SOLUSI LISENSI OS

Daftar Isi
- Pilih Haram atau Haram?
- Opensource & Multiplatform
- Bos
- StartUp

 

Polosan: “Saya terima nikahnya Fulanwati binti Bapaknya Fulanwati dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang tunai sekian-sekian rupiah haram dibayar tunai.”

Saksi Polos1: “Tsssahhh!”

Saksi Polos2: “Tsssahhh!”

Audiens Polos: “Tsssahhh!”

Penghulu Polos: “Sah.”

Polosan: “Alhamdulillah..”


Lalu atas nama anak istri mau makan apa, atas nama malas belajar, atas nama doktrin dari atasan agar menggunakan bajakan, atas nama aplikasi native yang tidak diupayakan agar jadi multiplatform atau migrasi ke opensource, atas statement toh orang lain semua bajak, kita halalkan keharaman berkesinambungan yang sebenarnya bisa diusahakan untuk jadi halal. Saya sangat bersyukur tidak/belum ada kambing hitam untuk menghalalkan yang haram. Dan saya sangat bersyukur tidak lahir sebagai mujtahid di zaman sekarang mengingat terlalu banyak perkara baru yang harus dipertanggung jawabkan niat dan sikap hukumnya kelak. Tapi bagi Anda yang sudah punya kambing hitam, rasa gelisah terhadap status halal haram makanan yang masuk ke mulut anak istri anda, karena pondasi aplikasi yang anda gunakan mencari nafkah haram, jangan terlalu khawatir. Cukup khawatir saja.

Pilih Haram atau Haram?

Riba dan mbajak sama haram. Cuma kalau anda ternyata pilihannya cuma dua itu bagaimana? Kita mulai dari mbajak. Anda bajak. Hari ini taubat. Besok bajak lagi. Taubat lagi. Begiiitu aja terus sampai mampus. Jika anda bisa bisa sampai merasa tenang dengan hal tersebut, maka saya tidak mengerti rukun iman agama mana yang anda yakini.

Sekarang Riba. Anda kumpulkan uang. Anda transfer sejumlah uang kepada teman yang memiliki kartu kredit untuk bayar lisensi. Lalu hasil jadi yang telah terinstalasi dengan baik anda lakukan cloning partisi agar menjadi backup jikalau anda melakukan hal ceroboh atau bodoh yang mengakibatkan OS berlisensi anda corrupted atau error. Lalu anda bertaubat, menyesal telah menjadi praktisi riba. Lalu anda rutinkan shalat dhuha dan doanya yang salah satu isinya “… jika haram maka halalkanlah/sucikanlah …”.

Mana yang mending? Riba yang level terkecilnya setara dosa zina dengan ibu kandung sendiri atau membajak berkesinambungan? SAYA PRIBADI akan pilih Riba satu kali tapi masalahnya besok-besok cukup menambal dosa dengan amal baik. Daripada bajak berkesinambungan sampai benar-benar dalam keadaan berdosa tapi sama sekali nggak merasa. Tapi faktanya saya bisa ambil pilihan untuk tidak riba. Loh kok bisa? Karena saya ambil lajur opensource.

Opensource & Multiplatform

Kalau mau definisi baku silahkan berselancar dengan kata kunci: opensource adalah.

Sekarang bayangkan anda ada di showroom motor. Ada dua motor. Satu nama motornya berbayar dan satu nama motornya opensource. Yang berbayar akad transkasinya jual beli biasa, harga 1M umapama (1 eMber :v). Opensource akadnya tidak wajib bayar. Hanya disediakan lajur donasi. Lalu anda tertarik dengan berbayar karena sekarang di jalanan orang semuanya lagi demam motor berbayar. Nggak pakai berbayar anda nggak bisa join ke komunitas terkini. Nggak pakai berbayar anda sulit cari uang karena nggak ada di sistem yang umum dipakai untuk cari uang. Lalu anda bawa pulang begitu saja motor berbayar tanpa bayar sepeserpun kepada si produsen/developer motor berbayar, karena banyak orang melakukan hal tersebut dalam kondisi developer mengerti, tau dan mendiamkan. Apa hukum anda menggunakan motor berbayar curian yang tidak dilunasi akad transaksinya tersebut? Si developernya nggak nuntut lho, harusnya halal dong. Kan di Islam halal itu kalau ada keridhaan dari penjual dan pembeli? Ya berarti halal. Mencuri itu halal. Mencuri itu halal?

