BISA JADI SOLUSI ASMARA DAN FINANSIAL (2. ‘Papan’ atau Tempat Tinggal)

Kebutuhan Pokok
1. Pendidikan (Agama Islam)
2. Sandang
3. Pangan
4. Papan

Baca lebih lanjut

Iklan

BISA JADI SOLUSI ASMARA DAN FINANSIAL

Kita belajar di sekolah dasar. Umumnya usia 6 sampai 12 tahun. Jaman saya dulu, di penghujung sekolah dasarnya, tindakan terlarang paling ‘kriminal’ yang umum terjadi adalah nonton video bok*p berjamaah. Oleh Anak Sekolah Dasar. Namun jaman sekarang sudah banyak kemajuan. Bukan lagi nonton, melainkan sudah praktek. Kemajuan yang sangat pesat. Jaman sekarang Anak SD sudah ada saja yang ber-‘Mamah-Papah’ mendahului gurunya. Guru-gurunya sendiri mungkin jangankan ‘Mamah-Papah’, pasangan aja mungkin belum punya, punya pasanganpun pagi-pagi mungkin bukannya disapa-sayang-manja tapi malah “bikin sarapan dulu sana”, “Panaskan mobil / motor dulu sana”, “Antar Anak dulu sana”. Lalu lanjut ke Sekolah Menengah Pertama. Di mana sebagian dari mereka sudah ada yang produksi Maha Karya-Maha Karya yang luar biasa seperti video-video ‘biologis’ yang visualitatif dan menggugah selera, terkait ‘tutorial produksi Anak manusia’ dengan menggunakan seragam sekolah. Dan bisa kita akses dengan mudahnya menggunakan  kata kunci tertentu di google. Umumnya usia 12 hingga 14 tahun. Lalu lanjut lagi ke Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Umumnya 14 sampai 16 tahun. Pada fase usia ini remaja semakin pintar. Karena banyak kata dan istilah asing di generasi terdahulu yang masih tabu namun sekarang sudah luar kepala dan fasih diucapkan. Semisal “Aborsi”, “Sex pra nikah”, “kumpul kebo”, dan semua aneka istilah rahasia umum mereka yang kalau saya tulis di sini mungkin google akan menyimpan kata-kata tersebut dan data tersebut digunakan untuk membantu menentukan jenis-jenis iklan yang muncul di media sosial yang saya miliki lalu media sosial yang saya miliki berisi iklan konten dewasa.
Baca lebih lanjut

MENGAPA ZAKAT DENGAN MAKANAN POKOK

3 && 1

3 & 1 (bukan 3 vs 1). Yang tiga: Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, ‘mufakat’ tanpa voting bahwa tidak sah ZAKAT FITHR / FITRAH dengan uang[1]. Yang satu, Imam Hanafi, boleh dan Abu yusuf menyatakan LEBIH SENANG zakat fithr dengan uang dari pada dengan bahan makanan, karena yang demikian itu lebih tepat mengenai kebutuhan miskin. [1.2].

 

Uang jika Darurat

Kita bisa berhujjah dengan dalil ‘darurat’ [3] terkait pernyataan ini.
“Membayar zakat fitrah dengan sesuatu yang senilai (misal: uang) tidak sah KECUALI SAAT DARURAT.” (Al Majmu’6: 71). [2].

 

Yang Lebih Mengerti Belas Kasih

Zakat dengan uang adalah orang dengan belas kasih sangat dalam dan mengerti kesulitan hidup orang miskin. Namun orang yang lebih dari sekedar ‘amat belas kasih’ mencontohkan zakat dengan barang pokok.

QS. At-Taubah[9]: 128
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitannmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Baca lebih lanjut

CRACKS OF LAILATUL QADR & RAMADHAN

Bismillaahirrahmaanirrahiim

QS. Al-Qadr [97]: 3
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Jika:
A = 1.000 Bulan
B = Pada Malam Kemuliaan / Lailatul Qadr
C = Pahala

Maka:
CA != CB

Karena:
CB > CA (Pernyataan sesuai dalil)
CB >= CA (Pernyataan keliru, mengurangi makna Lailatul Qadr)

Perumpamaan:
W = Orang
X = Bekerja
Y = Gaji
Z = Rp. 2.500.000.000,-. Asumsi CAWX. Rp. 2.500.000,-/bln x A = Rp. 2.500.000.000,-

Maka:
YWXB > Z

tidak sekedar

YWXB = Z, maupun, YWXB >= Z

Lalu seperti apa ‘Cracks’-nya?

