WARISAN, MASALAH, TINDAKAN PREVENTIF, SOLUSI

[Under Constructions]
Daftar Isi
Tanah
- Potensi Masalah
- Tindakan Preventif
- Solusi
Rumah
- Potensi Masalah
- Tindakan Preventif
- Solusi

 

Orang tua baik-baik mana yang tidak menginginkan kebahagiaan di masa depan anak-anaknya? Orang tua baik-baik akan mengupayakan segala cara yang (sepengetahuannya) halal dan baik untuk itu.

Jadi ceritanya orang tua baik-baik punya rencana. Rencananya orang tua baik-baik menyiapkan bekal materi dan ilmu untuk keturunannya. Rencananya anak-anak akan menikmati hasil dari implementasi rencana yang matang. Rencananya anak-anak akan sukses. Rencana sudah tersusun rapi. Harta sudah dalam genggaman. Logikanya, si anak-anak hanya tinggal diisi ilmu untuk mengelola semuanya. Logikanya, semuanya tinggal dibagi secara adil. Logikanya, tinggal satu langkah lagi dan semua akan baik-baik saja. Eh tau-tau Allah panggil pulang. Dalam keadaan anak-anak tidak ada yang becus menangani apapun. Dalam keadaan anak-anak belum ada yang bisa diandalkan untuk mengurusi sisa-sisa ‘PR’ sepele apapun. Harta yang seharusnya menjadi manfaat untuk anak-anak. Sekarang lebih dekat fungsinya sebagai media musibah dan ‘pelatuk’ perpecahan.

Salahkah harta? Salahkah orang tua baik-baik? Atau salahkah anak yang belum sampai otaknya untuk kepikiran menjadi orang yang becus menangani masalah-masalah kecil orang tua?

Hidup ini suka-suka Tuhan. Silahkan justifikasi Tuhan dan niscaya pada akhirnya kita hanya akan mendapati kesan semacam anak balita menjustifikasi Sutradara Yang Maha Bijaksana.

 

Tanah

Potensi Masalah

1. “Bisa Nanti”
“Bisa nanti”, “Ah gampang”, “Bukan prioritas”, “Yang lain dulu”. Penundaan saat orang yang berhak mewasiatkan masih hidup. Akibat dari penundaan ini dapat berdampak buruk. Yang paling kecil adalah pekerjaan yang tidak dibutuhkan atau tidak seharusnya ada. Yang paling fatal (sejauh yang saya tau) adalah perpecahan dalam rumah tangga / keluarga.

 

2. Ahli Waris yang Ditunjuk / Dituakan Tidak Amanah
Jika semua sudah dibagi secara kekeluargaan / secara agama lalu disahkan secara hukum, hingga tuntas, saat pewasiat masih hidup, maka beres. Namun jika dibiarkan berlarut hingga pewasiat meninggal, maka akan ada banyak celah bisikan setan yang tersedia. Tinggal pilih saja. Pilih saja tidak mendengarkan bisikan. Selesai. Namun dalam prakteknya di dunia nyata, berapa sih persentase manusia yang tidak terhasut bisikan pihak ke tiga? Salah satu contoh akibatnya yang mungkin umum di lapangan adalah ahli waris yang tidak amanah. Tidak amanah di sini bisa berarti (1) tidak menunaikan tanggung jawabnya dengan baik / adil sebagai orang yang ditunjuk atau dituakan; (2) tidak punya ilmu / menunda pengurusan warisan sehingga ahli waris lain terhalang dari haknya. Jika dibiarkan hingga bersambung kepada keturunan selanjutnya maka dapat berakibat sengketa berantai di masa depan.

 

3. Bisikan Pihak ke Tiga
Kita bedakan menjadi 2. Wujud dan Metafisik. Wujud: manusia yang tidak termasuk ke dalam ahli waris (tidak termasuk anggota keluarga inti yang berhak mendapat waris). Metafisik: jin. Untuk pihak ke tiga yang wujud, jika (1) tulus; (2) ihsan; (3) mengerti agama dan hukum, maka insya Allah apapun yang akan dibisikkannya kepada si ahli waris yang merupakan anggota keluarga inti akan berdampak baik. Namun jika tidak, maka resiko mudharat sangat besar.

Sementara untuk pihak ke tiga yang metafisik, mungkin ada baiknya jika anda mampir ke: adu domba. Namun secara hakikat, saya tidak tau. Bisa jadi ada saja pihak ke tiga metafisik yang punya sifat (1) tulus; (2) ihsan; (3) mengerti agama dan hukum, jadi wallahu a’lam.