Nah sekarang ada satu lagi orang. Pakai motor opensource. Sistem akad muamalahnya donasi atau sedekah. Opensource donasinya telah ditentukan developer katakanlah bisa dimulai dari $15. Tapi si orang ini pilih nggak donasi. Haramkah orang pakai motor dengan akad sedekah yang bisa dimulai dari $15 tapi dia nggak sedekah? Jika haram maka manusia telah mewajibkan sedekah setara dengan zakat. Yang mana semula sedekah hukumnya tidak wajib namun sangat amat dianjurkan.

Mungkin di antara anda ada yang bertanya-tanya. Kenapa si developer software berbayar ini kok mau-maunya softwarenya dibajak. Kalau saya jadi bosnya developer berbayar, saya juga akan melakukan hal yang sama. Kenapa? Karena pertama software zaman sekarang itu biaya produksinya cuma listrik. Hari gini masih pakai dvd? Apa-apanya tinggal colok flashdisk, tinggal makan minum selesai. Ya kadang-kadang pakai dvd juga kalau kondisinya ambigu, tapi ya gimana-gimana sudah terbudayakan sacara umum pakai flashdisk, mau pakai dvd tinggal burn daripada nunggu. Kedua, media promosi manusia yang dibayar cuma-cuma. Developer cukup fokus sama kebutuhan dan selera pasar, buat harga, lepas software ke khalayak, biarkan tukang crack bikin software trial jadi abadi, nggak usah dituntut, buang-buang energi, buang-buang biaya. Konsumen senang, konsumen nyaman, konsumen rasa aman dengan antivirus bajakan, terjadi penyaranan atau doktrin OS kepada teman atau bos atau bawahan, seiring berjalan waktu perusahaan bisa menghasilkan dari OS bajakan. OS bajakan produktif, tiba saatnya cashflow ada lebih untuk disisihkan bayar lisensi ke developer via credit card. Akhirnya terjadi mutualisme. Untung di konsumen, untung di developer. Jadi membiarkan software itu dibajak, memutar roda perekonomian baik konsumen maupun developer. Salahkah bertahan hidup? Tidak. Salahkah Riba? Salah. Tidak riba tidak hidup? Hegemoni, persepsi. Kadang pertanyaan saya tentang mengapa seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, terjawab pada kondisi seperti ini. Makin ke ujung zaman, perkara-perkara baru itu semakin nyaman, memanjakan, menyenangkan, menguntungkan, mutualisme, tapi begitu bicara kejelasan timbangan amal baik nggak jelas tuntunannya. Ujung-ujungnya kembali lagi konflik batin. Intelligent Quotient (IQ) bilang sudah terabas aja, nggak ikut alur hidupmu susah, toh Tuhan Maha Pengampun, tinggal tobat apa susahnya. Spriritual Quotient (SQ) bilang apalah arti persepsi orang, apalah arti hidup yang rata-rata 60 tahun, dibandingkan kenikmatan yang tingginya tak tersentuh imajinasi, dengan batas waktu yang tak terdefinisikan, 30 detik di atas api dunia aja sudah kayak cacing kepanasan, bikin dosa sudah kayak iya-iyanya jamin diampuni, kayak iya-iyanya cara beramal sudah betul, kayak iya-iyanya amal sudah pasti diterima, Akhirat punya Buapakmu? Buapakmu aja sekarang belum jelas surga nerakanya. See? Seburuk-buruk perkara adalah perkara baru. Bagi yang akalnya seimbang.

