CINTA NENEK MOYANG

Al kisah fiktif. Pada satu waktu di masa lampau. Hiduplah segelintir manusia polos. Polos, tapi hidup. Manusia dengan budi pekerti luhur. Dengan akhlak di atas normal. Dengan adab level super teladan. Namun sayang. Musyrik. Untuk hiburan, mereka lebih menyukai dongeng-dongeng musyrik, lagu-lagu yang mengiyakan kegalauan hati yang sebenarnya memperpanjang kegalauannya, karya dua dimensi yang membangkitkan syahwat lagi melalaikan dari hal-hal bermanfaat, patung-patung makhluk hidup non tumbuhan yang tidak disembah secara terang-terangan namun disembah dengan cara takjub secara mendalam akan karya tangan dengan detail dan kesempurnaannya saat melemparkan pandangan terhadapnya. Mereka menyukai emas, sutra, dan baju merah polos bagi laki-laki. Baju terbuka yang mempertegas ‘perhiasan’ dan perhiasan wanita. Minuman, makanan, serbuk, cairan dan asap yang memabukkan. Memabukkan dengan tanpa disadari, lagi adiktif. Berkumpul bersama lawan jenis yang belum terikat secara sah. Melakukan hubungan intim sebelum menikah dengan alasan test drive dan cek segel. Dan aneka aktifitas yang disangka baik dan benar karena dirasa nyaman.

Adalah jagoan bernama Ulama Fiqih yang diiringi budaknya,

Budak: “Sedang apa Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Bikin pakaian sutra, wayang bohay, khamr, ukulele.”

Budak: “Astagfirullah.. Harooom! Syaikh harooom! Munafik Syaikh. Anda Ulama Fiqih!”

Ulama Fiqih: “Siapa yang bilang ini halal?”

Budak: “Munafik Syaikh.. Anda Ulama Fiqih..”

Ulama Fiqih: “Baiklah. Saya munafik. Sekarang Saya minta tolong, ajak segelintir manusia polos di sana untuk masuk Islam secara menyeluruh. Hmm.. Jangan, terlalu berat. Buat mereka mau datang ke bangunan tak berdinding dengan atap seng ini saja di waktu adzan.”

Budak: “Surau ini?”

Ulama Fiqih: “Ya.”

Budak: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Saya beri kamu waktu satu bulan.”

Budak: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Oh, jangan mereka. Satu orang saja. Satu kali saja dalam sebulan. Jangan lupa, etika dakwah. Mengajak bukan mengejek.”

Budak: “Baik.”

Satu bulan kemudian,

Ulama Fiqih: “Bagaimana budakku? Kenapa satu orangpun nggak ada yang datang ke sini?”

Budak: “Saya sudah mendakwahi mereka ya Syaikh. Dengan etika dakwah yang baik. Tapi nihil. Yang mereka lakukan hanya menutup telinga jika melihat Saya.”

Ulama Fiqih: “Hahaha..”

Lalu Syaikh mengambil sutra, wayang, khamr dan ukulelenya. Bergegas menuju masyarakat polos. Sesampainya di sana, Beliau duduk. Dan mulai memainkan cerita-cerita yang menggambarkan situasi kondisi masyarakat polos setempat. Hingga masyarakat yang mengikuti hiburan yang disuguhkan Syaikh merasa ‘orang ini aku banget’. Merasa cocok, individu mengajak kumpulan-kumpulannya yang sedang tidak bekerja untuk datang kepada Syaikh dan menikmati suguhan hiburan.

Budak: “Astagfirullah.”

Ulama Fiqih: “Ssst.”

Masyarakat: “Siapa Anda wahai orang asing? Anda asik sekali.”

Ulama Fiqih: “Perkenalkan, nama Saya Ulama Tasawuf.”

Budak: “Astagfirullah.. Dusta Syaikh. Dusta!”

Ulama Fiqih: “Oh ya, perkenalkan ini adalah tuan Saya. Namanya Ulama Fiqih.”

Budak: “Astagfirullah..” (geleng-geleng kepala).

Ulama Fiqih: “Jika kalian ada kesulitan, kalian datanglah kepadanya. Dia akan memberikan nasehat yang terang lagi lurus. Walaupun kalian tidak suka.”