 

Tindakan Preventif

1. Pecah Tanah saat Pewasiat Masih Hidup.
Jika tanah yang akan diwariskan adalah satu bidang tanah yang akan dipecah menjadi beberapa kavling tanah sejumlah ahli waris (secara kekeluargaan / potong rata), maka syarat dan prosedurnya sebagai berikut.

Syarat Awal:
a. Fotokopi KTP.
b. Penentuan tanah kavling yang mana untuk ahli waris yang mana.

Syarat Sisa:
a. Surat Kuasa Waris
b. Surat Pernyataan Waris
c. Surat Pernyataan Hibah
d. Surat Putusan Pengadilan tentang Ahli Waris (tidak wajib namun menguatkan, sebaiknya dilampirkan)

Prosedur:
a. Surat Kuasa Waris. Buat di Kelurahan. Kelurahan di mana Pemberi Kuasa terdaftar Kartu Keluarganya. Minta check-list syarat pembuatan Surat Kuasa Waris.
b. [under constructions]
c. [under constructions]
(?). SURAT KETERANGAN UNTUK MELEPASKAN HAK ATAS TANAH. Ambil blankonya di Kecamatan. Terakhir (2017-11-07) harga perblanko + mapnya Rp. 25.000,-. Minta sebanyak jumlah ahli waris. Jika 4 maka minta 4 blanko (Rp. 100.000,-).

 

Solusi

Jika ternyata kondisi pecah tanah dilakukan setelah (1) pewasiat telah meninggal; (2) tidak ada wasiat.
(Saya kosongkan, mencegah lebih baik dari menanggulangi).

 

Rumah

Potensi Masalah

Terjadi yang semisal simbiosis kompetisi, amensalisme, parasitisme. Yang mana dengan simbiosis tersebut, semua atau sebagian pihak ada yang dirugikan. Jika belum familiar, sudi kiranya terlebih dahulu mampir ke: Simbiosis.

Warisan rumah. Sederhananya kita bagi menjadi 2 kondisi:
1. Satu rumah tinggal rame-rame
2. Banyak rumah untuk banyak ahli waris

Anak tunggal tidak dibahas di sini, karena sudah jelas status ahli warisnya apakah dari sisi agama, hukum maupun kekeluargaan.

 

Tindakan Preventif

Satu Rumah Tinggal Rame-Rame

Ada beberapa solusi sederhana untuk tindakan preventif dari masalah yang mungkin muncul atas kebutuhan ‘kedaulatan’ dan ‘privasi’ pada keluarga inti dengan jumlah lebih dari satu dalam satu atap. Sebagai berikut.

 

1. Satu keluarga inti satu atap

Maksud dari satu keluarga inti satu atap di sini adalah jika kondisinya ada satu keluarga inti, maka jangan ada keluarga inti lain pada atap yang sama. Atap di sini bisa berarti hunian, bisa berarti aturan dalam sebuah keluarga inti. Karena sebuah keluarga inti itu memerlukan kedaulatan atas hidupnya masing-masing. Maka mengupayakan kondisi satu atap untuk satu keluarga inti adalah hal yang SANGAT PATUT diperjuangkan.

Ada macam-macam kondisi anggota keluarga dalam sebuah keluarga inti yang tinggal satu rumah. Beberapa kondisi, masalah beserta ikhtisar solusinya sebagai berikut.

 

Kondisi 1
Kondisi sudah berkeluarga, masih tinggal di rumah orang tua, belum punya rumah yang bisa di reparasi, belum punya tanah yang bisa dibangun, belum bisa cicil atau beli tunai sebuah rumah. Solusinya adalah ngontrak atau ngekos bagi yang berumah tangga sambil mencicil tanah. Yang mana jika tidak berencana membangun di tanah tersebut, maka di masa mendatang bisa dijual kembali untuk membeli tanah atau tempat tinggal di tempat lain. Jika tetap memilih tinggal di rumah orang tua seyogyanya berikan tenggat waktu yang jelas agar memudahkan pikiran orang tua dan anggota keluarga lain.

Mengapa mencicil tanah? karena kenaikan harga tanah berkisar antara 20-30% per tahun. Nilai tanah tidak mengalami penyusutan, sedangkan apa yang ada diatasnya sangat berpotensi mengalami penyusutan nilai (kecuali emas yang disimpan dalam jangka panjang).

Ini kalau kondisinya belum punya tanah, belum punya rumah untuk dikelola atau direparasi agar layak huni.

