangan kasih sayang lalu tersenyum)

Ibu: “Tumben Pak mulutnya nggak bau rokok lagi.”

Bapak: “Iya ini Buk. Sangking asiknya belajar ngetak-ngetik, brosang-brosing, sercang-sercing, Bapak jadi lupa ngerokok.”

Ibu: “Wah hebat juga Bapak ini. Padahal sudah lewat 50, masih pantang menyerah rupanya.”

Bapak: “Ya lah Buk. Kita baiknya tau sedikit-sedikit mainan anak kita. Supaya kalau ada arah-arah yang salah kan kita bisa bantu luruskan.”

Ibu: “Ajarin Ibu na Pak!”

Bapak: “Sini Buk pangku sama Bapak.”

Ibu: (Pangku di atas Bapak)

Bapak: (Menggenggam jemari Ibu dan menyisakan jari telunjuknya lurus ke depan. Menempelkan telunjuk kiri ke huruf F, telunjuk kanan ke huruf J) “Ibuk ada rasa tongolannya?”

Ibu: “Ya.”

Bapak: “Nah itu patokannya Buk. Sisa-sisa jari taruh di sampingnya.”

Ibu: “A-S-D-F J-K-L-:, Gitu ya Pak?”

Bapak: “Ya wajar saja anak kita pintar Buk, nurun dari Ibuknya ee.”

Ibu: Cups!

Bapak: (Kembali menggenggam jemari Ibu lalu menyisakan jari telunjuk. Mengetikkan sejumlah kata di textfield youtube menggunakan ’11’ jari Ibu)

Ibu: “Haduh Pak ini yang diketik kok bahasa alien.”

Bapak: (Dengan senyum yang stabil dan fokus menyelesaikan tulisannya) Ctakkk! “Enter!”

Komputer: Cet! Ct Ceeeng! “Especially for you.. I want to let you know what I was going through..”

Seketika saja suasana yang tadinya tenang menjadi syahdu.

Ibu: (Si Ibu mendorongkan bahunya manja kepada Bapak) “Ah Bapak!”

“Ceplak!” Pintu kamar terbuka. Nak yang tak berdosa melihat pemandangan Ibu berada di atas pangkuan sang Bapak, dengan tangan Bapak menggenggam tangan si Ibu, dengan ekspresi jari telunjuk Ibu yang sedang mengacung imut. Pergerakan membeku sejenak.

Komputer: “..Especially for you..”

Anak: “A..”

Komputer: “..I want to tell you, you mean all the world to me..”

Anak: (Dengan senyuman tak berdosa) “Enggak.. anu.. itu.. Nak tadi cuma mau matikan lampu..”

Nak pun mematikan lampu terang dan menyalakan lampu tidur. “Ceplak!” Pintu kamar tertutup, Nak kembali ke habitatnya.

Komputer: “How I’m certain that our love was meant to be..”

Ibu: “Tapi kan musik yang kayak gini baiknya jangan Pak.”

Bapak: “Iya..” (Mengarahkan kursor ke tombol exit) Klik.

Suasanya hening sesaat.

[Sensor]

[Keesokan harinya]

Terlihat Bapak sedang berpikir. Tiba-tiba Nak hadir.

Bapak: “Nak!”

Anak: “Ya.”

Bapak: “Sibuk?”

Anak: “Enggak Pak. Ini baru selesai kerjakan PR.”

Bapak: “Kita ngobrol-ngobrol santai dulu yuk.”

Anak: “Oke.” (Duduk)

Bapak: (Diam sejenak)

[5 Menit kemudian]

Bapak dan Anak berboncengan di atas motor.

Anak: “Kita mau ke mana ya Pak?”

Bapak: “Jalan-jalan sebentar.”

[20 Menit kemudian Di atas cor-coran di tepi sungai di pinggir kota]

Bapak: Srrruput! “Ck.. Ah…!”

Anak: Glug! Glug!

Bapak: “Kamu nggak pengen kah nanti kerja di naung-naung Nak? Kayak orang-orang.”