 

1. Isya Berjamaah + Subuh Berjamaah pada 10 Malam Terakhir

Shalat isya berjamaah = semisal Qiyamul Lail separuh malam.
https://muslim.or.id/7280-keutamaan-shalat-shubuh.html

Shalat subuh berjamaah = seperti Qiyamul Lail semalam penuh.
https://muslim.or.id/9946-beberapa-keutamaan-shalat-shubuh.html

 

2. Masjid dengan Imam dan S.O.P Qiyamul Lail 100% Ittiba’ Rasul

Iman, Ittiba’, Ikhlas. Syarat diterimanya amal. Menghindari panjang lebar beribadah tapi ternyata tertolak.

Ikhlas, Ittiba’ tapi Kafir..? Syahadatlah. Belajar shalat. Karena ini lebih mahal dari pendapatan Anda yang diakumulasi 1.000 bulan + lebih-lebihnya kalau didepositokan, diemaskan, disahamkan atau dipropertikan. Jangan buang waktu terlalu lama. Khawatirnya menyesal.
https://almanhaj.or.id/6882-syarat-ibadah-diterima.html
https://almanhaj.or.id/3540-penyesalan-yang-tiada-berguna.html

Untuk di Samarinda, contoh masjid yang seperti ini, yang semisal masjid as-Sunnah di Kemakmuran.

 

3. Masjid dengan Jama’ah Terbanyak

Semakin banyak jumlah makmum, maka semakin besar pahalanya dan semakin disukai Allah.
Sumber: https://almanhaj.or.id/3878-hukum-hukum-yang-berkaitan-dengan-shalat-berjamaah.html

 

4. Ayat Qur’an

Dalam shalat, 2 ayatnya lebih baik dari 2 ekor unta. Di luar shalat, adalah yang semisal perniagaan anti rugi, disempurnakan pahalanya, ditambahkan karunia oleh-Nya.
https://almanhaj.or.id/3319-tabarruk-dengan-membaca-al-quran-al-karim.html

 

5. Sedekah

Berkaca dari nasib senior kita (mayit) dalam QS. al-Munafiqun[63]: 10. Senior kita lebih memilih sedekah. Rasionalnya, karena sedekah adalah cara cerdas dalam beramal. Sesuai dengan prinsip low effort high impact. Upaya sekecil-kecilnya untuk hasil sebesar-besarnya. Sedekah makanan bisa jadi jangka panjang karena sebagian tidak terbuang menjadi fases melainkan menjadi zat penyusun tubuh orang yang diberi sedekah. Tidak makananpun, barang berjangka panjang atau ilmu juga bersifat jariah. Dengan catatan digunakan untuk taat oleh si penerima sedekah. Terus mengalir walapun kita lupakan. Apa sedekah terbaik? Banyak. 2 rekomendasi Saya:

(1) al-Qur’an untuk Pencinta al-Qur’an. Rekomendasi: imla’i untuk pemula, rasm utsmani untuk yang mulai lancar. Mengapa? panjang (-_-). Saya sedang malas.

(2) Kitab Shahih & Asli untuk Penulis YANG DAPAT MEMBACA, TULIS & PAHAM BAHASA ARAB / BAHASA TULISAN AHLI HADITS
Kitab shahih untuk penulis akan bermanfaat tidak hanya bagi para pembaca tulisan si penulis yang menyebar luaskannya. Namun juga bagi para alim ulama yang membacanya. Memudahkan mereka untuk tabayyun. Karena akan sering kita jumpai nomor hadits yang tidak sesuai dengan KITAB HADITS ASLI YANG BERBAHASA ARAB. Karena penerbit lain banyak yang melakukan pengubahan nomor hadits. Jangankan yang tidak terkenal. Yang terkenal saja pernah dijumpai hadits nomornya sangat jauh berbeda. Bahkan ada hadits penting untuk dijadikan hujjah mengambil sikap hukum, hilang / dihilangkan. Tak Saya sebut nama karena targetnya hanya mengingatkan dan mengambil pelajaran. Akan lebih memudahkan banyak kalangan jika format penomoran sesuai dengan kitab sahih asli.

 

6. Lebih Baik dari I’tikaf

Membuka puasakan orang lain, memenuhi kebutuhan sesama muslim yang kesulitan hidup, dll.
http://www.panjimas.com/kajian/2016/07/01/adakah-yang-lebih-baik-dari-itikaf-dan-lailatul-qadar/

 

7. Cuti Kerja atau Tawar Jam Kerja

Mungkin bagi Anda yang merasa sangat sayang dengan waktu Lailatul Qadr, akan begadang. Membaca Qur’an. Qiyamul Lail. I’tikaf. Lalu bangun siang. Minta saja cuti, atau tawar jam kerja. Kalau tidak memungkinkan, Niat sudah mewakilkan segalanya. Tapi semua niat? belum tentu. Niat cenderung kepada itikad kuat bukan wacana. Itikad kuat tidak sama dengan wacana. Itikad cenderung “What ever it takes”. Wacana, “Jadi alhamdulillah, nggak jadi ya sudahlah nggak papa”.
https://almanhaj.or.id/3546-niat-untuk-berbuat-baik-mendapat-pahala.html

 

8. Timing

Kapan Lailatul Qadr? antara:
1. 21, 23, 25, 27, 29, malam terakhir Ramadhan
2. 10 malam terakhir

Hakikinya wallahu a’lam. Sah-sah saja kalau Allah mau taruh bahkan di 1-20 hari awal. Allah Maha Berkehendak. Yang masyhur / umum, 1 (satu) malam ganjil dari 10 (sepuluh) malam terakhir Ramadhan.