 

Kondisi 2
Kondisi sudah berkeluarga, masih tinggal di rumah orang tua, sudah punya tanah untuk dibangun atau rumah untuk direparasi agar menjadi layak huni. Solusinya adalah ngontrak. Sambil cicil untuk merancang, membangun, mereparasi. Jika memang ngotot untuk tinggal di rumah orang tua, maka sebaiknya segera bangun pada tanah yang telah dimiliki atau reparasi pada rumah yang telah dimiliki agar menjadi layak huni dan bisa segera ditempati. Jika tak ada terbesit i’tikat/niatan baik untuk membangun atau mereparasi, maka solusinya adalah sadarkan diri. Upaya sadar diri bisa secara spiritual bisa secara ilmiah. Jika spiritual maka mintalah diruqyah atau membaca surah al-Baqarah kepada diri sendiri. Secara ilmiah bisa konsultasi ke profesional masalah hukum, apakah dari sisi agama atau dari sisi hukum di indoensia, bagai mana prosedurnya, apa syarat-syarat membangun rumah, perizinannya apa saja, dsb.

Dalam persoalan ini, ada 2 (dua) kemungkinan akar masalah yang tak perlu eksis di muka bumi namun bisa-bisa saja terjadi di dunia nyata. Yakni tamak dan kebodohan. Tamak ketika sudah punya tanah atau sudah punya rumah untuk direparasi agar jadi layak huni, juga ada rejeki dan kemampuan untuk cicil bangun atau reparasi rumah, namun masih ngotot tinggal di rumah orang tua dan mengalokasikan rejeki ke hal-hal lain yang sifatnya kebutuhan sekunder dan tersier (bukan kebutuhan pokok), DALAM KEADAAN SADAR DAN MENGERTI. Sedangkan Kebodohan serupa dengan ilustrasi tamak di atas, hanya saja TIDAK MENGERTI atau lupa dengan apa yang telah ia miliki dan tidak mengerti bahwa yang dilakukannya tersebut adalah kekeliruan, menyusahkan atau membebani orang lain yang berada di luar dari keluarga intinya dalam satu atap yang sama. Di paragraf ini saya hanya bicara potensi masalah yang tidak perlu terjadi di dunia nyata, beserta opsi solusinya.

Namun berbeda jika memang kondisinya tidak ada kemampuan sama sekali. Sama sekali tidak ada cashflow untuk dikelola dan disisihkan untuk membangun atau mereparasi rumah. Atau bahkan untuk ngontrak.

 

Kondisi 3
Kondisi belum berkeluarga, belum ada tanah atau rumah untuk direparasi. Solusi ya cicil tanah, atau cicil rumah, atau ngekos, atau ngontrak. Kalau belum ada penghasilan ya kerja atau usaha. Kalau lamar ke mana-mana belum keterima ya sabar. Kalau ada lowongan tapi proyeksi ke depan dengan pendapatannya tampaknya malah menyusahkan orang tua ya konsul dulu ke orang tua atau orang yang mengerti duduk persoalan. Secara agama ada solusi tambahan sebenarnya. Menikah. Menikah membuka pintu rejeki. Namun saya pribadi ‘netral’ atas solusi tersebut. Masalahnya sejauh yang saya tau dari aneka kenyataan, menikah dengan kondisi tidak cukup ilmu agama dan hukum (bukan harta), akhlak serta adab, hanya akan memberikan peluang simbiosis dengan dampak negatif terhadap orang lain. Jadi saya ‘netral’ terhadap solusi menikah ini. Tidak menyarankan dan tidak pula skeptis. Iya kalau si bujang ini cukup iman, cukup ilmu, cukup adab, cukup akhlak, sehingga bisa proyeksikan keluarga kecilnya ke simbiosis yang mutualisme dalam lingkup keluarga intinya, saya sarankan menikah. Karena terkadang masalah itu lebih ringan jika ada satu lawan bicara atau orang yang menyuguhkan perbandingan mana yang lebih baik apakah pilihan A atau B. Dan itu memberi dampak yang nyata. Contohnya: sebelumnya berpikir sendiri, belum kepikiran tentang sebuah solusi, dengan berdua, si pasangan ada kepikiran solusi baik yang bisa dilakukan. Contoh lainnya: Sebelumnya dengan berpikir sendiri masih kurang yakin, lalu dengan ada pasangan yang menjadi teman untuk bantu mikir melengkapi pencarian solusi, menjadi yakin keputusan itu benar-benar baik, benar-benar tidak baik atau benar-benar syubhat. Namun jika si bujang tidak cukup ilmu agama atau hukum, tidak cukup baik adabnya, tidak cukup matang akhlaknya.. saya ‘netral’ (tidak saran apapun, tidak cegah apapun).