Anak: “Wah, kurang tau ya Pak. Saya lihat lowongan yang jelas-jelas ada uangnya malah yang keliatannya nggak enak Pak, macam kemarin saya lihat, teknik pertambangan, teknik geodesi/geomatika, teknik sipil, teknik elektro, teknik industri, teknik mesin, metalurgi/mineral processing, teknik geologi/geofisika, teknik kimia, keselamatan kesehatan kerja, teknik arsitektur, itu PT Freeport Indonesia Pak. Kayaknya gede gajinya.”

Bapak: “Iya. Memang. Daripada orang asing juga yang nggarap mending orang kita juga ya kan.”

Anak: “Iya Pak. Kalau kerja semua di naung-naung, bisa-bisa habis satu Indonesia. Pribumi tinggalnya di gedung yang sempit, tanah lapangnya dan udara segarnya jadi punya pendatang. Kiamat dong Pak.”

Bapak: “Ya sudah. Langsung ke poin aja. Bapak ini sebenarnya nggak tega juga liat kamu di panas-panas terus walaupun sebenarnya baik sekali kalau kamu terbiasa kerja keras di masa muda. Seenggaknya kamu nyicip sedikit gitu hidup kayak orang-orang. Poto-poto, pidiyo-pidiyo, jalan-jalan, menikmati hidup, tulis-tulis di internet. Malah itu ada yang kerjanya tambang tapi nggak tau gerak sama sekali. Apa itu namanya bitkoin-bitkoin apa gitu kalau nggak salah.”

Anak: “Iya.”

Bapak: “Gini aja sudah. Nanti Bapak kasih uang, Bapak minta tolong uangnya belikan kamera seken buat hiburan kita. Sekaligus belajar-belajar kan siapa tau menghasilkan.”

Anak: “Ini kedengarannya kolot ya Pak, kameranya boleh jadi empat atau lima juta, masalahnya software-nya yang mahal pak.”

Bapak: “Apa itu sopwer Nak?”

Anak: “Sebentar”

Si Anakpun berpikir, bagaimana caranya menjelaskan kepada si Bapak supaya bisa dengan mudah mengerti.

Anak: “A..! Gini Pak. Ini Bapak kan punya badan.”

Bapak: “Ya.”

Anak: “Badan cuma jadi bangkai kan kalau nggak ada ruhnya?”

Bapak: “Ya.”

Anak: “Nah, Laptop itu badan, software itu ruhnya Pak.”

Bapak: “Sebentar.” (Membayangkan laptop mati yang kemudian menyala), “O..! ya.. ya.. ya..”

Anak: “Kalau kita dikasih ruh kan gratis Pak sama Allah.”

Bapak: “Ya.”

Anak: “Nah kalau Laptop itu ruhnya ada yang gratis ada yang berbayar pak.”

Bapak: “O…! ya.. ya.. ya..”

Anak: “Kalau mau usaha yang berhubungan sama foto dan video, itu rata-rata software-nya sebaiknya yang berbayar Pak.”

Bapak: “Oh gitu. Berapa memangnya harga ruhnya Laptop itu.”

Anak: “Kalau hanya ruhnya itu kurang lebih 2 jutaan Pak.”

Bapak: “Bisalah diusahakan kalau segitu.”

Anak: “Iya, tapi kalau software buat olah foto dan videonya mungkin harus jual sapi yang paling gemuk dulu pak seekor.”

Bapak: “Hah? Kok mahal gitu Nak.. Mahal sopwer dari Laptopnya. Laptopnya lo nggak sampai dua juta Nak.”

Anak: “Ya begitulah Pak. Orang sekolah buat bikin software itu juga nggak murah Pak. Dapatkan ilmunya itu juga nggak mudah, dari malam tembus pagi, pagi tembus malam, kehidupan sosial tersita, tuanya rata-rata penyakit jantung. Saya liat-liat di internet, lulusannya itu juga nggak seberapa yang jadi Pak sangking susahnya bikin software. Wajarlah mahal.”

Bapak: “O… Gitu. Kalau sopwer-sopwer yang gratis gitu kenapa nak.”

Anak: “Bisa sih Pak. Sama-sama jadi foto, sama-sama jadi video, cuma..”

Bapak: “Cuma apa?”

Anak: “Susah saya jelaskannya Pak. Gimana kalau kita coba aja dulu. Daripada terlanjur beli macam-macam ya kan.”

