BE HAPPY AND SUCCESSFUL II

[0,0005 hari Padang Mahsyar]

Pipel: “Ya ampun.. Lamanya.”

Anak kecil: “…”

Setelah dibangkitkan dari alam kubur, hewan, manusia dan jin digiring menuju Padang Mahsyar. Ada yang berjalan dengan kakinya. Ada yang berjalan dengan kepalanya.

Padang Mahsyar. Tanah lapang lagi luas. Tak tampak tinggi maupun rendah. Tempat terjadinya salah satu peristiwa akbar yang pernah ada. Tempat berkumpulnya makhluk pertama hingga makhluk terakhir.

Masa di mana hewan yang tidak bertanduk menanti pembalasan untuk hewan bertanduk yang menanduknya di dunia. Masa di mana segalanya dibalas dengan ketetentuan yang telah berlaku.

Masa di mana matahari sangat dekat dengan kepala. Masa ketika manusia yang penuh dosa banjir akan keringatnya. Mulai dari yang sebatas mata kaki hingga yang berendam dengan keringatnya. Masa di mana janji naungan hanya ditetapkan bagi tujuh golongan. Naungan dari kondisi yang menyiksa.

Pipel: “Harus berapa lama lagi..”

Anak kecil: “…”

Pipel: “Kenapa lama sekali. Sudah berapa lama kita di sini?”

Anak kecil: “Enam bulan waktu dunia.”

Pipel: “Berapa lama lagi giliran Saya?”

Anak kecil: “499,5 tahun.”

Pipel: “HAPPPA?”

Anak kecil: “499,5 tahun.”

Pipel: “HAHHH?”

Anak kecil: “E-m-p-a-t r-a-t-u-s s-e-m-b-i-l-a-n p-u-l-u-h s-e-m-b-i-l-a-n k-o-m-a l-i-m-a t-a-h-u-n.”

Pipel: “h..”

Anak kecil: “…”

Pipel: “Tau darimana kamu? Sok tau kamu.”

Anak kecil: (Mengarahkan tangannya ke kepala Pipel)

Lalu tampak masa ketika Pipel hidup di dunia.


[23 tahun Pipel di dunia]

Pipel: (Menengadahkan tangannya ke arah langit) “Ya Allah. Tuhannya Tuhan-Tuhan buatan tangan manusia. Tuhannya manusia-manusia yang dituhankan manusia. Tuhannya makhluk-makhluk yang dituhankan manusia. Keinginan hamba-Mu ini sederhana saja Ya Allah. Hamba hanya ingin bahagia dan sukses. Mohon jadikan hamba ini.. hamba yang berbahagia dan sukses. Amin.”

Tiba-tiba.. tidak terjadi apa-apa. Segalanya berjalan tenang. Biasa saja. Datar.

Hari berganti hari. Tak ada tanda-tanda yang berarti. Dengan ekspresi memelas dan konten doa yang sama, satu minggu kemudian Pipel berdoa lagi. Pada sepertiga malam terakhir. Lalu Ia menunggu. Menunggu tanda-tanda hidayah datang. Hari terus berlalu. Tak terasa telah satu minggu. Nihil. Dengan kapasitas keilmuannya yang terbatas, Pipel hanya bisa berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Pipel: “Tuhan lebih tau. Allah Maha Mengetahui. Saya cukup tau saja.”

Namun tak putus asa, satu minggu setelahnya Pipel memanjatkan doa dengan konten yang sama. Detik kepada menit. Menit kepada jam. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Nihil. Merana.

Satu ketika saat sedang di luar, Pipel melihat orang asing yang sedang kebingungan.

Pipel: “Mister.. you look so panic. What happen?

Turis: “Anda suku apa?”

Pipel: “Saya Indonesia saja Mister.”

Turis: “Syukurlah Anda mengerti bahasa Indonesia. Saya sudah harus meluncur dan belum sempat mencari seorang buruh pengganti.”

Pipel: “Buruh apa ya Mister?”