 

Kondisi 4
Kondisi belum berkeluarga, sudah ada tanah atau rumah untuk direparasi. Solusinya ya diurus. Bangun rumah atau reparasi rumah, pisah rumah dari orang tua, semampunya jangan bebani pikiran orang tua. Kalau tanahnya sudah ada tapi warisan, ya dilihat dulu sudah atas nama pribadi atau masih campur sama orang lain, kalau campur ya sesegera mungkin dipecah, kalau sengketa ya diurus. Titik.

 

2. Jangan menikah jika tak mampu
Ini adalah keputusan bijak. Menikah dalam kondisi tidak mampu (secara finansial, sandang pangan papan) hanya akan menambah resiko simbiosis kompetisi, amensalisme, parasitisme antara anda dengan seluruh penghuni dalam satu atap. Baik mereka belum memiliki keluarga inti sendiri maupun telah memiliki keluarga inti sendiri. Langkah solusinya: kerja atau usaha, lalu cicil atau urus tanah, lalu bangun atau reparasi rumah. Kalau belum rejeki atau belum terbuka jalan rejeki ya sabar. Usaha, introspeksi, minta dan libatkan Allah. Mulut manusia yang bakhil, tak mengerti duduk persoalan namun tetap mencibir, biarkan saja sampai makan tanah dengan sendirinya (mati), ada masa pengadilannya, bukan urusan anda apalagi saya. Titik.

 

3. Jual rumah lalu biarkan masing-masing keluarga inti atau bakal keluarga inti belajar mandiri
Ini solusi yang sangat tepat jika anda adalah orang tua atau kepala keluarga dengan kondisi anggota keluarga inti sudah ada tanah atau warisan tanah masing-masing atau rumah masing-masing untuk direparasi. Rumah warisan yang digunakan sebagai atap bersama dijual. Hasil penjualan rumah warisan digunakan untuk membangun tempat tinggal masing-masing anggota keluarga. Baik yang telah memiliki keluarga inti sendiri maupun yang belum. Detail nominal pembagian hasil jual rumah (rumah waris) bisa secara agama atau hukum atau secara kekeluargaan. Masalah selesai. Tak ada lagi cerita anggota dari keluarga inti bicara di belakang layar lantaran sisa warisan atau harta orang tua dimiliki atau didominasi si fulan, fulan, fulan dsb. Warisan habis dibagi atau dihibahkan ke orang lain atau sekalian dibumi hanguskan, maka potensi simbiosis kompetisi, amensalisme dan parasitisme yang gara-garanya warisan rumah telah selesai.

 

Banyak Rumah untuk Banyak Ahli Waris

Opsi tindakan preventif sekaligus alternatif solusi:
1. Bagi rumah kepada masing-masing ahli waris hingga tak bersisa.
2. Bagi rumah kepada masing-masing ahli waris 1 orang 1 rumah sisanya jual dan bagi secara agama atau hukum atau kekeluargaan.
3. Jual semua rumah lalu hasilnya bagi secara agama atau hukum atau kekeluargaan.
4. Hibahkan rumah untuk hal-hal yang berpotensi menjadi amal baik atau jual lalu gunakan hasilnya untuk amal soleh. Poin ke empat ini tepat jika anda yakin dan memahami tabiat dari ahli waris tidak baik. Dan yakin dengan warisan yang akan anda berikan hanya akan menjadikan ahli waris terfasilitasi untuk berbuat maksiat.

 

Solusi

(Saya kosongkan, mencegah lebih baik dari menanggulangi).

 


Sekian dulu. Motifasi awal hanya catatan pribadi. Saya catat di sini karena belum tentu setiap saat pikiran jernih dan ingat semua materi-materi ikhtisar masalah di atas. Dibagi secara umum karena saya anggap bermanfaat untuk orang lain. Jika tak ada komplain maka akan tetap saya ‘public’ dan bisa kita nikmati bersama. Jika tidak maka segera komplain melalui textarea di bawah (kolom komentar) lalu insya Allah akan saya ‘private’ atau ‘password protected’ kalau memang tulisan ini terbukti lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

 

Wassalam.

 


Sumber
- Wikipedia
- Pengalaman orang-orang bijak dan berumur
- Pengalaman di dunia nyata
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s