Ciri:
1. Malamnya cerah, tak panas, tak juga dingin.
2. Matahari terbit tidak menyilaukan. Cahayanya melemah kemerah-merahan. Penampakan seperti bejana yang meninggi.
https://almanhaj.or.id/1142-malam-lailatul-qadar.html

 

9. ‘Panci Anti Bocor’

Anda masak, masak amal. Tapi pancinya bocor. Amal jadi sia-sia. Tidak bisa dikonsumsi. Dalam masak amal, panci tak kalah penting dari amal itu sendiri. Jadi intensitas perhatian pada kualitas ‘panci’ adalah penting. Karena percuma capek-capek beramal, habis-habisan bersedekah, eh ternyata amalnya tidak bisa dinikmati. Bocor. Perlu kita waspadai:

Syirik, riya’, dukun dan yang semisal, durhaka kepada orang tua, mengungkit sedekah, mendustakan takdir, bahagia mukmin terbunuh, ngaku-ngaku ayah nasab padahal bukan, melanggar yang haram saat sendirian apalagi terang-terangan, vonis Allah tidak akan mengampuni seseorang, meninggalkan shalat ashar, candu zat yang memabukkan, istri durhaka terhadap suami.
https://almanhaj.or.id/3575-mengkhawatirkan-gugurnya-pahala-amalan.html

 

–oO Alim & Masyhur tak berarti Ulama, hina tak mutlak neraka Oo–

QS. Fathir[35]: 28
“… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama …”

 


Notes: Saya saat ini tidak termasuk tukang tulis yang ahli menterjemah atau menafsir. Tabayyun manfaatnya untuk Anda sendiri. Wassalam.

KENCING

Berdiri
Duduk
Kajung
Crot

(Rekayasa). Melihat anak kecilnya kencing berdiri dengan celana yang menempel pada tempat buang air, ditambah masuknya burung tak bersayap ke kandang, sebelum tuntasnya ‘muntah’ si burung, lalu Bapak buka celana dan masuk ke toilet tersebut,

 

BERDIRI

Mumayyiz: “Ahahaaa Bapak pakai sempak!”
Bapak: “Keluar dulu sana, lepas celana.”

Lantas Mumayyiz keluar toilet dan membuka celana.

Bapak: “Ketek burungnya.”

Mumayyiz berdehem.

Bapak: “Jangan terlalu pelan. Agak keras sedikit supaya sisa airnya jatuh.”

Lalu Mumayyiz berdeham. Jari tengahnya mengayun dengan pelan namun tekanannya kuat. Sehingga si burung Mumayyiz kecil bukannya bergetar, malah terdorong. Air senipun jatuh ke kulit paha Mumayyiz.

Bapak: “Bukan didorong maksud Bapak. Ayunan jarinya cepat, cuma jangan kuak-kuat. Supaya kepala burungnya getar. Jadi sisa kencingnya jatuh ke bawah. Kayak gini lho..”

Lalu Bapak mengayunkan jari tengahnya dengan cepat dan dengan tekanan yang tidak terlalu kuat.

Bapak: “Sakit.”

Mumayyiz: “Nggak.”

Bapak: “Ketek lagi.”

Lantas Mumayyiz berdehem.

Bapak: “Sekali lagi.”

Begitu selesai tiga kali berdehem,

Bapak: “Pegang batang burungnya pakai tangan kanan.”

Mumayyiz: “Sudah.”

Bapak: “Bukan digenggam pakai lima jari tangan kanan,” (-_-) “pegang pakai jari jempol sama telunjuk aja. Supaya nanti nggak lari ke mana-mana burungnya.”

Mumayyiz: “Udah.”

Bapak: “Oles jari telunjuk tangan yang kirinya ke ujung kepala burung.”

Mumayyiz: “Nanti kotor Pak!”

Bapak: “Udah oles aja dulu.”

Mumayyiz: “Euh..”

Lalu Mumayyiz mengoleskannya ke ujung penis. Hingga sisa air yang menempel pada ujung penis, tersangkut ke jari telunjuk tangan kiri. Namun ujung penis masih dalam keadaan lembab.

Bapak: “Nah sekarang oleskan jari tengahnya.”