Turis: “Peternakan sapi.”

Pipel: “Ooo..”

Turis: “Apakah Anda memiliki kenalan atau Anda berminat?”

Singkat cerita Pipel bekerja menjadi buruh pada sebuah peternakan sapi. Berjibaku dengan aroma kotoran dan aneka kegiatan fisik tak membuat Pipel merasa sedih. Lantaran dia berbahagia dengan ritme kehidupan yang santai dan tak menguras banyak pikiran. Pipel rajin tertawa, tak pernah menangis, tak pernah sedih. Tak ada drama. Cashflow lancar. Tabungan banyak.

Kurang lebih setelah tiga tahun Pipel bekerja, untuk pertama kalinya Ia melihat si Mister Turis lagi. Turis sedang berbincang dengan Bos di Kantor. Lalu dengan ekspresi panik yang tidak berubah Turis dan Bos keluar kantor.

Bos: “Kamu kapan nikah Pipel?”

Pipel: “Nah kalau itu Saya kurang tau Pak.”

Bos: (Menoleh ke arah Turis) “Ya sudah ajak saja Pak. Kelakuannya juga nggak aneh-aneh di sini.”

Pipel: ?

Turis: (Senyum)

Pipel bingung, tak mengerti apa yang terjadi, mengapa dia disuruh ke kantor Imigrasi dan mengurus sejumlah berkas lalu duduk di pesawat yang penumpangnya rata-rata berperawakan mirip si Mister.

Pipel: “Kita mau ke mana?”

Turis: “Ke tempat yang agak lapang.”

Pipel: “Di mana? Tidak naik kereta saja? lebih murah Mister?”

Turis: (Tersenyum) “Shhh.. Ini. Tonton saja selama di atas. Turun nanti pasti berguna.” (Meletakkan smartphone di atas tangan Pipel dengan display kumpulan vidio untuk belajar bahasa inggris dan video terkait dunia persapian)

Pipel: ?


Tampak sebuah set di mana hamparan rumput hijau yang ujungnya tak terlihat. Lengkap dengan sapi-sapi berkualitas yang sedang mondar-mandir berkeliaran dengan bebasnya. Alat-alat yang mutakhir. Pipel memejamkan mata dan menghirup segarnya udara. Sembari mengangkat tangan dengan perlahan.

“Tap!” Setumpuk kertas tiba-tiba mendarat di tangan Pipel yang kaget karenanya.

Pipel: ?

Mister: “Pegang saja dulu.”

Merasa heran akan penampilan kertas yang kurang umum tersebut Pipel bertanya,

Pipel: “Ini apa Mister?”

Mister: “Uang. Dollar. Di sini pakai rupiah tidak akan laku.”

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Pipel bekerja dengan dengan kapasitas yang ia miliki sambil membangun usaha. Trial & error. Hingga tak terasa masa roda di bawah sedang habis. Akhirnya Pipel masuk pada fase puncak kejayaan. 50 tahun. Pipel yang berbahagia dengan kehidupannya saat ini sangat bersyukur. Akan udara bebas. Kesehatan. 2 istri indo dan 2 istri ‘bule’. Aset di mana-mana. Harta yang melimpah. Drama komedi yang bahagia. Endorphin yang tak henti-hentinya diproduksi. Kehidupan yang lebih sempurna dari ‘bahagia dan sukses’. Tanpa ujian kesabaran, tanpa ujian keimanan.

Just be happy and successful.

Pada pertengahan usia 60. Meninggalnya Pipel juga hanya dengan sedikit penderitaan. Langsung mati begitu saja karena lehernya tak sengaja terinjak sapi. Bukan karena penyakit fisik maupun mental. Hanya dengan sekejap pijakan kaki sapi. Konyol, namun tak menyakitkan.


[0,0005 hari Padang Mahsyar]

Anak kecil: “499,5 tahun.”

Pipel seolah baru bangun dari mimpi indah. Ternyata betapa singkatnya hidup ini.