Budak: “Astagfirullah..”

Masyarakat memandang tidak suka kepada si Budak. Lantaran prilakunya yang menjauhkan mereka dari kemusyrikan dan kesenangan mereka. Namun masyarakat memandang kepada Ulama Fiqih. Karena menyenangkan. Menghilangkan sejenak beban hidup masyarakat dengan jalan yang dapat mereka terima.

Ulama Fiqih: “Baik kita lanjut dongengnya ya.”

Masyarakatpun senang. Selang waktu berjalan, jumlah audiens semakin banyak. Bahkan dari berbagai penjuru belahan bumi datang untuk mengikuti omong kosong Ulama Fiqih yang menghibur. Perlahan dongeng Ulama Fiqih menyerempet kepada hal-hal yang berbau akidah. Menghipnotis audiens untuk menertawakan kebiasaan-kebiasaan Syirik besar dan Syirik kecil mereka. Selang waktu berjalan, mereka menganggap omongan Ulama Fiqih terlalu banyak benarnya. Dusta, benar. Ngoceh, benar. Melawak juga benar. Ulama Fiqih berupaya mengedukasi mereka tentang ketuhanan, shalat sebagai selingan yang lebih baik dari kebiasaan mereka saat itu. Mulailah mereka datang satu persatu ke Surau yang hanya berupa seng sebagai atap dan batang kayu kecil sebagai penyangga. Mereka datang satu kali sehari, tanpa shalat lalu pulang.

Budak: “Astagfirullah..”

Selang waktu berjalan, mereka mulai menambah frekuensi dari satu menjadi dua kali sehari.

Budak: Mengelus jenggot.

Hingga akhirnya tiga kali sehari.

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah.”

Selang waktu berjalan Ulama Fiqih mengajarkan gerakan shalat sebanyak satu rakaat. Tanpa bacaan apapun.

Budak: “Astagfirullah.. Bid’ah.. Bid’ah.. Syaikh.”

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah.”

Selang waktu berjalan. Melihat gerakan shalat masyarakat polos sudah memenuhi rukun shalat walaupun mencla-mencle, Ulama Fiqih mulai menambah gerakan shalat dari satu menjadi dua rakaat.

Budak: Mengelus jenggot.

Lama kelamaan dari dua menjadi tiga. Lalu dari tiga menjadi empat.

Budak: Mengelus jenggot.

Lalu Ulama Fiqih mengajarkan jumlah rakaat yang sesuai dengan masing-masing waktu shalatnya.

Budak: Mengelus jenggot.

Ulama Fiqih: “Alhamdulillah. Nah sekarang giliran kamu.”

Budak: “Apa ya Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Ajarkan orang-orang yang Saya pilih untuk belajar bacaan shalat. Belajar wudhu. Pakaian yang memenuhi rukun shalat bagi wanita dan pria. Dan lainnya yang kamu rasa masuk ke dalam rukun dan wajib.”

Budak: “Baik ya Syaikh. Insya Allah.”

Lalu orang-orang terpilih tadi dipisah dan diberi edukasi lebih. Tidak lagi secara dongeng, namun langsung kepada kitab. Perlahan tapi menyakitkan mereka mulai meninggalkan berhala. Meninggalkan sutra, zina, khamr, musik. Sementara, masyarakat pada maqom yang lebih berada di bawah, tidak dipaksa. Tetap dibiarkan namun dengan afirmasi bawah sadar media dakwah orang-orang fasik dengan konten edukasi Islam serta dengan etika dakwah yang baik.

Ulama Fiqih: “Kalian orang-orang terpilih. Belajarlah kepada tuan Saya, Ulama Fiqih. Contohlah dia dalam masalah beribadah, muamalah. Ajarkan kepada masyarakat yang meminta untuk diajarkan. Berlakulah sederhana dalam beribadah. Dan jangan memaksakan ibadah, kepada siapapun.”