Mumayyiz: “Masih pakai tangan kiri yang ini?”

Bapak: “Ya.”

Mumayyiz: “Ke ujung burungnya?”

Bapak: “Ya.”

Mumayyiz mengoleskan jari tengah tangan kirinya ke lubang pembuangan air seni. Dan sekarang ujung saluran pembuangannya sudah kering.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekarang jari manis.”

Mumayyiz: “Jari manis itu yang mana Pak?”

Bapak: “Samping jari kelingking.”

Mumayyiz: “Tangan yang tadi juga kah?”

Bapak: “Ya.”

Mumayyiz: “Oleskan?”

Bapak: “Ya.”

Mumayyiz: “Ini sudah kering, ngapain dioleskan lagi Pak?”

Bapak: “Udah oles aja dulu.”

Lalu Mumayyiz mengoleskannya.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekarang ambil gayung.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sama airnya maksudnya Nak.. Air, digayung. Pakai tangan yang kanan.” (-_-)

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekarang siram tangan kirinya.”

Mumayyiz: “Ya.”

Bapak: “Tangan kirinya sambil kayak mengoyak sesuatu gitu.”

Mumayyiz: “Ya. Sudah.”

Bapak: “Sekali lagi.”

Mumayyiz menyiram tangan kiri sambil menggesek jari jempol di keempat jari kiri yang digunakannya untuk mengeringkan sisa air seni.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekali lagi.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Berapa kali tadi?”

Mumayyiz: “Tiga.”

Bapak: “Nah sekarang kepala burungnya yang kering disapu lagi pakai jari telunjuk yang barusan dibilas.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekarang jari tengah.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Sekarang jari manis.”

Mumayyiz: “Jari manis tadi yang mana ya.”

Bapak: “Yang samping kelingking.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Bilas lagi jari tangan kirinya tiga kali kayak pertama.”

Lalu Mumayyiz membasuh lagi jari tangan kirinya seperti sebelumnya sebanyak tiga kali.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Ya sudah masukkan burungnya ke sangkar.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Siram pahanya sampai ke kaki. Gosok pakai tangan kulit paha yang kena air kencingnya tadi.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Selesaikan airnya turun.”

Mumayyiz: “Ya.”

Bapak: “Keluar, pakai lagi celana.”

Mumayyiz: “Ya.”

Bapak: “Setiap kali kencing. Biasakan begitu.”

Mumayyiz: “Capeknya Pak.” (-_-)

Bapak: “Capek apanya, cuma main jari begitu aja masa capek?”

Mumayyiz: “Malas.”

Bapak: “Itu malas namanya bukan capek.”

Lalu setelah itu, setiap kali Mumayyiz hendak buang air kecil, Ia menerapkan cara yang telah diajarkan si Bapak kepadanya. Lantaran malas. Si Mumayyiz mengadu kepada Bapaknya. Minta cara yang lebih praktis.

 

DUDUK

Bapak: “Sekarang cara praktisnya ya.”

Mumayyiz: “Ya.”

Bapak: “Buka celana sama sempaknya, turunkan sampai sepaha.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Tuh liat. Celananya turun sampai bawah mata kaki. Angkat. Sampai di atas mata kaki.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Duduk di atas kloset.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Nah tu burungnya bisa kencing kan sudah?”

Mumayyiz: “Ya.”

Bapak: “Ya kencing sudah.”

Lalu Mumayyiz buang air kecil. Hingga tuntas.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Masih ingat cara bersihkan yang biasa?”

Mumayyiz: “Ingat.”

Bapak: “Gimana?”

Lalu Mumayyiz berdehem tiga kali. Membersihkan ujung penis dengan ketiga jari tangan kiri. Bilas jari. Lalu menyapu ujung penisnya dengan air pada tiga jari tangan kiri yang baru saja dibersihkan. Lalu membilas jari tangan kirinya hingga bersih.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Ketek. Tiga kali.”

Tak seperti sebelumnya. Kini Mumayyiz telah profesional dalam berdehem. Ujung penisnya tak lagi berayun. Namun bergetar.

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Berdiri, masukkan lagi burungnya.”

Mumayyiz: “Dah.”

Bapak: “Gimana? Praktis.”

Mumayyiz: “Ya.. Cuma nggak siram paha aja bedanya.” (-_-)

Bapak: “Loh. Itu sudah praktis. Kamu nggak perlu buka celana. Nggak harus kebasahan pahanya.”

Mumayyiz: “Ya sih tapi.. Nggak enak pakai celana ke toilet.”

Bapak: “Ya sudah pakai cara pertama.”

Mumayyiz: “Hmm..” (-_-)

Merasa tidak nyaman. Mumayyiz memutuskan menggunakan cara pertama. Namun sambil duduk. Jadi kakinya tidak basah dan bisa langsung segera menggunakan celana.

