WITHDRAW

Dater & San: “Pak sangu.”

Father: “Sudah solat subuh kah tadi?”

Dater & San: (Nyengir)

Father: “Sudah solat subuh kah tadi?”

San: “Belum.”

Father: “Nggak sangu sudah kalau nggak solat subuh.”

Dater & San: “Yaaah..”

Dater dan San menunggu siapa tau keajaiban datang. Berharap sang Bapak berubah pikiran. Ditambah dengan ekspresi merengut, barangkali hati Bapak bisa melunak.

Father: “Bagaimana ini? minta rejeki tapi panggilan sumber rejeki diabaikan.”

Tak menyerah, Dater dan San tetap pada keyakinan dan upayanya mendapatkan sangu dengan cara menunggu dan memasang wajah memelas.

Father: “Ini, besok kalau nggak solat subuh. Nggak ada lagi sangu-sangu.”

Bak gerhana bulan yang berlalu, Dater dan San menyambut sangu dengan wajah terang benderang. Tampak San agak bingung setelahnya.

San: “Buat apa sih Pak solat subuh itu? Pagi-pagi, harus bangun, ngantuk, mager!”

Gantian Bapak yang dibuat bingung dengan pertanyaan si San. Berpikir perumpamaan apa yang sekiranya dapat dengan mudah dicerna anak-anak.

Father: “Supaya tabungan San banyak!”

San: “Banyak? Berapa Pak banyaknya tabungan San satu kali solat subuh?”

Father: “Nah kalau itu Bapak kurang tau. Yang jelas, solat sunnahnya aja, lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Si Bapak berharap anak tak bertanya berapa harganya dunia dan seisinya.

San: “Oh..”

“Alhamdulillah”, bisik Bapak dalam hati.

San: “Terus kalau mau ambil tabungan solat sunnah subuhnya gimana Pak?”

Kembali si Bapak kebingungan dibuat San dengan pertanyaannya.

Father: “Wah nggak bisa ditarik tunai waktu hidup Nak. Nanti, kalau sudah mati, lewat alam kubur, kumpul di padang mahsyar, dihisab dulu amal solatnya, ditimbang, lewat sirat al-mustaqim, kalau amal baik lebih banyak, insya Allah lolos di sirat al-mustaqim, setelah itu masuk surga, nah di surga itu tarik tunainya Nak. Paham?”

San: “Nggak.”

Mengerenyit dahi Bapak mendengarnya.

San: “San mau ambil habis solat subuh aja. San perlunya kan habis solat subuh. Pas mau berangkat sekolah. Buat shopping mainan.”

Dater: “Betul! Mau tarik tunainya pas mau berangkat sekolah aja!”

Father: “Iy, em, h..”

“Mati dah..”, ujar Bapak dalam hati. Bapak yang kehabisan amunisi hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar pernyataan si Anak.


Cerah bertukar gemerlap malam yang dihujam cahaya bintang. Diselimuti dinginnya udara bebas polusi di pinggir Kota. San yang teringat jadwal wajib solat subuh esok sambil membayangkan bergunung-gunung mainan dan makanan yang bisa ditukar dengan harga solat sunnah subuh.

Tak hapal combo adab sebelum tidur. San dan Dater membuka halaman daftar isi kitab Minhajul Muslim warisan si Bapak.

San: “Bab Adab dek!”

Dater menggeser jari telunjuknya perlahan sembari mencari baris adab tidur.

Dater: “Dua lima lapan kak!”

Menunjuk diiringi mimik yang serius,

San: “Tidak menunda waktu tidur. Wudhu. Miring kanan, bantal tangan kanan. Jangan tengkurap. Tasbih tiga-tiga, tahmid tiga-tiga, takbir tiga-tiga, tahlil agak panjang satu. Al-Fatihah, al-Baqarah satu sampai lima, kursi, tiga ayat penutup.”

Dater: “Itu doa tidurnya yang habis itu panjang betul kak. Malas adek bacanya.”

San: “Yang pendek aja. Yang diajarin Bapak. Yang penting ikhlas dan pernah kita liat dalilnya. Bagus lagi yang pendek ini kita tau artinya.”

Dater: “Ya sudah yang pendek aja, enak.”

Setelah serangkaian prosesi ritual baik tersebut, mereka tidur.


[alam mimpi]

San: “Whaaaw!”

San disuguhkan mesin ATM dengan laci bertingkat-tingkat bertuliskan di atasnya “withdraw subuh” yang tak kunjung berhenti mengeluarkan permen, cemilan, minuman, uang dan mainan. Sejauh mata memandang, hanya segala keinginan yang menjadi nyata. San makan dengan sangat banyak. Sampai-sampai perutnya meledak.