Multiplatform memungkinkan suatu aplikasi dapat berjalan di atas banyak platform, banyak OS. Jadi umpama dalam suatu infrastruktur jaringan komputer dengan komputer OS-nya beda-beda, nggak masalah. Karena aplikasinya jalan di atas OS-OS yang beda-beda itu via peramban web. Pemrogramman Web adalah salah satu solusi dari kanekaragaman yang ada. Fleksibel. Mobile bisa, desktop bisa. Pokok asal komputer apapun itu bisa pakai web browser bisa sudah diakalin pakai multiplatform programming. Kalau bicara keamanan saya tidak tau banyak. Yang saya tau semakin low level language semakin ‘terasa’ aman. Kalau mau yang ‘sekuat titanium’, ‘sekokoh gunung’, ‘sedinamis air’, ‘seluwes angin’, ‘sebombastis badai’, ‘sepanas api’, ‘secepat kilat’, pastikan anda avatar dengan latar belakang IT yang menguasai semua low-mid-high level language bahasa pemrograman. Beserta administrasi sistem dan jaringannya, kabel dan nirkabel. Jadi kalau anda muslim, IT konsultan, diminta garap aplikasi, tidak tau apa itu native, apa itu multiplatform, tidak tanya kebutuhan konsumen ke depannya, tidak tawarkan opensource untuk efisiensi dan pencegahan riba, langsung sikat native, saya sarankan pensiun saja. Kalau tidak ada ‘ekor’.

Bos

Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Jadi nanti kalau anda karyawan, mati, alam barzakh, padang mahsyar, yaumul hisab ditanya kenapa jadi praktisi yang haram, bilang saja, “Saya cuma karyawan, ini yang suruh bos saya. Saya cuma jalankan perintah. Masalah lisensi apa segala macem urusan orang atas dan fasilitator, bukan tanggung jawab saya. Saya ceritanya polosan, bungul, tambuk, goblok, malas belajar hal baru, masalah saya sudah banyak, jadi bodo amat ngurusin tanggung jawab atasan”. Terus Bos ditanya, “?”. Malaikat tanya, “Ini lisensinya kenapa nggak diurus suapaya halal, atau pakai alternatif yang halal buat karyawan-karyawanmu?”. Bos, “?”. Malaikat, “Kenapa? Nggak ngerti? Kenapa nggak dipelajari? Hidupmu di dunia itu kamu pakai buat ngapain aja?”. Bos, “?”. Malaikat, “Dasar tammmbukkk!” Lalu malaikat mengayunkan palu besi yang tidak bisa diangkat seluruh manusia dan jin yang saling bahu membahu untuk mengangkatnya (JEDYAEAENGGG!!!). Nggak, itu cuma ilustrasi.

Bos suruh anak buah belajar opensource. Sediakan printer yang kompatibel dengan OS atau komunikasi efektif dengan developer opensource via web resmi atau email agar dibuatkan driver printer jadi kompatibel dengan OS opensource. Sebut saja salah satunya Linux Ubuntu, atau Linux Mint. Whatever. Atau bos beli lisensi. Suruh anak buah clone partisi. Backup atau burning. Taubat. Sederhana. Selesai. Kalau ada orang bilang seumur hidup anda dan karyawan anda makan dari yang haram atau pakai produk kafir, bilang, “Saya sudah listing semua pilihan. Semua pilihan yang ada buruk. Dari semua pilihan buruk saya pilih yang terbaik karena tidak memilih adalah pilihan yang lebih buruk untuk karyawan saya semuanya. Nah pertanyaannya sekarang, anda ini mujtahid darimana? larang-larang saya tapi nggak kasih solusi, nuliskan solusi enggak, donasi ilmu enggak, suguhkan alternatif enggak, tau-tau muncul telat habis keputusan keluar dan nggak kontribusi apa-apa untuk perubahan yang lebih baik. Anda ini mau matinya pelan-pelan atau cepat-cepat, sekarang apa nanti, dengan cara terpelajar atau cara primitif?” Nggak, yang terakhir bercanda ya.