Budak: “Astagfirullah.. Dusta Syaikh dusta! Nama Saya Budak. Bukan Ulama Fiqih”

Ulama Fiqih: “Menurut Saya, kamu adalah Ulama Fiqih. Kamu lebih cocok ganti nama jadi Ulama Fiqih. Supaya nama kita tidak sama, Saya mau ganti nama jadi Ulama Bid’ah. Jangan, jangan. Jangan ada kata Ulama pada Saya, menodai konotasi makna ulama dan membahayakan masyarakat. Ubaru saja. Nama Saya Ubaru. Dan kamu sekarang Saya merdekakan.”

Ubaru menikah. Memiliki keturunan. Ubaru meninggal. Dan keturunan itu dewasa. Keturunan yang tidak diajarkan praktik-praktik bid’ah itu mendengar cerita tentang Orang Tuanya di masa lalu. Bermaksud ingin menghormati, keturunan tersebut mencoba melestarikan kebiasaan orang tuanya di masa musyrik.

Ulama Fiqih: “Stop. Kamu jangan pegang alat-alat itu. Ada hal yang mungkin belum kamu mengerti. Ini sudah bukan masanya. Maqom Bapakmu pada masa itu berbeda dengan kita. Ada tugas lain yang kurang pas dalam kaca mata Syari’at Islam pada masa itu yang mengharuskan Bapakmu melakukannya. Akidah adalah prihal yang saaangat fundamental. Bapakmu ketika itu memperjuangkan hidayah, edukasi iman yang sebesar biji sawi kepada masyarakat yang sama sekali tidak mengerti tentang Islam. Karena dosa apapun Allah ampuni, kecuali Syirik. Akidah adalah prioritas, pertama dan utama. Amal dinilai tergantung dari niat. Jadi mereka yakin akan ampunan Allah dan memutuskan menempatkan diri mereka pada hal-hal yang membahayakan reputasi dan amal mereka demi keselamatan banyak orang. Pada masa itu sulit sekali media dakwah. Kamu berkata “Allah berfirman..”, “Rasulullah bersabda..” maka serentak tangan mereka menutupi telinga mereka, kamu dijauhi. Sedangkan masa sekarang sudah beda. Justru orang musyrik bisa dikatakan ketinggalan zaman. Karena berburu hidayah sekarang semudah pegang smartphone, buka youtube atau google, tulis bukti adanya Allah, atau fakta ilmiah dalam al-Qur’an, atau bukti kebenaran al-Qur’an, atau bukti adanya akhirat secara ilmiah, atau bukti adanya akhirat dalam Islam. Apapun yang mereka ingin tau tinggal searching saja. Jadi kamu pegang alat-alat itu, kurang tepat. Tidak pada maqomnya. Tidak begitu menjanjikan efektifitas dakwah. Dan bukan zamannya.”

Anak Ubaru: “Baik.”

Ulama Fiqih: “Cara cinta orang tua dan nenek moyang bukan membudayakan bid’ah yang terpaksa mereka lakukan pada zamannya, atau karena kebodohan yang saling tertular di antara mereka pada masa itu. Tapi budayakan doa kepada orang tua. Budayakan mendoakan mu’min dan muslim. Doakan ampunan. Karena hajat mereka para Ulama, para Aulia Allah pada masa apapun, adalah keselamatan diri dan umat. Yang mereka butuhkan sekarang adalah ampunan dan amal yang diterima. Amal yang berat tapi juga nggak bocor. Supaya sampai ke derajat yang lebih baik. Bukan dosa jariah berupa mencontoh praktik bid’ah.”

Anak Ubaru: “Baik.”

Lantaran pada periode Anak Ubaru banyak kondisi masyarakat sudah berubah. Tidak lagi cenderung kepada kesyirikan yang besar. Namun masyarakat dirusak oleh tontonan anak-anak, remaja dan dewasa. Menjadikan anak-anak membunuh waktu dengan hal-hal yang tidak bernilai, tidak menambah ilmu dan menunda sifat dewasa mereka hingga melewati usia yang sepantasnya. Menjadikan hegemoni di mana hal-hal yang sebenarnya salah, menjadi diterima. Dan dari diterima menjadi disukai. Dari disukai menjadi budaya. Dari budaya menjadi candu. Ulama Fiqih menggulung lengan baju.

Anak Ubaru: “Mau ngapain ya Syaikh?”