Pipel: “Hidupku begitu aja?”

Anak kecil: “Ya”

Pipel: “60 tahun seperti itu saja?”

Anak kecil: “Ya. Sekarang tunggu 499,5 tahun.”

Pipel: (Meletakkan tangannya di atas kepala sebagai tanda menyesal) “Apa salah Saya harus menunggu begitu lama?”

Anak kecil: (Mengarahkan tangannya ke kepala Pipel)

Lalu cerita semasa hidup Pipel yang penuh dengan kebahagiaan, tanpa tangis, tanpa derita, tanpa kemiskinan terlintas kembali dalam benaknya. Seusainya,

Pipel: “Berhenti menodongkan tangan itu. Tidak bisakah bilang saja, salah Saya ini ini ini tanpa harus flash back hidup Saya?”

Anak kecil: “Salahnya Anda itu bodoh.”

Pipel: ?

Anak kecil: “Tidak belajar.”

Pipel: “Saya belajar. Tanya Saya apa saja tentang sapi.”

Anak kecil: “Jadi apa sapi setelah melalui masa Hisab?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Tuh kan.. Tidak tau. Ya jadi tanah.”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Allah sudah kasih pedoman dan turunkan petunjuk serta durasi hidup yang lebih dari cukup panjang untuk Anda mempelajarinya. Tapi Anda habiskan untuk apa hidup Anda?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Sapi?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Aset?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Istri?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Foya-foya?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Sensasi?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Anda minta bahagia, Anda Minta kesuksesan di dunia. Allah tahan sebentar supaya Anda merenung.”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Tapi bukannya merenung, Anda malah minta lagi, lagi dan lagi. Karena kasihan, ya Allah berikan. Maha Pengasih Allah. Seandainya Anda mau bersabar. Sebentar saja. Mungkin tidak akan begini.”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Tahukah Anda Muslim yang kaya itu dihisab setengah hari akhirat lebih lama dari yang fakir & bertakwa?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Tahukah Anda setengah hari akhirat itu setara 500 tahun waktu dunia?”

Pipel: “…”

Anak kecil: “Kenapa diam?”

Pipel: “Saya tidak tau.”

Anak kecil: “Kenapa tidak tau?”

Pipel: “Saya tidak belajar.”

Anak kecil: “Kenapa tidak belajar?”

Pipel: “Saya tidak luangkan waktu untuk itu.”

Anak kecil: “Kenapa tidak diluangkan?”

Pipel: “Karena rumit, bikin pusing, menyulitkan, terlalu membatasi, tidak asik, tidak menghasilkan keuntungan apapun.”

Anak Kecil: “Kalau sekarang bagaimana?”

Pipel: “Saya ingin kembali ke dunia dan memperbaikinya.”

Anak kecil: “Kenapa? Bukankah rumit, bikin pusing, menyulitkan, terlalu membatasi, tidak asik, tidak menghasilkan keuntungan apapun?”

Pipel: “Tidak sebanding. 60 tahun kebahagiaan dan kesuksesan Saya ditukar dengan 500 tahun penantian yang menjemukan. Dan ini baru hanya sekedar antri masuk akhirat. Belum jelas pula masuk surga atau neraka. Setengah tahun saja di Padang Mahsyar ini sudah buat Saya lemas dan jenuh. Dan Saya harus menunggu 499,5 tahun lagi?”

Anak kecil: (Tersenyum) “Itu belum seberapa.”

Pipel: “Maksudnya?”

Anak kecil: “Sabar. 499,5 tahun lagi juga Anda akan tau sendiri.”

[0,5 hari di Padang Mahsyar]

Tibalah giliran Pipel untuk dihisab.

 

–oOo–

 

REKOMENDASI
https://muslim.or.id/7416-peristiwa-di-padang-mahsyar.html
https://almanhaj.or.id/3707-bilamana-hari-kebangkitan-tiba-2.html
https://rumaysho.com/10567-keutamaan-orang-miskin.html

 

D o n a s i

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s