ADU DOMBA

Daftar Isi
Celah Adu Domba
- Lokomotif
- Penyakit Hati

 


Opini tentang adu domba dan setan (metafisik). Jadi di awal tulisan ini saya ucapkan mohon maaf kepada rekan2 sesama manusia yang tidak satu keyakinan. Karena kemungkinan akan muncul beberapa paradigma yang tidak saling seirama. Karena kita tidak dalam ‘frekuensi’ yang sama. Namun tentu saja ini hanya bahan bacaan umum berupa gagasan, interpretasi, dari aneka pengalaman yang si tukang tulis lalui yang mana dengan tulisan ini, semoga menambah atau me-refresh perbendaharaan ilmu troubleshoot masalah hidup kita. Masing-masing. Semuanya.


Adu domba. Menjadikan berselisih (bertikai) di antara pihak yang sepaham, menarungkan (mempertarungkan, memperlagakan) kita sama kita. (kbbi.co.id, 2017-11-10).


Terkait “Setan”:
– QS. al-Baqarah [2]: 169, 257, 268, 102
– QS. an-Nisaa’ [4]: 38, 60, 119, 120
– QS. al-A’raf [7]: 12, 13, 16, 17
– QS. al-Hijr [15]: 18
– QS. al-Israa’ [17]: 27, 53
– QS. al-Kahfi [18]: 50
– QS. al-Furqaan [25]: 29
– QS. al-Faathir [35]: 6
– QS. Yaasin [36]: 60
– QS. Fushshilat [41]: 25
– QS. al-Mujaadilah [58]: 10
– QS. al-Hasyr [59]: 16

innuri.blogspot.co.id/2011/12/pekerjaan-setan.html?m=1

Garis bawahi QS. 17: 53.


Apa salah domba?

Domba. Hewan ternak. Pemakan rumput. Tergolong ruminansia kecil. Hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Normalnya, domba tidak memakan dan menyerang sesamanya. Namun domba aduan dilatih hingga menjadi garang, agresif, bringas saat berada di arena aduan.

Hiburan, kebanggaan, dianggap ajang bergengsi dan prestasi, adalah mengapa domba aduan diadu.

Berbeda dengan ajang beladiri yang diselenggarakan manusia. Domba terima-terima saja diadu karena mereka tak mengerti diadu domba (tak berakal). Hanya mengikuti naluri hewannya. Tau-tau di arena sudah agresif saja, tau-tau di depan ada sesuatu yang bisa di seruduk, tau-tau pegangan dilepas dan nggak sabar bisa nanduk, tau-tau ngalir aja menikmati penderitaan demi hiburannya si manusia-manusia yang nggak ngerti kalau di hari pembalasan nanti (insya Allah) bakal gantian diadu. Apakah domba mendapat uang atas jerih payahnya? tidak. Mendali emas atas luka-lukanya? tidak. Hadiah atas kebodohannya? tidak. Bahagia atas hiburannya kepada manusia? tidak. Dapat apa domba aduan? capek, cidera ringan, resiko cidera berat, resiko kematian.

Hanya demi kepuasan manusia.

Terus kok mau-maunya domba diadu? ya karena nggak ngerti itu tadi. Sesuai fitrahnya. Tak berakal. Padahal kalau berakal dan sukses menggunakan akalnya, harusnya yang diseruduk itu ya yang melihara, yang ngadu, wasit, yang taruhan, yang nonton, arena aduan, semua yang ngerti salah tapi diem-diem nggak melerai perselisihan di antara domba-domba, nggak melakukan tindak pidana kepada pihak-pihak yang melakukan adu domba.

Tapi apalah kuasa domba. Domba hanyalah domba. Domba tak bisa googling untuk mencari cara menyadarkan manusia. Bahkan domba tak bisa duduk dan memegang smartphone. Dan bahkan domba tak tau apa itu smartphone. Bahkan jika mengerti, kalau disuruh bilang “smartphone” sekalipun domba hanya bisa bilang “mbeee!”. Oh domba.

Penting? Ada hal yang lebih penting dan lebih layak untuk menyita perhatian kita tapi kadang kita nggak merasa: merasa lebih mulia dari hewan. Ingat iblis yang tertipu dengan gemerlap ‘casing’-nya sendiri.


Apa salah manusia?

