MR. PLAK

[50 tahun Mr. Plak]

Anak ke-6: Plak!

Anak ke-5: Plak!

Anak ke-4: Plak!

Anak ke-3: Plak!

Anak ke-2: Plak!

Anak ke-1: Plak!

Saudara Mr. Plak: “Jadi setelah Anak ketujuhmu ini meninggal, kamu mau ditampar siapa lagi? Semua orang yang pernah peduli dan masih punya kekuatan untuk tampar kamu sudah pergi.” (geleng-geleng kepala).

[30 tahun Mr. Plak]

Istri: Plak!

Mr. Plak: “Loh.. kenapa?”

Istri: “Astaga..” Plak!

Mr. Plak: ?

Istri: “Aku nggak habis pikir kamu masih belum sadar juga.”

Mr. Plak: “Iya tapi kenapa?”

Istri: “Jadi begini ya idiot ya.. Aku pernah tampar kamu 5 tahun yang lalu waktu semua orang tua kamu masih hidup.”

[25 tahun Mr. Plak]

Pacar: Plak!

Mr. Plak: “Loh.. ada apa ini?”

Pacar: “Coba kamu bantu aku dong sayang..” (sambil bertopang dahi)

Mr. Plak: “Bantu apa..”

Pacar: “Tolong aku, kamu cari teman yang ngerti dan bersedia buat namparin kamu.”

Mr. Plak: “Loh apa salahku kok ditampar”

Pacar: “Masalahnya.. Ck.. H.. Astaga..”

Mr. Plak: ?

Pacar: “Kamu ini pakai bahasa intelektual, bahasa hati, bahasa sarkasme, nggak ngefek sayang. Nggak ada perubahan. Kayak sapi. Ditarik dulu hidungnya baru mau maju. Nggak ditarik ya nggak ngapa-ngapain. Nggak ada inisiatif. Ya kayak sapi itu sudah.”

Mr. Plak: “Oh…”

Pacar: PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK!

Mr. Plak: “…”

Pacar: “Atau seenggaknya kamu kasih target gitu sayang sama diri kamu sendiri, bakal puasa nongkrong, puasa hang-out, puasa apapun terhadap hal yang bikin kamu nggak punya nilai jual. Sampai kamu mandiri.”

Mr. Plak: “…”

Pacar: (Mengambil telepon pintar Mr. Plak dan membuka foto orang tuanya) “Mummmpung loh sayang.. Ini mumpung.. Kamu masih punya mereka. Mereka yang lebih senang liat kamu ada upaya walaupun nggak jamin sukses. Ketimbang kayak SAPI POTONG gini.”

Mr. Plak: “…”

[45 tahun Mr. Plak]

Istri: Plak!

Mr. Plak: “…”

Istri: Plak!

Mr. Plak: “…”

Istri: Plak!

Mr. Plak: “…”

Istri: “Apa sih masalahmu Pa?

Mr. Plak: “…”

Istri: Anak kita sudah 7 lo..”

Mr. Plak: “…”

Istri: Plak!

Mr. Plak: “…”

Istri: (Mulai mengucurkan air mata) “Uang kah masalahnya?”

Mr. Plak: “…”

Istri: (Mengambil dompet dan menumpahkan semua kartunya di meja) “Ini pakai aja. Hasilku dipake sama laki-laki b******k. Totalnya nggak kurang 3 M.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Kenapa?”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Itulah masalahnya Pa.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Kamu sama sekali nggak punya target yang jelas. Cita-cita nggak ada. Prinsip nggak punya. Nunggu ditarik hidungnya baru maju. Nggak berubah.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Persis kayak tai di sungai Pa. Ngali..r aja.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Itu uang bisa dipakai buat coba-coba usaha apa.. gitu. Atau belajar apa.. gitu. Aku sama sekali nggak masalah Pa. Atau uangnya ditarik aja dari ATM Pa, Papa belajar bakar uang itu supaya bisa belajar bikin jagung bakar buat dijual di dataran tinggi mana.. gitu Pa nggak masalah Pa. Yang penting kamu itu ada perubahan. Sediki..t aja Pa.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Sediki..t aja.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Atau kalau nggak mau pakai uang haram dan riba ini oke.. fine.. Suaminya teman saya ada yang menawarkan diri untuk ajarin Papa jadi teknisi profesional pipa dan AC. Cuma-cuma Pa. GRATTTIS..!”

Mr. Plak: “…”

Istri: “BUT YOU DON’T” PLAKKK! “EVEN” PLAKKK! “DO” PLAKKK! “SIMPLE” PLAKKK! “USEFUL” PLAKKK! “THING” PLAKKK! “AT ALL” PLAK PLAK PLAKKK!