Lalu San merasa sakit yang luar biasa. Seolah disetiap milimeter kulitnya ada pisau tajam yang mengulitinya hidup-hidup. Sembari merasakan kesakitan, perlahan San dapat melihat jasadnya sendiri. Melihat jasadnya sendiri yang terbujur kaku dengan perut yang terurai aneka makanan. Tak mempedulikan jasadnya, San kembali ke mesin ATM. Ada yang aneh. Kali ini San tak dapat mengambil apapun yang keluar bak air terjun dari mesin ATM itu. Lalu tiba-tiba San dibungkus sesosok berwajah hitam dengan kain mori kasar berbau busuk. Dibawa melalui serangkaian proses perjalanan yang menjemukan. Lalu dikembalikan ke jasadnya. Tak dapat berkutik. San hanya bisa pasrah, melihat, mendengar dan merasakan lingkungan sekitarnya.

Tiba-tiba suasana jadi mencekam. Muncul dua sosok hitam legam bermata biru dan suara yang berat.

Sosok hitam: “Man Robbuka?”

San: “?”

Sosok hitam: “Wa maa diinuka?”

San: “?”

Sosok hitam: “Wa maa hadzaar rujululladzi bu’itsa fiikum?”

San: “Saya tidak mengerti! Kalian siapa? Apa yang kalian inginkan?”

Tak lama kemudian, hawa panas dan bau busuk memenuhi segenap alam kubur San. Tanah tempat San berbaring menyempit perlahan hingga tulang-belulangnya pecah dan bersilang. San kesakitan. Berharap bisa meloloskan diri dan kembali kepada mesin ATM sewaktu masih hidup. Lalu datang sesosok yang sangat buruk rupanya, berpakaian kotor dan berbau busuk.

San: “Siapa kamu? Betapa sialnya aku berjumpa denganmu!”

Dosa: “Aku adalah dosa-dosamu.”

San: “Dosa? Aku mengerjakan solat lima waktu! Amal solatku menghapus semua dosa-dosaku! Enyah kamu dari sini!”

Dosa: “Dengar makhluk takabur, kamu telah menarik tunai semua amal solatmu di dunia. Amal baikmu yang lain tidak cukup untuk menghapus dosa-dosamu. Sekarang kamu tidak membawa perbekalan apapun kecuali dosa. Nikmatilah waktu bersamaku hingga masa berbangkit di padang mahsyar tiba.”

Lalu sosok tersebut mendekat dan berbaring bersama San. Betapa sumpeknya kondisi tersebut. Mencekam, busuk dan menyakitkan.


[alam dunia]

San: “H..!”

Terbangun dari mimpi buruknya.

San: “Astagfirullaahal’adzim.”

Masih dalam keadaan napas terpingkal-pingkal, tepat dengan waktu adzan subuh berkumandang. San yang masih ketakutan lari menuju kamar Bapak dan Ibu.

San: “H..! Masih tidur!?”

San mengambil wudhu dan shalat sunnah fajar 2×2 rakaat. Seusainya ia mendapatkan rakaat pertama berjamaah di Masjid. Pulang dari Masjid ia mendapati si Bapak sedang shalat di rumah.

San: “Kok nggak solat di masjid?”

Bisik San dalam hati.

Seusai Bapak berdzikir, San yang menunggu untuk ada kesempatan bertanya lalu melontarkan pertanyaan,

San: “Bapak kok nggak solat di masjid?”

Father: “Sudah tadi solat di masjid.”

San: “Loh terus itu barusan solat apa Pak?”

Father: “Solat sunnah fajar.”

San: “Sejak kapan ada solat sunnah ba’diah subuh Pak?”

Father: “Itu bukan solat sunnah ba’diah fajar. Itu qadha shalat sunnah qobliah fajar. Bapak tadi benar-benar belum sadar pas waktunya masih bisa qobliah fajar. Bangunnya pas sudah qamat. Qadha solat sunnah fajar itu boleh nak selama ada udzur syar’i.”

San: “Kok bisa begitu ya Pak? Padahal itu kan cuma solat sunnah.”

Father: “Bisa. Islam itu mudah. Yang susah itu kalau pahamnya setengah-setengah. Bisa-bisa kita yang nggak paham, orang lain yang mungkin sudah bener kita bilang bid’ah.”

San: “Hmm.”

Father: “Ada banyak sebenarnya yang semestinya jangan paham setengah-setengah. Contoh lainnya, solat sunnah yang dilakukan sebelum solat jumat misalnya. Jangan juga kita buru-buru tuduh orang lain ahli bid’ah. Bisa saja dia niatnya solat sunnah tathawwu’. Bisa juga baru masuk masjid, terus niatnya solat sunnah tahiyatul masjid. Bisa juga niatnya solat sunnah wudhu. Macam-macam.”