StartUp

Apakah sumber dananya Pemerintah, Swasta, atau murni start dari inisiatif remaja-remaja muslim yang radikal-bebas-pantas-terpelajar, startup memang bisa jadi solusi. Produknya aplikasi. Fungsinya titip bayar. Jadi masyarakat indonesia bisa transfer dari rekening syari’ahnya ke rekening aplikasi. Rekening aplikasi tersebut dikelola sedemikian rupa agar dapat melakukan transaksi dari akun terdaftar ke pihak developer software berlisensi. Apakah developer software lisensi GNU atau berbayar. Selesai. Jika tidak bisa ya terpaksa pakai satu akun kredit untuk media developer StartUp transaksi atau transfer ke developer OS. Riba? Jelas riba. Tapi bayangkan, berapa banyak muslim yang tidak harus bikin akun kartu kredit karenanya. Ambil konsekuensi 1 mudharat untuk banyak manfaat. Atau satu manfaat untuk banyak mudharat berkelanjutan. Ya idealnya pilih 0 mudharat untuk manfaat yang berbobot besar, banyak dan berkersinambungan. Tapi kenyataan sekarang, yang mungkin direalisasikan bagaimana?

Kalau saya pribadi, pilih yang terbaik dari yang terbaik. Pilih yang terbaik di antara kondisi pilihan yang terburuk. Nggak ada pengingkaran dari dalam yang haram tetap haram yang halal tetap halal. Yang penting nggak tersangkut ke dalam mudharat yang lebih besar dengan elite atau penguasa ilmu maupun aturan yang mengkaji dan melakukan perbaikan secara berkesinambungan.

Dan kalau GNU sekalipun bagus juga untuk tetap donasi. Mengapa? Subsidi silang. Yang belum mampu bisa gunakan. Yang sudah ada kelebihan dari penggunaan OS berlisensi GNU, opensource mulai donasi. Developer bisa bertahan hidup dan berkembang (atau berkembang biak :v), konsumen untung, calon konsumen terbebas dari dosa rutin harian penggunaan software bajakan. Satu dua komputer dalam suatu instansi atau perusahaan menggunakan OS lisensi berbayar (dan memang dibayar lisensinya) lalu di-dualboot dengan yang berlisensi GNU untuk tindakan preventif dari aplikasi native sisa-sisa perencanaan aplikasi yang kurang melibatkan unsur SQ dalam realisasinya. Satu lagi, Perusahaan besar yang OS-nya lisensi berbayar tak berarti tak punya yayasan amal. Entahlah, menurut saya pribadi sedekah (fisik) terbaik itu tempat (bangunan) untuk berusaha, dan ilmu untuk bermuamalah yang sesuai syari’at lalu diikuti modal usaha. Bukan uang yang tidak bisa diputar lalu habis begitu saja untuk memenuhi kebutuhan primer. Tapi kalau syarat sedekah harus seperti itu, bisa-bisa banyak orang mati kelaparan.

 

Sampai paragraf terakhir di atas, semua menang. Win-win solution. Pilihan yang cukup baik sudah di depan mata anda. Tinggal andanya saja lagi. Mau jalankan pilihan yang sudah cukup baik untuk anda pribadi atau lingkungan kerja anda seperti di atas, atau mau buat solusi yang lebih baik, efektif, efisien dari kacamata IQ, EQ & SQ dan menaruhkan link-nya pada kolom komen di bawah? Atau pilih menertawakan tulisan ini, menganggap tulisan ini bodoh, melanjutkan kekeliruan yang tak jelas batas akhirnya, tetap tidak sadar salah, tetap menganggap dosa kecil dengan akumulasi rutin harian itu bukan apa-apa dan pura-pura semua baik-baik saja. Seperti biasanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s