 

KAJUNG

Mumayyiz kini telah disunat. Dan setelah mimpi basah Ia mengganti nama menjadi Mukallaf. Ada satu kebiasaan yang mulai muncul padanya setiap pagi. Yakni berkontraksinya penis dengan tanpa alasan yang jelas. Mumayyiz mendorong penis agar jatuh.

Penis: (Tuiuiuiuing..)

Mukallaf: “Eh, jatuh kamu!”

Penis: ()

Mukallaf: “H..” (-.-)

Satu permasalahan utama Mukallaf ialah jika buang air kecil dalam keadaan penis menegang, maka setelah menyusut, terkadang celana dalam yang digunakan akan basah dengan air seni hasil reaksi dari penis yang menyusut. Menyiasatinya, Mukallaf sekalian buang air besar apabila penisnya berkontraksi. Lalu dibiarkan hingga menyusut. Setelah menyusut, barulah ia membersihkan sisa air seni. Dan mengakhirinya dengan menyapu ujung penis dengan punggung tangan kiri yang masih kering. Lalu membasuh punggung tangan kirinya dengan air. Dengan demikian dia bisa tau. Apabila saat menggunakan celana dalam ada tanda-tanda celana dalam basah, berarti ada cairan yang keluar dari saluran pembuangan kemih.

 

CROT!

Bapak: “Boleh Bapak pinjam hpnya Nak. Lima menit aja. Bapak mau browsing sebentar. Paket Bapak lagi habis. Mau keluar malas.”

Mukallaf: “Nih.”

Bapak: “Makasih.”

Mukallaf: “M.”

Lalu Bapak membuka akun facebook si Mukallaf. Melihat ads yang muncul dominan konten dewasa. Maka Bapak menarik kesimpulan, bahwa hasil pencarian Mukallaf dominan kepada konten dewasa. Karena biasanya ads yang muncul menyesuaikan dengan hasil pencarian Mukallaf berdasarkan frekuensinya.

Bapak: “Kamu terakhir kapan mandi wajib Nak?”

Mukallaf: “Pagi tadi.”

Bapak: “Crotnya manual atau auto?”

Mukallaf: “M..”

Bapak: ?

Mukallaf: “Semi auto kayaknya Pak.”

Bapak: “Wah wah.. Gimana lagi itu semi auto?”

Mukallaf: “Ya, pertamanya cuma mimpi. Terus bangun. Karena nanggung, tidur lagi. Tuntaskan di mimpi. Crot! Habistu mandi.”

Bapak: “Luwwwar biasa. Gimana caranya bisa mimpi berseri gitu Nak? Ajarkan Bapak dong.”

Mukallaf: “Haha!”

Bapak: “Kalau bisa kurang-kurangi searching yang konten dewasa. Stoplah. Manual crot aja. Pas malam. Atau subuh. Jadi setelah sahur plong sudah. Ndak ada lagi mimpi ena-ena di jam puasa. Kalau abu-abu gitu ya apa bisa dibilang sah puasanya?”

Mukallaf: “Ya.”

Bapak: “Atau kalau nggak mau manual karena takut dosa, habis subuh nggak usah tidur aja sudah.”

Mukallaf: “Ngantuk eh Pak.”

Bapak: “Malam tidur jam berapa?”

Mukallaf: “Jam 10.”

Bapak: “Jam 10 masuk kamar apa tidur?”

Mukallaf: “Masuk kamar.”

Bapak: “Habis masuk kamar ngapain?”

Mukallaf: “Online.”

Bapak: “Online sampai jam berapa?”

Mukallaf: “Satu.”

Bapak: “Jadi tidurnya jam berapa?”

Mukallaf: “Dua.”

Bapak: “Loh jam satu sampai jam dua ngapain?”

Mukallaf: “Susah tidur. Pikiran isinya kayak lagi online.”

Bapak: “Nah..” (-_-)

Mukallaf: “Nah apa Pak.”

Bapak: “Kamu jam 10 itu coba pegang al-Qur’an. Jadi cepat tidurnya.”

Mukallaf: “Nggak. Malas.”

Bapak: “Astagfirullah.. Kamu ini orang apa setan ya Nak? Nikah aja sudah, jadi malam cepat capek. Cepat tidur. Nggak mimpi aneh-aneh. Bapak ajarin usaha, Bapak ajarin bikin PT, Bapak tanamin saham.”

Mukallaf: “Nggak. Malas. Belum besar.”

Bapak: “Kamu ini kurang besar apa, tinggi sudah sudah orang-orangan sawah, lebar sudah kayak gentong bilang masih belum besar juga. Belajar usaha, belajar kerja atau uang jajan stop?”

Mukallaf: “Nggak semuanya.”