Bapak: “Ya. Jadi kita ngapain sekarang?”

[tiga jam kemudian]

Tampak Bapak yang sedang kebingungan.

Bapak: “Nak ini kayak gimana cara makeknya? Kok beda sama tampilan Laptop Bapak yang sebelumnya?”

Anak: “Perkenalkan Pak, ini namanya ruh pinguin.”

Bapak: “Pinguin apaaa lagi.. Terus yang kemarin itu namanya apa Nak?”

Anak: “Jendela.”

Bapak: “Ah ndak paham Bapak.. Aplikasi belajar ketik Bapak mana Nak?”

Anak: “Udah nggak ada.”

Bapak: “HA?”

Anak: “Itulah Pak. Bingung ya Pak ya?”

Bapak: “Iya Nak.”

Lalu Anakpun mengeluarkan smartphone, mengaktifkan paket data dan hotspot smartphone. Bapak memperhatikan. Anak menyalakan wifi Laptop dan mengkoneksikannya dengan hotspot smartphone.

Bapak: “Kamu ngapain Nak?”

Anak: “Kasih Laptop Bapak koneksi internet. Supaya bisa diisi ruh buat Bapak belajar ketik.”

Bapak: “Kamu ini semakin canggih aja Nak.”

Anak: “Anaknya siapa dulu.. Nah ini sudah. Sekarang Bapak tekan kombinasi Ctrl+Alt+T. Boleh satu-satu tapi akhirnya harus ditekan bersamaan setelah itu langsung dilepas.”

Bapak: Ctrl+Alt+T

Lalu muncul box.

Bapak: “Ini apa nak”

Anak: “Ini namanya terminal. Bapak bayangkan sekarang pegang tongkat sakti yang akan melaksanakan apapun yang Bapak perintahkan.”

Bapak: “Jadi terminal ini si tongkat sakti, Bapak ini Nabi Musanya gitu ya Nak?”

Anak: “PINNNTAR SEKALI BAPAK. WAR BYASA.”

Bapak: “Ni kalau Bapak tulis berarti Bapak kasih perintah gitu?”

Anak: “CERDASSS!”

Lalu si Bapak melakukan input ke terminal

Anak: “Hahaha, ya nggak gitu juga pak perintahnya.”

Lalu si Bapak melakukan input lagi
Anak: “Hahaha..”

Bapak: “Ini terminalnya nggak ngerti apa gimana ini Nak?”

Anak: “Jadi bahasa yang mereka mengerti itu bukan bahasa manusia pada umumnya Pak, tapi bahasa manusia yang dapat diterjemahkan mesin. Sudah ada aturan dan bahasa tersendiri. Coba Bapak ketikkan sudo su.”

Bapak: (Mengetikkan: sudo su)

Terminal: (Meminta password)

Anak: (Memasukkan password)

Bapak: “Ah Bapak ndak paham Nak.. Ini Bapak cuma mau belajar ngetik aja. Sama brosang-brosing.”

Anak: “Software untuk browsing di pinguin ini sudah ada dari semula terinstal Pak. Tadi itu kita mengenalkan diri supaya terminal anggap kita pemiliknya. Nah sekarang terminal siap kita suruh buat instal-instal Pak.”

Bapak: “Ooo.. Gitu, ya.. ya.. ya..”

Anak: “Sekarang tuliskan apt-get install tuxtype”

Bapak: (Mengetikkan: apt-get install tuxtype)

Anak: “Enter Pak.”

Bapak: Ctakkk!

Terminal: (Menampilkan proses instalasi yang sedang berjalan)

Bapak: “Wuih!.. Canggihnya.. Kayak di tipi-tipi gitu ya nak. Apa itu namanya, heker? heker-heker apa gitu ya.. Kamu ini sarjana bukan tapi kok ngerti aja yang kayak gini-gini ini..”

Anak: “Jaman sekarang Pak, selama ada kemauan, sarana yang memadai, arah hidup yang jelas dan akses internet.. Apa aja jadi mungkin.” (Sambil menekan “Y” lalu “Enter”, setelah terminal menampilkan informasi yang untuk meminta persetujuan)

Bapak: “Oke.. oke.. oke..”