Ulama Fiqih: “Mau belajar melukis dan mematung makhluk hidup secara digital, mau belajar bersyair, mau mendongeng, mau sedikit main riba, mau belajar musik, mau main ilegal sedikit, mau bikin video animasi dan kartun anak-anak yang berkualitas dan berjangka akhirat.”

Anak Ubaru: “Astagfirullah.. Munafik ya Syaikh. Harooom! Harooom! Bid’ah!”

 

–oO Tamat Oo–

 

Salah satu pesan pada tulisan ini adalah tidak selamanya HAL yang benar itu selalu dapat disentuh oleh CARA yang benar. Baik-baik sangkalah kepada orang baik dengan itikat membawa perubahan baik. Karena boleh jadi yang merasa benar, hanya untuk kemaslahatan diri sendiri. Sementara yang dianggap salah, untuk kemaslahatan banyak orang. Namun kalau memang pilihan melakukan hal baik, benar, serta membawa kemaslahatan untuk banyak orang, bisa jadi “Plan A”, kenapa harus dijadikan “Plan B”.

Iklan

DAUGHTER

(Warning. Artikel ini hanya berisi GAGASAN konsep ideal solusi asmara, finansial & sosial kehidupan remaja Indonesia zaman sekarang MENURUT SAYA. Jadi jika Anda merasa berkeberatan dengan gagasan, cara penyampaian tulisan Saya di bawah, adalah langkah bijaksana bagi Anda untuk melakukan kritik dan saran yang membangun, tinggalkan, dan coba napak tilas petunjuk-petunjuk tiga periode emas.)

Al kisah fiktif dan hiperbola. Hiduplah seorang wanita dengan cita-cita duniawi yang sangat tinggi. Dengan hobi wisata hati. Berwisata dari hati ke hati. Mencari dan mencari. Yang terbaik dari yang terbaik. Yang tercocok dari yang cocok. Memasuki hati, melekat, meniggalkan, lalu membiarkannya porak-poranda.

Baca lebih lanjut

KAROMAH TERBAIK

Al kisah fiktif. Dua orang bersahabat. Bernama Bapak Nyaris Berguna (BaNyaBe) dan Bapak Yang Berfungsi (BaYaBe). Bak pinang dibelah dua, keduanya memiliki kemiripan di segala lini kelebihan, juga keduanya memiliki hubungan yang baik. Walaupun hubungan mereka baik, namun mereka memiliki prinsip dan kehidupan yang sangat kontras. BaNyaBe memiliki prinsip “yang penting bahagia”. Sementara BaYaBe memiliki prinsip “yang penting selamat”.

Baca lebih lanjut

Mustahik DB

Anumen: “Jadi 2019 ganti jok kah bagusnya?”

Wolesmen: “Terserah. Mau Pak Wi kah, Pak Wo kah, Pak Bas kah, Pak Gus kah, Pak Nur kah, Pak Anonim kah.. Sama aja.”

Anumen: “Loh kok bisa sama?”

Wolesmen: “Sama-sama nggak kenal, hahhhahhh.”

Anumen: (-_-), “Nggak lucu.”

Lalu tiba-tiba Masjid kebanjiran sumbangan makanan yang apabila tidak habis dibagikan dan tidak dipanaskan, besok akan basi. Sebagaimana biasa, makanan didistribusikan sebatas langganan. Beberapa fakir yang pemalu, tidak meminta-minta, tidak menonjolkan kemiskinannya dan tidak dikenal sebagai orang fakir, tidak mendapat hak nya.
Baca lebih lanjut

SOLUSI LISENSI OS

Daftar Isi
- Pilih Haram atau Haram?
- Opensource & Multiplatform
- Bos
- StartUp

 

Polosan: “Saya terima nikahnya Fulanwati binti Bapaknya Fulanwati dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang tunai sekian-sekian rupiah haram dibayar tunai.”

Saksi Polos1: “Tsssahhh!”

Saksi Polos2: “Tsssahhh!”

Audiens Polos: “Tsssahhh!”

Penghulu Polos: “Sah.”

Polosan: “Alhamdulillah..”
Baca lebih lanjut