Mr. Plak: “…”

Istri: “Astaga..” (Bertopang dahi)

Mr. Plak: “…”

Istri: “Nggak kepengen kah Pa, Istrinya yang cantik itu kerja di rumah gitu Pa, jadi ibu rumah tangga full time ngurusin anak kita, nggak kerja di kantor yang dengan bebasnya berinteraksi sama laki-laki lain, jadi bahannya laki-laki b******k, jadi fitnahnya laki-laki baik yang sudah punya istri. Supaya drama hidup kita jadi kayak cerita drama polosan gitu Pa..”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Atau kalau takut istrinya di rumah pegang hape buat chat sama laki-laki lain pas Papa kerja, kita bisa coba buka usaha apa.. gitu Pa? Jadi Papa bisa monitoring saya 24 jam sehari. Mumpung uangnya masih banyak. Jangan kambing hitamkan Tuhanlah Pa. Tuhan itu tau hidup manusia nggak mungkin bisa jadi Maha Suci.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Tolong..”

Mr. Plak: “…”

Istri: “TOLONG SEDIKIIIT AJA RASA CEMBURU” PLAAAKKK!!!!!!!

Mr. Plak: “…”

Istri: “Nggak kepikiran gitu.. Manfaatkan kekayaan ini untuk anak kita sekolah di sekolah mana gitu yang sistem pendidikannya agak mendingan dari sekolahnya sekarang?. Atau kursusin Anak kita bahasa Arab supaya kalau orang ngomong bahasa arab nggak dianggap lagi baca doa gitu Pa?”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Nggak kepengen gitu..”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Ah sudahlah..”

Mr. Plak: “…”

Istri: (Air mata semakin berlinang deras. Memandang ke arah smartphone.) “Ini nih yang bikin kamu jadi makin idiot.”

Seketika saja smartphone itu diambil lalu dengan sekuat tenaga smartphone tersebut dilemparkan ke arah dinding. Melihat smartphone yang retak itu masih menyala, sang Istri mengambil palu.

Mr. Plak: “…”

Dengan sekuat tenaga sang Istri menghancurkan smartphone itu sehancur-hancurnya.

Mr. Plak: “…”

Sang Istri yang kehabisan tenaga kembali duduk. Dan menangis sederas-derasnya.

Istri: “Ini salahku.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “I’ve been try do every single little thing that possible for human do to change shit to be a real man. But.. I can’t.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “And I realy realy realy sorry about that.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “I realy sorry honey..”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Realy.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Maafkan saya selama ini sedikitpun tidak sukses mengubah pola pikirmu jadi lebih baik.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “But I’ve try my best.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “20 years.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Tapi masalahnya Saya nggak mau pergi ke neraka. Dengan atau tanpa Anda.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Saya rasa setelah aborsi nanti sebaiknya Saya mencari laki-laki tulen.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Yang lembut dan bertanggung jawab walaupun taat dalam beragama.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Dan sudi menerimaku jadi budaknya.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Semua harta milik Saya, Saya bawa. Anak-anak kita Saya percayakan padamu sementara. Saya mau Anda belajar.”

Mr. Plak: “…”

Istri: “Jika Anak kita kenapa-kenapa, ingat. Saya tak akan pernah sudi lagi menampar Anda.”

Lalu istri berjalan menuju pintu depan.

Mr. Plak: “Itu Anak siapa?”

Istri: (Menangis dengan derasnya) “Seandainya saya tau. Tapi itu sudah bukan urusan Anda.” (Melanjutkan langkahnya ke luar)

Berpapasan dengan Istri Mr. Plak yang sedang menangis dengan derasnya, Pak Ustadz yang kebetulan lewat tak bisa mendiamkan firasatnya.

Ustadz: “Mbak mohon maaf buru-buru mau ke mana?”

Istri: “Mau ABORSI! Laki-laki sammma aja semuanya, B******N!”

Ustadz: “Stop.”

[30 Menit kemudian]

Di ruang tamu tampak Mr. Plak dan istrinya duduk berdampingan, dengan Pak Ustadz di hadapan. Lalu Ustadz yang sangat terkenal akan kesabarannya tersebut berdiri di hadapan Mr. Plak.

Ustadz: PLAAAKKK!! !

 

-oO Tamat Oo-

100% fiktif. Pesan awal yang ingin di sampaikan dalam karangan bebas ini hanya motivasi pribadi tentang: Pentingnya membuat target dan memiliki prinsip.

Motivasi pribadi.

Sekali lagi, if you feel baper, ini hanya motivasi pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s