BE HAPPY AND SUCCESSFUL

HRD: “Okay next.. What are your life goals?”

Pipel: “Be happy and successful.”

HRD: “Hmm.. Next, what are ‘successful’ mean based on your point of view?”

Pipel: “Sir, I am so sorry, I actualy not understand your question, my english language skill is still little-little and celemotan.. What is celemotan mean in english.. Mesh.. Messy.. Can you just simplify your question so I can understand it easily?”

HRD: “Oh okay. Sure.”

Pipel: “Thank you.”

HRD: “You’re welcome.”

Pipel: “Pardon Sir?”

HRD: “Same-same.”

Pipel: “Oh okay.”

HRD: “So.. You said that your life goals are be happy and successful isn’t it?”

Pipel: “Ya.”

HRD: “What is successful?”

Pipel: “For me?”

HRD: “YESSS for you.”

Pipel: “Health, rich, have good social environment and have quality time, material, sense of humor and everything needed to enjoy it, also have everything needed to enjoy my own life, change myself and people from bad to good, from good to better.”

HRD: “What an extra ordinary ‘successful’ mean..”

Pipel: “Pardon Sir?”

HRD: “Amazing. Amazing definition.”

Pipel: “Oh thank you..”

HRD: “Same-same.”

Pipel: (Menunggu pertanyaan selanjutnya)

HRD: “You have dreams. How you achieve it?”

Pipel: “Pardon Sir?”

HRD: “How you realize your dream?”

Pipel: “With good work of course. Good thing, good mood, doing good, good work.”

HRD: “Owkay.. what is your expertise area?”

Pipel: “Pardon Sir?”

HRD: “Expertise area. What is your expertise area? I see you apply this job without having any specific expertise area or skill or purpose.”

Pipel: “I don’t understand. What is expertise area?”

HRD: “Bidang keahlian. Apa bidang keahlian Anda? Image keahlian yang melekat pada Anda.”

Pipel: “Do I have to answer your question in English or allowed in Indonesian?”

HRD: “Allowed in Indonesian.”

Pipel: “Thank you so much.”

HRD: “Same-same.”

Pipel: “Saya tidak punya bidang keahlian. Saya akan mengerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan.”

HRD: (Meletakkan CV Pipel, melepas kacamata dan meletakkannya di meja) “Jadi begini..”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Saya ada teman yang definisi suksesnya mirip dengan definisi sukses versi Anda. Bukan cuma satu, tapi ada beberapa.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Tidak ada keahlian yang spesifik, tapi mereka tidak kerja sama orang. Mereka wirausaha. Dagang. Jual produk, jual jasa.

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Apa tidak sebaiknya kamu pertimbangkan untuk berwirausaha? Kan kebetulan juga kamu belum punya bidang keahlian yang terlanjur dikuasai.”

Pipel: “Modalnya Pak. Juga tempat. Muahal. Saya juga berencana mematangkan semuanya sambil bekerja.”

HRD: “Baik. Mengapa anda tidak mengajukan pinjaman modal usaha saja? Lalu sewa tempat?”

Pipel: “Agama saya..”

HRD: “Stop. Baiklah, saya mengerti. Jangan lupa kembali lagi pukul 13.00 untuk melakukan tes.”

Pipel: “Baik.”

HRD: “Any question?”

Pipel: “Ya.”

HRD: “Go ahead.”

Pipel: “Jika Bapak mengerti, mengapa Bapak masih di sini?”

HRD: (Mematikan alat rekam) “Mungkin kurang lebih jawabannya sama dengan mengapa Bapak melamar ke Bank Konvensional ini sementara Bapak mengerti bahwa menurut aturan Agama kita, dan seterusnya, dan seterusnya.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Makanan.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Liabilitas adalah aset kami..”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Layanan produk kami..”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Piring kami..”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Logikanya kalau mau solusi ya sederhana. Tinggal kumpulkan saja semua pelaku yang punya andil atas sistem perbankan, lalu ganti dan sepakati saja sistemnya jadi seperti Baitul Mal di jaman Rasul. Nggak harus rubuhkan gedung. Cukup sistemnya. Lalu buat produk berskala internasional untuk transaksi, kasih power dan akses untuk bisa melakukan transaksi sebagaimana kartu kredit dan rekening online. Beres. Jangankan haram, syubhatpun mungkin tak akan ada.” (Sambil berdiri dan berjalan menuju Pipel)

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Kita ini sebenarnya paham kalau kita salah.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Tapi di mana-mana langkah awal untuk berubah itu selalu nggak semudah teorinya.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Kita ini cuma takut miskin.” (Mengulurkan tangan kepada Pipel)

Pipel: (Menyambut jabatan tangan HRD)

HRD: “Dan takut kelihatan miskin.” (Berjabat tangan)

Pipel: (Menyimak sambil berjabat tangan)

HRD: “Penyakit gaya hidup modern.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Hedon. Yang sudah mendarah daging.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Kita nggak siap dianggap kurang umum.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Kita kurang iman.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Dan agak cemas kalau kelihatan kayak orang beriman.”

Pipel: (Menyimak)

HRD: “Walaupun yang merasa mengupayakan nasib ini kita para manusia, namun hidayah tetap mutlak dalam genggaman Allah semata.”

Pipel: (Masih berjabat tangan)

HRD: “Terima kasih. Kalau masih sama-sama belum dapat hidayah seperti saya, jangan lupa pukul 13.00 tes tulis di ruangan ini.” (Mengeratkan jabatan tangan, melepaskannya lalu mundur satu langkah)

Pipel: (Berdiri) “Baik. Sama-sama Pak.” (Berjalan keluar ruangan)


[13.00]

Para peserta berkumpul di ruang tes. Duduk cantik dan duduk tampan. Menerima lembaran tes. Dan HRD tersenyum lega melihat bangku Pipel yang kosong dari balik layar yang terhubung ke CCTV. Menaikkan kakinya ke meja. Melipat tangannya dan menjadikannya bantal kepala. Menjungkit kursi. “Brak!”

 

-oOo-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s