Bapak: “Ya sudah minggu depan kamu tidur di jalan.”

Mukallaf: “Ya jangan lah Pak..”

Bapak: “Pilih.”

Mukallaf: “Usaha aja lah.”

Bapak: “Ya sudah besok Insya Allah kita belajar buat proposal.”

Lalu Bapak meletakkan al-Qur’an di meja yang berhambur. Jam sepuluh, Mukallaf hendak memegang smartphone. Namun al-Qur’an dengan hardcover dan antar muka yang klasik menyita perhatian Mukallaf. Hendak mengambil Qur’an,

Setan: “Ngantuk.. Tidur.. Tidur..”

Lalu Mukallaf tidur. Lupa membaca doa. Lupa berniat puasa Ramadhan. Sahur lewat. Subuh lewat. Mimpi ena-ena. Hampir klimaks. Bangun. Sambung mimpi. Tuntaskan dan crot!! !.

Setan: 3:)

 

–oO Tamat Oo–

CINTA NENEK MOYANG

Al kisah fiktif. Pada satu waktu di masa lampau. Hiduplah segelintir manusia polos. Polos, tapi hidup. Manusia dengan budi pekerti luhur. Dengan akhlak di atas normal. Dengan adab level super teladan. Namun sayang. Musyrik. Untuk hiburan, mereka lebih menyukai dongeng-dongeng musyrik, lagu-lagu yang mengiyakan kegalauan hati yang sebenarnya memperpanjang kegalauannya, karya dua dimensi yang membangkitkan syahwat lagi melalaikan dari hal-hal bermanfaat, patung-patung makhluk hidup non tumbuhan yang tidak disembah secara terang-terangan namun disembah dengan cara takjub secara mendalam akan karya tangan dengan detail dan kesempurnaannya saat melemparkan pandangan terhadapnya. Mereka menyukai emas, sutra, dan baju merah polos bagi laki-laki. Baju terbuka yang mempertegas ‘perhiasan’ dan perhiasan wanita. Minuman, makanan, serbuk, cairan dan asap yang memabukkan. Memabukkan dengan tanpa disadari, lagi adiktif. Berkumpul bersama lawan jenis yang belum terikat secara sah. Melakukan hubungan intim sebelum menikah dengan alasan test drive dan cek segel. Dan aneka aktifitas yang disangka baik dan benar karena dirasa nyaman.

Adalah jagoan bernama Ulama Fiqih yang diiringi budaknya,

Budak: “Sedang apa Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Bikin pakaian sutra, wayang bohay, khamr, ukulele.”

Budak: “Astagfirullah.. Harooom! Syaikh harooom! Munafik Syaikh. Anda Ulama Fiqih!”

Ulama Fiqih: “Siapa yang bilang ini halal?”

Budak: “Munafik Syaikh.. Anda Ulama Fiqih..”

Ulama Fiqih: “Baiklah. Saya munafik. Sekarang Saya minta tolong, ajak segelintir manusia polos di sana untuk masuk Islam secara menyeluruh. Hmm.. Jangan, terlalu berat. Buat mereka mau datang ke bangunan tak berdinding dengan atap seng ini saja di waktu adzan.”

Budak: “Surau ini?”

Ulama Fiqih: “Ya.”

Budak: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Saya beri kamu waktu satu bulan.”

Budak: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Oh, jangan mereka. Satu orang saja. Satu kali saja dalam sebulan. Jangan lupa, etika dakwah. Mengajak bukan mengejek.”

Budak: “Baik.”

Satu bulan kemudian,

Ulama Fiqih: “Bagaimana budakku? Kenapa satu orangpun nggak ada yang datang ke sini?”

Budak: “Saya sudah mendakwahi mereka ya Syaikh. Dengan etika dakwah yang baik. Tapi nihil. Yang mereka lakukan hanya menutup telinga jika melihat Saya.”

Ulama Fiqih: “Hahaha..”

Lalu Syaikh mengambil sutra, wayang, khamr dan ukulelenya. Bergegas menuju masyarakat polos. Sesampainya di sana, Beliau duduk. Dan mulai memainkan cerita-cerita yang menggambarkan situasi kondisi masyarakat polos setempat. Hingga masyarakat yang mengikuti hiburan yang disuguhkan Syaikh merasa ‘orang ini aku banget’. Merasa cocok, individu mengajak kumpulan-kumpulannya yang sedang tidak bekerja untuk datang kepada Syaikh dan menikmati suguhan hiburan.

Budak: “Astagfirullah.”

Ulama Fiqih: “Ssst.”

Masyarakat: “Siapa Anda wahai orang asing? Anda asik sekali.”

Ulama Fiqih: “Perkenalkan, nama Saya Ulama Tasawuf.”

Budak: “Astagfirullah.. Dusta Syaikh. Dusta!”