Apa salah manusia kok mau diadu domba setan? Singkat saja, salahnya gagal menempatkan akal di atas naluri kemanusiaannya (hawa nafsu), gagal fungsikan mata hatinya. Kalau semua manusia sukses fungsikan mata hatinya, mungkin (wallahu a’lam) yang ada sekarang hanya sistem syari’at islam dan kekhilafahan. Karena sudah jelas, baru dikomparasi beberapa langkah saja dengan rule buatan manusia, sudah kelihatan aturan mana yang

-oO  D a m p a k   A k h i r n y a   Oo-

lebih membawa keuntungan, manfaat, faedah. Cuma lagi-lagi ya itu.. Gagal paham.

Ibarat nafsu itu kuda liar, penunggangnya nggak bisa take over kuda. Kalau sudah begitu, selanjutnya apa yang mungkin terjadi kalau bukan out of control? kalau bukan hectic? kalau bukan chaos?. Walaupun penunggangnya tenang? Walaupun penunggangnya tenang. Karena terampil menunggangi nafsu itu nggak sama dengan masak mie instan yang cukup tenang dan ikuti instruksi 3 menit terus siap santap 😀 ada proses, tahapan, perulangan, modulasi, tips dan trik, sampai cukup fasih.

Demi apa manusia di adu domba setan? Demi harga senasib sepenanggungan di neraka. Saya tidak paham logika setan, jadi jangan tanya saya demi apa setan ngoyo sampai masuk neraka. Yang jelas, dengan suksesnya adu domba, setan tidak perlu susah payah. Tinggal nonton, menikmati hiburan, memanaskan suasana dan berkomentar saja.

Komentator setan:
“Apa yang terjadi selanjutnya saudara-saudara sebangsa dan seapi setan? Oh ternyata propaganda saudara kita dari kalangan manusia gagal. Ayo panah-panah kita siapkan, bisikkan kata-kata yang lebih menusuk-nusuk Qalbu dan melalaikan akhirat kepada para penyair, carikan nada-nada yang racunnya lebih awet dan cepat meresap. Mana pakar kita, ayo kerja-kerja, cari formula adu domba yang lebih transparan, tak berbau, tak berasa, tak terdengar. Itu ngapain ustadz tiba-tiba nongol di layar api kita? mau ngapain dia? alif lam mim? al-Baqarah? SAUDARA-SAUDARA!!! AL-BAQARAH!!! BUBAAAR!!! BUBAAAR!!!.”

Ngomong-ngomong, itu hanya ilustrasi. Nggak tau aslinya bagaimana, tapi dengar-dengar iblis itu bukan makhluk bodoh, boleh jadi lebih canggih lagi teknologi-teknologi, tak-tik strategi dan wawasan persetanannya. Wallahu a’lam. Semoga tidak. Amin.


Celah Adu Domba

Lokomotif

Ada sebuah kereta. 1 lokomotif dan 9 gerbong yang isinya emas. Antagonis dapat melakukan rekayasa atau sabotese pada lokomotif untuk mengubah alur kereta dari yang semestinya, menggiring opini dari hakikat ke makna yang lebih dangkal atau merugikan.

Sang lokomotif dilalaikan dari hal-hal yang menguatkan mata hatinya, dilemahkan imannya, sudah lemah sistem pertahanan mata hatinya disuntikkan penyakit hati. Selesai. Jadilah lokomotif sebagai domba aduan. Apapun yang ada di hadapan adalah lawan. Hilang kemampuan mata hati untuk melihat hal-hal hakikat. Mestinya dengan mata hati yang sehat melihat kondisi sedang diadu, malah pakai mata fisik menyeruduk ke depan. Mestinya dengan mata hati supaya bisa memandang akar masalah, malah menggunakan mata rasionalitas otak kiri berputar-putar pada arena adu domba masalah.

Manusia yang melakukan penyimpangan itu korban. Penghasut sebenarnya setan. Kalau mau coba dipandang lebih dalam lagi, maka akar masalah yang tampak yakni tinggi hati, kesombongan & takabur. Setan itu lokomotif atas dirinya sendiri sebagai entitas. Bilamana setan itu punya setan yang dirinya sendiri nggak bisa liat, maka “tinggi hati”-lah setannya setan itu. Lantas mengapa si setan ini tidak menggunakan mata hatinya untuk melihat hakikat bahwa ia sedang dalam keadaan diadu domba oleh sifat tinggi hatinya? Tinggi hati mengadu domba setan untuk berseteru dengan manusia. Tinggi hati (ini hanya ilustrasi) membisikkan dalam hatinya setan:

“Kamu itu api, kok bisa-bisanya.. Tuhan suruh-suruh kamu kasih hormat sama si tanah lumpur item idup itu. Makhluk bau kencur. Diospek juga belum. Pengabdian belum ada. Kontribusi belum ada. Pengorbanan sama Tuhan belum ada. Harusnya si tanah item idup itu yang disuruh hormat. Tanah itu mestinya dikasih kenal dulu sama ini ni.. Yth. Tuan Api. Yang terhormat. Yang senior. Pimpinan malaikat sejagat langit dan bumi. Ahli ibadah. Yang terbaik. Yang paling guru. Yang paling sempurna. Tanpa cela. Yang sepatutnya dicintai. Yang semestinya disujud sama tanah lumpur item idup. Ck.. Gimaaana sih Tuhan ini? Kok agak-agak jauh dari logis ketentuan Tuhan kali ini. Jangan terima, atas nama rasionalitas dan kehormatan zat api, kaaamu itu terlalu berhak buat protes sama Tuhan. Protes!”.

Tanpa memandang hakikat bahwa semua kebaikan itu asalnya dari Tuhan. Ada apa dengan mata hati iblis?

Penyakit Hati

Pernahkah anda mendengar tentang imun? Sistem kekebalan tubuh. Sistem pertahanan tubuh untuk melindungi tubuh dari infeksi penyakit dan kuman. Bilamana sistem pertahanan tubuh terganggu, maka kuman mudah menyerang dan mudahlah terjadi penyebaran penyakit.

Demikian dengan mata hati. Mata hati dengan pertahanan lemah memungkinkan penyakit hati mudah masuk. Merusak performa dari tajam kali luasnya daya terawang mata hati. Semisal kumannya adalah setan. (Hanya ilustrasi) Ini ada orang polos. Semula, fitrahnya orang ini baik-baik saja. Selang waktu berjalan kok lama-lama ada sifat setan di sana. Tinggi hati. Merasa lebih baik dari makhluk lain. “Akulah yang lebih baik, orang lain sepantasnya sadar diri dan tunduk.” Nah kalau sudah begini jadilah domba aduan. Karena sudah kena penyakit hati. Sedang rusak. Loh kok bisa? Apapun kesalahan yang dilakukan orang lain hanya akan jadi bahannya untuk menghakimi si orang lain. Bukan menghakimi akar masalah. Karena yang dipandang adalah entitas, bukan penyebab utama. Yang tampak hanya “Aku-Kamu” bukan “hakikatku-hakikatmu”. Semacam digigit nyamuk, tapi rumah yang dirubuhkan. Iya, masalah gatal-gatalnya selesai. Akar masalahnya? mungkin cuma pindah sebentar ke jalanan. Balik lagi nanti malam pas lagi tidur di luar.

‘Tamengnya mata hati’, al-Baqarah, kalimat tauhid dan istighfar (dalil silahkan googling “mengusir jin dari rumah”, malas googling silahkan tanya ustadz). Al-Baqarah itu hal yang setan lari daripadanya, kalimat tauhid itu pengakuan Keesaan Tuhan, istighfar itu mohon ampunan serta pengakuan bahwa yang salah dan hina itu kita sedang yang Agung itu Tuhan. Kalau diperhatikan, ada satu benang merah dari 3 hal tersebut. Merendahkan hati (bukan rendah diri).

Obatnya penyakit hati? ngaca, pakai mata hati bukan mata rasionalitas. Pandang hakikat, bukan bungkus, bukan kesan.


Adu domba mudah jika kemampuan melihat akar masalah bermasalah. Apakah karena kebodohan, tergesa-gesa dalam bertindak, penyakit hati, kurangnya verifikasi dan klarifikasi. Perlu hati yang jernih untuk bisa memandang hakikat akar masalah. Kadang tak bisa tergesa-gesa, karena tau akar masalah saja tidak cukup, tindakan yang tepat butuh waktu dan pengalaman. Jika terjebak dengan domba aduan setan, tetap tenang, usir setannya, diamkan domba ngamuknya sampai jinak, sadarkan, tetap sadar, musnahkan akar masalah bukan entitas, menghindar sampai yakin harus bersikap apa. Sederhana belum tentu mudah jadi jangan menyepelekan. Hewan dengan insting dan spontanitas, manusia dengan mata hati dan akal sehat.

 

–oOo–

Iklan

Satu respons untuk “ADU DOMBA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s