San: “Hmm. Kenapa Bapak kok sepertinya ngotot betul ngejar solat sunnah. Kan wajibnya sudah gugur. Sudah nggak dosa. Sunnah kan nggak dikerjakan nggak papa?”

Father: “Khusus solat sunnah fajar, itu mahal nak. Solat sunnah fajar itu mahal. Orang terkaya di dunia sekalipun, kalau kelewatan solat sunnah fajar itu ruginya nggak kepalang tanggung. Karena ganjarannya itu lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Tiba-tiba San teringat akan mimpi buruknya. Wajahnya menjadi pucat pasi.

Father: “Cuma ya nggak bisa ditarik tunai sekarang.”

San: “Syukurlah nggak bisa.”

Father: “Kenapa tiba-tiba berubah? Kemarin keliatannya pengen banget ditarik tunai.”

San: “Kalau ditarik tunai, habis mati San nggak dapat bagian apa-apa Pak. Mending tabung banyak-banyak sekarang amalnya. Nanti di kubur nggak bobo’ bareng dosa. Tarik tunainya di akhirat aja.”

Bapak jadi heran, kesurupan malaikat apa anaknya satu ini subuh-subuh. Orang tuanya belum terlalu paham, anaknya sudah ngomong macam-macam.

Father: “Alhamdulillah. Kamu belajar di mana nak?”

San: “Jadi begini..”

Lalu San bercerita panjang lebar tentang mimpinya. Setelah hening sesaat,

San: “Aneh Pak, padahal sudah tasbih, tahmid, takbir, tahlil, Qur’an, doa sebelum tidur. Tapi masih mimpi buruk juga.”

Father: “Wallahu a’lam. Sebenarnya mimpi kamu itu kalau dikumpulkan dalilnya banyak nak. Seingat Bapak, itu semua memang ada dalilnya. Dan setelah kubur itu ada lagi padang mahsyar, yaumul hisab, yaumul mizan dan seterusnya. Cuma bapak nggak hapal detailnya. Hikmahnya dengan mimpi itu, kamu sekarang tau siapa yang kamu temui kalau sudah mati, kamu tau apa yang harus dijawab kalau sudah mati, kamu tau bekal apa yang bermanfaat untuk disiapkan buat nanti kalau sudah mati. Bisa jadi kamu nggak suka mimpi itu nak, tapi justru mimpi buruk itu yang bantu kamu versi hari ini jadi lebih baik dari hari kemarin. Buat kamu jadi lebih tau, lebih ngerti, lebih sadar, lebih waras dari sudut pandang agama yang diridhoi Allah. Tak hanya hidayah yang terang, namun juga taufiq untuk berubah. Ngerti?”

San: “Nggak.”

Father: “H.. Ya sudah. Nanti habis kamu sekolah Bapak pengen ajak kamu main-main ke bank syari’ah.”

San: “Ngapain Pak?”


[bank syari’ah]

Father: “Jadi sekarang kita ini lagi deposito.”

San: “?”

Father: “Kamu nggak bisa tarik ini sampai batas waktu yang ditentukan.”

San: “Mirip sistem tarik tunai amal ya Pak.”

Father: “Cuma yang ini bisa ditarik di dunia, dan kemungkinan nggak ada resiko sama amal.”

San: “Supaya apa Pak? Kenapa nggak tabungan biasa aja?”

Father: “Supaya terjaga baik. Khawatirnya Bapak atau kamu sedang tidak bijak dalam menggunakan uang. Atau lapar mata kepengen mainan tertentu. Jadi hartamu aman karena tidak terlalu mudah di-withdraw. Dan supaya kamu bisa bebas berpikir dan merencanakan yang terbaik tentang penggunaan uang itu di masa depan. Supaya lebih bijaksana. Harapannya supaya hasil akhir yang kamu terima itu adalah yang terbaik di antara yang lebih baik.”

San: “Mungkin itu sebabnya kenapa amal sama sekali nggak bisa ditarik sedikitpun. Supaya kita bisa tuai sebanyak-banyaknya di akhirat nanti.”

Father: “Wallahu a’lam. Mungkin.”

Lantas Bapak melakukan withdrawal depositonya yang telah jatuh tempo. Menyisihkannya sebagian,

Father: “Nih buat kamu.”

San: “Buat Bapak ajalah.”

Father: “Loh kenapa? Ini lumayan buat deposito kamu.”

San: “Bagus buat Bapak aja. Bapak kalau ada uang pasti belikan kitab. Sudah dapat kitab, ilmunya pasti diajarin ke kita. Ilmunya bisa dipakai beramal. Amalnya semoga bisa di-withdraw di akhirat. Kampung akhirat itu lebih baik.”

Father: “?”

 

— oO Tamat Oo —

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s