Ulama Fiqih: “Oh ya, perkenalkan ini adalah tuan Saya. Namanya Ulama Fiqih.”

Budak: “Astagfirullah..” (geleng-geleng kepala).

Ulama Fiqih: “Jika kalian ada kesulitan, kalian datanglah kepadanya. Dia akan memberikan nasehat yang terang lagi lurus. Walaupun kalian tidak suka.”

Budak: “Astagfirullah..”

Masyarakat memandang tidak suka kepada si Budak. Lantaran prilakunya yang menjauhkan mereka dari kemusyrikan dan kesenangan mereka. Namun masyarakat memandang kepada Ulama Fiqih. Karena menyenangkan. Menghilangkan sejenak beban hidup masyarakat dengan jalan yang dapat mereka terima.

Ulama Fiqih: “Baik kita lanjut dongengnya ya.”

Masyarakatpun senang. Selang waktu berjalan, jumlah audiens semakin banyak. Bahkan dari berbagai penjuru belahan bumi datang untuk mengikuti omong kosong Ulama Fiqih yang menghibur. Perlahan dongeng Ulama Fiqih menyerempet kepada hal-hal yang berbau akidah. Menghipnotis audiens untuk menertawakan kebiasaan-kebiasaan Syirik besar dan Syirik kecil mereka. Selang waktu berjalan, mereka menganggap omongan Ulama Fiqih terlalu banyak benarnya. Dusta, benar. Ngoceh, benar. Melawak juga benar. Ulama Fiqih berupaya mengedukasi mereka tentang ketuhanan, shalat sebagai selingan yang lebih baik dari kebiasaan mereka saat itu. Mulailah mereka datang satu persatu ke Surau yang hanya berupa seng sebagai atap dan batang kayu kecil sebagai penyangga. Mereka datang satu kali sehari, tanpa shalat lalu pulang.

Budak: “Astagfirullah..”

Selang waktu berjalan, mereka mulai menambah frekuensi dari satu menjadi dua kali sehari.

Budak: Mengelus jenggot.

Hingga akhirnya tiga kali sehari.

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah.”

Selang waktu berjalan Ulama Fiqih mengajarkan gerakan shalat sebanyak satu rakaat. Tanpa bacaan apapun.

Budak: “Astagfirullah.. Bid’ah.. Bid’ah.. Syaikh.”

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah.”

Selang waktu berjalan. Melihat gerakan shalat masyarakat polos sudah memenuhi rukun shalat walaupun mencla-mencle, Ulama Fiqih mulai menambah gerakan shalat dari satu menjadi dua rakaat.

Budak: Mengelus jenggot.

Lama kelamaan dari dua menjadi tiga. Lalu dari tiga menjadi empat.

Budak: Mengelus jenggot.

Lalu Ulama Fiqih mengajarkan jumlah rakaat yang sesuai dengan masing-masing waktu shalatnya.

Budak: Mengelus jenggot.

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah. Nah sekarang giliran kamu.”

Budak: “Apa ya Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Ajarkan orang-orang yang Saya pilih untuk belajar bacaan shalat. Belajar wudhu. Pakaian yang memenuhi rukun shalat bagi wanita dan pria. Dan lainnya yang kamu rasa masuk ke dalam rukun dan wajib.”

Budak: “Baik ya Syaikh. Insya Allah.”

Lalu orang-orang terpilih tadi dipisah dan diberi edukasi lebih. Tidak lagi secara dongeng, namun langsung kepada kitab. Perlahan tapi menyakitkan mereka mulai meninggalkan berhala. Meninggalkan sutra, zina, khamr, musik. Sementara, masyarakat pada maqom yang lebih berada di bawah, tidak dipaksa. Tetap dibiarkan namun dengan afirmasi bawah sadar media dakwah orang-orang fasik dengan konten edukasi Islam serta dengan etika dakwah yang baik.

Ulama Fiqih: “Kalian orang-orang terpilih. Belajarlah kepada tuan Saya, Ulama Fiqih. Contohlah dia dalam masalah beribadah, muamalah. Ajarkan kepada masyarakat yang meminta untuk diajarkan. Berlakulah sederhana dalam beribadah. Dan jangan memaksakan ibadah, kepada siapapun.”

Budak: “Astagfirullah.. Dusta Syaikh dusta! Nama Saya Budak. Bukan Ulama Fiqih”

Ulama Fiqih: “Menurut Saya, kamu adalah Ulama Fiqih. Kamu lebih cocok ganti nama jadi Ulama Fiqih. Supaya nama kita tidak sama, Saya mau ganti nama jadi Ulama Bid’ah. Jangan, jangan. Jangan ada kata Ulama pada Saya, menodai konotasi makna ulama dan membahayakan masyarakat. Ubaru saja. Nama Saya Ubaru. Dan kamu sekarang Saya merdekakan.”