Anak: “Nah itu sudah selesai Pak. Coba tulis tuxtype.”

Bapak: (Menulis: tuxtype) Ctakkk!

Anak: “Nah ini dia.” (Sambil membuka fitur mengetik.)

Bapak: “Lucunya Nak, ikan-ikan jatuh ada hurufnya.”

Anak: “Itu langsung diketik aja Pak huruf-huruf yang jatuh.”

Bapak: “Oh.. Gitu?” (Mengetikkan semua huruf yang jatuh)

Suasana menjadi cair. Wacana multimedia production house pun hanya tinggal wacana. Bapak dan Anak larut dalam keasikan belajar perintah-perintah terminal. Bapak sudah lupa dengan rokoknya. Bapak sudah menggunakan jalur lisensi yang legal dalam menggunakan komputer, tidak lagi menggunakan software bajakan. Bapak tidak menyinggung wacana-wacana, menyadari rumitnya menggunakan perangkat lunak yang tak harus berbayar. Di kala sendiri Bapak mencoba mencari tau tentang lisensi. Ternyata software berlisensi bisa dicicil. Namun jalan untuk mencicil mengharuskan penggunaan kartu kredit yang mana hal tersebut akan masuk ke dalam ranah ribawi.

Bapak datang ke Bank syariah kepercayaannya.

Bapak: “Jadi nggak bisa ya mbak paypal ini pakai kartu debit yang saya punya.. Harus kartu debit atau kartu kredit Bank konvensional?”

CS: “Iya Pak, Mohon maaf sekali lagi ya pak ya..”

Menyadari dunia modern kurang berpihak kepada orang-orang yang memelihara agamanya, Bapak sedikit mengadu kepada Tuhan. Tentang harapannya agar Negara ini kelak dipimpin orang yang paham agama, memungkinkan aturan-aturan syari’ah lebih leluasa dan memiliki kekuatan serta kedudukan yang layak. Bapak kembali kepada anaknya dengan sedikit rasa kecewa kepada para pemimpin Negeri tercinta. Dari dulu dipimpin orang beragama Islam, namun dalam realitanya tak memberikan dampak yang signifikan dalam realisasi aturan agamanya, khususnya masalah perbankan. Bapak datang lagi ke bank syari’ah.

Bapak: “Mbak bisa tolong sampaikan ke pimpinannya? Supaya kartu debit bank syariah ini bisa dipakai transaksi langsung onlen-onlen luar negeri, atau bisa singkron sama paypal-lah minimal mbak, supaya bisa transaksi dari website resminya software jendela, supaya bisa dipakai transfer ke pinguin, beli ke adop ce es koleksien, atau kalau nggak, bisa tolong kasih tau Bapak Presiden. Supaya bank-bank semuanya dirombak aja sistemnya, jangan pakai konvensional, supaya aturan syari’ah kebagian tempat.”

CS: “Waduh Pak, mohon maaf, saya tidak ada kewenangan untuk masalah itu.”

Bapak: “Heran, ini Negeri macam apa.. Ya sudah mbak makasih ya.”

Wal hasil Bapak Pulang dan melanjutkan pencarian. Bapak berbetah-betah diri dengan pinguin. Mulai fasih menggunakan terminal beserta bahasa mesinnya. Lama-lama bapak terbiasa dan senang dengan antarmukanya yang manis.

Tiba masa ketika Anak sedang menggunakan Laptop si Bapak, muncul notifikasi yang meminta persetujuan untuk update. Kebetulan Bapak sedang melihat.

Bapak: “Nak itu tolong diklik update-nya, soalnya itu kadang ada keamanannya yang perlu diperbaharui, itu gantinya antivirus di jendela. Kalau nggak bisa sekarang, tolong nanti terminalnya di sudo su, masukkan password, enter, terus apt-get update. Bapak kerja dulu.”

Si anak terdiam sesaat, tersenyum lebar, perlahan menolehkan kepalanya kepada Bapak dengan segenap rasa pangling dan takjub.

Bapak: “Kenapa? Bapak hebat kah?”

[black screen]

Cet! Ct Ceeeng!

 

-oO Tamat Oo-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s