Ubaru menikah. Memiliki keturunan. Ubaru meninggal. Dan keturunan itu dewasa. Keturunan yang tidak diajarkan praktik-praktik bid’ah itu mendengar cerita tentang Orang Tuanya di masa lalu. Bermaksud ingin menghormati, keturunan tersebut mencoba melestarikan kebiasaan orang tuanya di masa musyrik.

Ulama Fiqih: “Stop. Kamu jangan pegang alat-alat itu. Ada hal yang mungkin belum kamu mengerti. Ini sudah bukan masanya. Maqom Bapakmu pada masa itu berbeda dengan kita. Ada tugas lain yang kurang pas dalam kaca mata Syari’at Islam pada masa itu yang mengharuskan Bapakmu melakukannya. Akidah adalah prihal yang saaangat fundamental. Bapakmu ketika itu memperjuangkan hidayah, edukasi iman yang sebesar biji sawi kepada masyarakat yang sama sekali tidak mengerti tentang Islam. Karena dosa apapun Allah ampuni, kecuali Syirik. Akidah adalah prioritas, pertama dan utama. Amal dinilai tergantung dari niat. Jadi mereka yakin akan ampunan Allah dan memutuskan menempatkan diri mereka pada hal-hal yang membahayakan reputasi dan amal mereka demi keselamatan banyak orang. Pada masa itu sulit sekali media dakwah. Kamu berkata “Allah berfirman..”, “Rasulullah bersabda..” maka serentak tangan mereka menutupi telinga mereka, kamu dijauhi. Sedangkan masa sekarang sudah beda. Justru orang musyrik bisa dikatakan ketinggalan zaman. Karena berburu hidayah sekarang semudah pegang smartphone, buka youtube atau google, tulis bukti adanya Allah, atau fakta ilmiah dalam al-Qur’an, atau bukti kebenaran al-Qur’an, atau bukti adanya akhirat secara ilmiah, atau bukti adanya akhirat dalam Islam. Apapun yang mereka ingin tau tinggal searching saja. Jadi kamu pegang alat-alat itu, kurang tepat. Tidak pada maqomnya. Tidak begitu menjanjikan efektifitas dakwah. Dan bukan zamannya.”

Anak Ubaru: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Cara cinta orang tua dan nenek moyang bukan membudayakan bid’ah yang terpaksa mereka lakukan pada zamannya, atau karena kebodohan yang saling tertular di antara mereka pada masa itu. Tapi budayakan doa kepada orang tua. Budayakan mendoakan mu’min dan muslim. Doakan ampunan. Karena hajat mereka para Ulama, para Aulia Allah pada masa apapun, adalah keselamatan diri dan umat. Yang mereka butuhkan sekarang adalah ampunan dan amal yang diterima. Amal yang berat tapi juga nggak bocor. Supaya sampai ke derajat yang lebih baik. Bukan dosa jariah berupa mencontoh praktik bid’ah.”

Anak Ubaru: “Baik.”

Lantaran pada periode Anak Ubaru banyak kondisi masyarakat sudah berubah. Tidak lagi cenderung kepada kesyirikan yang besar. Namun masyarakat dirusak oleh tontonan anak-anak, remaja dan dewasa. Menjadikan anak-anak membunuh waktu dengan hal-hal yang tidak bernilai, tidak menambah ilmu dan menunda sifat dewasa mereka hingga melewati usia yang sepantasnya. Menjadikan hegemoni di mana hal-hal yang sebenarnya salah, menjadi diterima. Dan dari diterima menjadi disukai. Dari disukai menjadi budaya. Dari budaya menjadi candu. Ulama Fiqih menggulung lengan baju.

Anak Ubaru: “Mau ngapain ya Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Mau belajar melukis dan mematung makhluk hidup secara digital, mau belajar bersyair, mau mendongeng, mau sedikit main riba, mau belajar musik, mau main ilegal sedikit, mau bikin video animasi dan kartun anak-anak yang berkualitas dan berjangka akhirat.”

Anak Ubaru: “Astagfirullah.. Munafik ya Syaikh. Harooom! Harooom! Bid’ah!”

 

–oO Tamat Oo–

 

Salah satu pesan pada tulisan ini adalah tidak selamanya HAL yang benar itu selalu dapat disentuh oleh CARA yang benar. Baik-baik sangkalah kepada orang baik dengan itikat membawa perubahan baik. Karena boleh jadi yang merasa benar, hanya untuk kemaslahatan diri sendiri. Sementara yang dianggap salah, untuk kemaslahatan banyak orang. Namun kalau memang pilihan melakukan hal baik, benar, serta membawa kemaslahatan untuk banyak orang, bisa jadi “Plan A”, kenapa harus dijadikan “Plan B”.